Posted by: taufiksabirin | June 19, 2009

PEMBELAJARAN KONTEKTUAL

PEMBELAJARAN KONTEKTUAL

( CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)

( CTL )

Taufik Sabirin

Guru SMA Negeri 1 Batang Anai

Kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat.

A. PENDAHULUAN

Ada kecendrungan pemikiran dewasa ini bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, seperti keberhasilan dalam menyelesaikan ujian dan memenangkan lomba cerdas cermat, yang hanya membutuhkan pengetahuan sesaat. Tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan kehidupan jangka panjang. Anak tidak mampu mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh dibangku sekolah kedalam dunia nyata pada kehidupan kesehariaanya.

Pembelajaran Kontektual ( Contextual Teaching and Learning / CTL ) merupakan suatu konsep yang membantu pendidik mengaitkan content/materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik membangun hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan kesehariaanya sebagai anggota keluarga, masyarakat, warga negara dan dunia kerja. ( US Departement of educational and national school-to-work office yang dikutip oleh Muhd. Nur. 2001).

Pembelajaran Kontektual ( CTL ) adalah pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk mengaitkan, memperluas dan menerapkan pengetahuan serta keterampilkan mereka dalam berbaqgai macam tatanan kehidupan di sekolah dan di luar sekolah, untuk memecahkan masalah-masalah dunia nyata dan masalah-masalah yang disimulasikan.

Dengan pembelajaran kontektual ini, hasil pembelajaran diharapkan akan lebih menyenangkan dan bermakna oleh peserta didik, dan tugas guru mengelola kelas, mendorong dan memfasilitasi peserta didik untuk menemukan sesuatu bagi anggota kelas. Dalam pembelajaran peserta didik lebih banyak aktif dan lebih bebas berkreasi mengemukan ide dan pendapat sehingga diperoleh pengetahuan dan keterampilan dari menemukan bukan dari apa kata guru.

B. PEMIKIRAN TENTANG BELAJAR.

Berbagai pemikiran tentang belajar telah dikemukakan oleh para pemikir dan ahli pembelajaran dari masa lalu sampai hari ini, kesemuanya mencari jalan bagai mana pembelajaran itu lebih bermakna. Ada beberapa konsep pembelajaran yang sudah sangat dikenal oleh pendidik dan pakar pendidikan seperti :

  1. Teori Belajar Jerome Bruner.

Teori belajar J. Bruner dikenal dengan teori belajar penemuan. Belajar penemuan merupakan usaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, sehingga mendapatkan pengetahuan yang benar-benar bermakna bagi dirinya. ( Psikologi Pendidikan Wasty Soemanto : 123 ).

  1. Teori Belajar Ausubel

Belajar menurut Ausubel adalah belajar bermakna. Belajar bermakna adalah proses pengaitan informasi baru dengan konsep-konsep relevan yang telah dimiliki peserta didik yang tersimpan dalam memori mereka.

  1. Teori Belajar Piaget.

Menurut Piaget ada tiga bentuk pengetahuan pada seseorang, yaitu pengetahuan fisik, logika-matematika, dan pengetahuan social. Pengetahuan social dapat ditransfer dari pendidik ke peserta didik, sedangkan pengetahuan fisik dan logika-matematik harus dibangun sendiri oleh peserta didik tersebut. ( Psikologi Pendidikan, Wasty Soemanto : 123 ).

Kesimpulan yang dapat ditarik dari tiga konsep pembelajaran di atas bahwa pendekatan Contextual Teaching and Learning ( CTL ), bukanlah konsep baru melainkan merupakan Re-invention ( modifikasi ) dari berbagai teori belajar yang sudah ada. Teori belajar ini dapat diterapkan berdasarkan penemuan yang bermakna baik dari transfer orang lain atau yang dibangun oleh peserta didik sendiri.

Pendekatan Contextual Teaching and Learning mendasarkan diri pada kecendrungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut :

1). Proses Belajar .

  • Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Peserta didik harus mengkonstruk pengetahuannya sendiri.
  • Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, bukan diberi begitu saja oleh guru.
  • Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang suatu persoalan.
  • Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisah menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
  • Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
  • Peserta didik perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
  • Proses belajar dapat merubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang.

2). Transfer Belajar.

  • Peserta didik belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain.
  • Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dalam kontek yang terbatas (sedikit demi sedikit).
  • Penting bagi peserta didik tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu.

3). Peserta Didik Sebagai Pebelajar.

  • Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru.
  • Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting.
  • Peran orang dewasa ( pendidik ) membantu menghubungkan yang baru dengan yang sudah diketahui.
  • Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan dan menerapkan strategi mereka sendiri.

4). Pentingnya Lingkungan Belajar.

  • Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada peserta didik. Pendidik memfasilitasi dan mengarahkan peserta didik bekerja dan menemukan.
  • Pembelajaran diarahkan pada bagaimana cara peserta didik menggunakan pengetahuan yang telah ada untuk menemukan pengetahuan baru. Stategi pembelajaran ini memberikan penilaian yang sama tentang proses penemuan pengetahuan baru dangan hasil temuan itu sendiri.
  • Umpan balik amat penting bagi peserta didik, dari proses penilaian yang benar dan menyeluruh.
  • Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.

C. HAKEKAT PEMBELAJARAN KONTEKTUAL

Menurut Branford ( 1999 :127 ) pembelajaran kontektual adalah: pembelajaran yang terjadi dalam hubungan erat dengan pengalaman yang sesungguhnya. Pembelajaran kontektual menekankan berfikir pada tingkat yang lebih tinggi, tranfer pengetahuan lintas disiplin, serta mengumpulkan, menganalisis, dan pensistesissan informasi dari berbagai sumber dan sudut pandang.

Pembelajaran kontektual adalah sebuah konsep pembelajaran yang mengaitkan atau menselaraskan antara content ( materi ajar ) dengan situasi dunia nyata peserta didik ( pengalaman awal, kehidupan sehari-hari, harapan dan cita-cita ) dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dengan penerapan dalam hidup keseharian.

Departemen Pendidikan Nasional ( Pendekatan kontektual : 5 ) menjelaskan konsep pembelajaran seperti ini hanya dapat direalisasikan dengan melibatkan 7 komponen utama pembelajaran efektif yakni :

  1. Constructivism ( konstruktivisme ).
  2. Quetioning ( bertanya )
  3. Inquery ( menemukan ).
  4. Learning Community ( masyarakat belajar ).
  5. Modelling ( pemodelan ).
  6. Reflection ( refleksi ).
  7. Autentics Asessments ( penilaian sebenarnya ).

Constructivism ( konstruktivisme ).

Konstruktivisme merupakan landasan berfikir ( filosofi ) pendekatan Contextual Teaching and Learning. Pengetahuan dibangun oleh peserta didik sedikit demi sedikit, lalu hasilnya diperluas melalui kontek yang terbatas. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep ataupun kaedah yang siap untuk diambil dan ditrasfer. Peserta didik harus mengkonstruk sendiri pengetahuannya dan dimaknai melalui pengalaman nyata.

Pandangan Behavioristic dan objektivistic penekananya lebih pada hasil belajar, sedangkan constructivistic memandang proses dan strategi memperoleh pengetahuan dan keteampilan lebih diutamankan dari banyaknya peserta didik mengingat dan memperoleh pengetahuan jadi. Oleh karena itu peran pendidik lebih diutamakan untuk memfasilitasi dan memberikan kesempatan kepada peserta didik guna menemukan dan mengkonstruk pengetahuan dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

Questioning ( bertanya ).

Bertanya merupakan strategi utama dari pembelajaran yang berbasiskan CTL. Bertanya dalam proses pembelajaran dipandang sebagai kegiatan pendidik untuk mendorong, membimbing, mengarahkan dan menilai kemampuan berfikir peserta didik. Bagi peserta didik bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan proses pembelajaran disaat mengekplorasi dan meeloborasi materi ajar yang sedang dibahas.

