Posted by: taufiksabirin | January 30, 2009

TEAM TEACHING

TEAM TEACHING MENINGKTKAN

KUALITAS PROSES PEMBELAJARAN DI KELAS

Oleh Drs. Taufik Sabirin, M.Pd.

http://taufiksabirin.wordpress.com

 

  1. Pendahuluan

 

               Kualitas hasil belajar ditentukan oleh kualitas proses pembelajaran. Ada beberapa fenomena menarik yang terjadi di sekolah-sekolah kita pada beberapa tahun terakhir ini yang perlu kita cermati bersama. Kompetensi yang diajarkan oleh guru dan dibahas bersama dalam suatu proses pembelajaran pada beberapa minggu yang lalu, kemudian dievaluasi dan didapatkan data lebih dari 85% peserta didik dinyatakan  tuntas dengan predikat baik dan amat baik. Tetapi apa bila kompetensi itu diuji kembali hari ini lebih dari separoh peserta didik yang telah tuntas tersebut bingung dan tidak dapat mengerjakan soal-soal yang diberikan. Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh oleh peserta didik dari proses pembelajaran yang dilaksanakan tidak mampu bertahan lama.

               Banyak peserta didik yang mampu menyelesaikan soal dalam bentuk esay dan objektif tetapi mereka akan bingung, apa bila soal tersebut dirancang dalam bentuk kasus pada konsep keilmuan yang sama. Banyak juga peserta didik yang mampu memahami dan menguasai konsep-konsep tertentu tetapi mereka tidak mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Apa lagi jika kita menuntut peserta didik bersikap dan bertingkahlaku sesuai dengan apa yang mereka tahu dan apa yang mereka bias.

               Banyak lagi fenomena lain yang kita temui dilapangan seperti rendahnya tingkat daya serap, dan rendahnya kriteria ketuntasan minimal yang disepakati oleh guru dengan  peserta didik. Semua persoalan diatas berawal dari kualitas proses pembelajaran yang tidak maksimal.

               Tingkat kualitas suatu  proses pembelajaran ditentukan oleh bergai faktor, antara lain :peserta didik itu sendiri, kurikulum, daya dukung fasilitas yang tersedia, guru, orang tua dan masyarakat. Namun demikian guru adalah orang yang berada pada lini terdepan dalam menentukan kualitas suatu proses pembelajaran. Sebagus apapun kurikulum dan selengkap apapun fasilitas pembelajaran, tidak akan bermakna apa-apa jika berada ditangan guru yang tidak berkualitas.

               Team Teaching sebagai salah satu model pembelajaran disamping, model soliter dan lesson study, jika dilaksanakan dengan konsep dan prosedur menurut semestinya akan mampu meningkat kualitas proses pembelajaran di kelas.

 

  1. Team Teaching Sebagai Model Pembelajaran.

               Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) peran guru untuk dapat mengimplementasikan dan mengembangkan kurikulum tampaknya bukan hal yang sederhana. Guru dituntut untuk dapat memenuhi sejumlah prinsip pembelajaran tertentu, diantaranya guru harus memperhatikan kebutuhan dan perbedaan individual, mengembangkan model dan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa dalam proses pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan ( PAKEM ), serta menilai proses dan hasil pembelajaran secara akurat,seimbang dan berkesinabungan
              Untuk dapat mengimplementasikan kurikulum dengan baik tampaknya masih ditemukan berbagai kendala, seperti persoalan rendahnya motivasi guru untuk meningkatkan  kemampuanya dan keterbatasan sarana pembelajaran yang tersedia di sekolah. Semua itu menuntut guru untuk dapat mengelola pembelajaran dan mengembangkan model-model dan strategi pembelajaran yang lebih tepat dan sesuai.

                Selama ini pada umumnya model pembelajaran yang dikembangkan di sekolah cenderung dilakukan secara soliter. Dalam arti, pengelolaan pembelajaran menjadi tanggung jawab guru secara individual, baik dalam merencanakan, melaksanakan, maupun mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran. Ketika dihadapkan dengan tuntutan kurikulum yang sangat kompleks dan kondisi nyata yang kurang kondusif, guru seringkali menjadi tidak berdaya dan memiliki keterbatasan untuk dapat mengimplementasikan kurikulum sesuai dengan apa yang diharapkan dan digariskan dalam ketentuan yang ada.

               Dalam hal ini, model pembelajaran Team Teachjng tampaknya bisa dijadikan sebagai alternatif untuk mengatasi permasalahan yang ada. Team Teaching merupakan salah satu model pembelajaran yang melibatkan dua orang guru atau lebih dalam pengelolaan proses pembelajaran, dengan pembagian peran dan tanggung jawab secara jelas dan seimbang. Melalui model pembelajaran Team Teaching diharapkan antar mitra dapat bekerja sama dan saling melengkapi dalam mengelola proses pembelajaran. Setiap permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran dapat diatasi secara bersama-sama.

               Model pembelajaran team teaching diharapkan mampu untuk menopang sisi lemah yang dimiliki guru secara individu, oleh mitranya dalam tim. Sebagai seorang individu guru tentu tidak mungkin untuk bisa sempurna, ia akan bias oleh masalah-masalah  yang ada dalam diri dan lingkungannya. Disamping itu model pembelajaran team teaching dapat dijadikan sebagai media untuk melatih dan meningkatkan kemampuan guru dalam pengelolaan proses pembelajaran.

               Soewalni.S (2007) mengatakan model pembelajaran  team teaching dapat dibagi pada dua macam yakni : semi team teaching dan team teaching penuh. Semi team teaching; guru tidak sepenuhnya bekerja dalam tim, ada bagian-bagian operasional  yang dilaksanakan secara individu, tetapi konsep disepakati dan