Demikian juga dengan pembelajaran yang berbasis inquery bertanya memegang peran yang sangat penting dalam menggali informasi, mengkonfirmasi apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek-aspek yang belum diketahui.

Inquery ( menemukan )

Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontektual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik bukan merupakan hasil mengingat seperangkat konsep dan fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri konsep dan fakta tersebut. Pendidik harus merancang kegiatan pembelajaran yang merujuk pada kegiatan menemukan dan mengkonstruk pengetahuan baru.

Temuan itu mereka peroleh dari pengalaman belajar yang dirancang pendidik dengan menggunakan siklus inquery, yakni :

  1. Observation ( observasi ).
  2. Questioning ( bertanya ).
  3. Hipotesis ( mengajukan dugaan ).
  4. Data Gethering ( mengumpulkan data ).
  5. Conclussion ( penyimpulan ).

Learning Community ( masyarakat belajar ).

Dalam konsep Learning Commonity, hasil belajar akan lebih bermakna apabila diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharring dengan teman, antara kelompok, dan antra yang tahu dengan yang belum tahu, baik diruang kelas maupun diluar kelas.

Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada komunikasi dua arah. Dalam masyarakat belajar antara dua orang atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran, saling belajar. Seseorang yang terlibat dalam masyarakat belajar memberikan informasi yang dibutuhkan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang ia perlukan dari teman belajarnya.

Modelling ( pemodelan ).

Konsep pemodelan dalam pembelajaran adalah adanya model yang bisa ditiru dalam memahami pengetahuan dan keterampilan tertentu. Model dibutuhkan dalam mengoperasikan sesuatu, dalam mengerjakan sesuatu, dalam melafazkan ucapan atau bacaan tertentu. Guru bukanlah satu-satunya model, siswa atau tenaga dari luar dapat dijadikan model dalam proses pembelajaran.

Jika menggunakan model dari laur perlu menjadikan perhatian kemahiran, populeritas dan aspek-aspek lainnya yang menjadi perhatian peserta didik, karena model tersebut akan dijadikan standar kompetensi yang harus dikuasai peserta didik .

Reflection ( refleksi )

Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. Peserta didik mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru ( skemata baru ) yang merupakan pengayaan atau revisi atau menganti sama sekali pengetahuan sebelumnya.

Refleksi merupan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang diterima. Misalnya : ketika proses pembelajaran berakhir Amir salah seorang peserta didik merenung, kalau begitu cara bapak saya mengeluarkan zakat selama ini kurang tepat, mestinya apa bila bapak saya mengeluarkan zakat dengan cara yang baru saya diskusikan dalam proses pembelajaran ini, tentu jumlah fkir-miskin di kampung saya sudah jauh berkurang”.

Pengetahuan yang bermakna diperoleh melalui proses pembelajaran apa bila peserta didik mengalami lansung kejadian yang sebenarnya, atau situasi yang disimulasi oleh pendidik seperti keadaan yang sesungguhnya. Pengetahuan itu yang dimiliki akan diperluas oleh peserta didik sedikit-demi sedikit sesuai dengan kontek. Guru membantu peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan begitu peserta didik merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya dari apa yang baru ia pelajari.

Authentics Assesment ( penilai yang sebenarnya )

Assesment adalah proses pengumpulan data dan informasi yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar peserta didik. Data dan informasi yang dikumpulkan tersebut diperoleh dari kegiatan nyata yang dilkukan peserta didik dalam proses pembelajaran baik di dalam ataupun diluar kelas. Inilah yang disebut data authentics.

Pendekatan kontektual penekanan penilaiannya ada pada proses bukan banyaknya hasil yang diperoleh akhir kegiatan pembelajaran. Pendekatan kontektual penekanan penilaiannya pada proses bukan banyaknya hasil yang diperoleh pada akhir priode pembelajaran. Pendekatan kontektual adalah upaya membantu peserta didik agar mampu mempelajari ( learning how to learn), dan juga bukan dimaknai bahwa hasil belajar tidak perlu, tetapi proses memperoleh hasil, berbanding sejajar dengan hasil yang diperoleh.

D. MENYUSUN RENCANA PEMBELAJAR AN BERBASIS KONTEKTUAL.

Rancangan program pembelajaran berbasis kontektual, adalah merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang pendidik , yang berisikan skenaryo tahap demi tahapan tetang apa yang akan dialami peserta didik dalam proses pembelajaran tema/topic yang akan dipelajari. Dalam program tercermin, identitas, standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai, indicator ketercapaian, tujuan pembelajaran, materi esensial, pendekatan, metoda dan teknik yang digunakan, langkah-langkah kegiatan, sumber belajar, media dan alat bantu belajar, dan system penilaian proses dan hasil belajar.

Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format, antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontektual. Sekali lagi yang berbeda hanya penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai ( jelas dan operasional ), sedangkan program pembelajaran yang berbasis kontektual lebih menekankan pada skenaryo pembelajaran.

Langkah-langkah kerja pendidik dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP ) berbasis kontektual adalah sebagai berikut : 

  1. Menganalisis standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD).
  2. Merumuskan indicator pencapaian kompetensi.
  3. Menetapkan tujuan pembelajaran.
  4. Memilih materi esensial yang menjembatani pencapaian kompetensi.
  5. Menetapkan pendekatan, metoda dan teknik pembelajaran yang akan digunakan.
  6. Menetapkan sumber belajar, media dan alat bantu belajar yang akan digunakan.
  7. Menentukan langkah-langkah kegiatan dalam proses pembelajaran.
  8. Merancang sistem penilaian proses dan hasil belajar.
  9. Merumuskan instumen penilaian yang akan digunakan.

E. PENUTUP.

Persoalan yang paling serius yang dihadapi oleh dunia pendidikan kita dewasa ini adalah persoalan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Belum standarnya kompetensi guru, rendahnya tingkat profesionalitas, rendahnya motivasi kerja, ketidak mampuan guru mengabgret dirinya, dan belum bangganya seorang guru memiliki profesi guru. Banyak hal yang telah dilakukan pemerintah, seperti: sertifikasi guru, pendidikan dan pelatihan dan melahirkan UU guru dan dosen, tetapi semuanya hilang bak ditelan malam.

Dilain pihak guru adalah orang yang berada dilini terdepan dalam proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Sebagus apapun kurikulum, selengkap apapun fasilitas, jika berada ditangan guru yang tidak profesional tidak akan bermakna apa-apa.

Stephen.R.Covey (2005) mengatakan, antara rangsangan dan tanggapan terdapat sebuah ruang. Diruang itu terdapat kebebasan dan kemampuan kita untuk memilih tanggapan. Dalam pilihan-pilihan kita terdapat perkembangan dan kebahagian kita. Apabila kita mendasari pilihan dengan warisan kebiasaan dan keberhasilan masa lalu, maka ia akan mempersempit ruang yang ada, karena kondisi kekinian bergerak jauh lebih cepat dari apa yang kita pikirkan.

Apabila hari ini kita ditentukan oleh masa lalu, apakah masa depan kita masih akan ditentukan oleh masa lalu ?. Wilayah cakupan apa yang kita pikirkan dan kita kerjakan dibatasi oleh apa yang tidak kita ketahui. Dan karena itu tidak berhasil mengetahui apa-apa yang tidak berhasil kita ketahui, hanya sedikit hal yang dapat kita lakukan terhadap perubahan; sampai kita mengetahui bagaimana kegagalan untuk mengetahui itu membentuk pikiran dan perbuatan kita.

Peningkatan mutu pendidikan harus kita mulai hari ini dan dari diri kita sendiri, kalau tidak kita akan digilas oleh pikiran dan angan-angan kita sendiri, dan ia akan makin jauh meninggalkan kita, tampa mungkin kita kejar hanya dengan merenung dan berangan-angan. Mari kita berbuat dan berbuat sebagai warisan untuk anak-cucu kita kelak dikemudian hari


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: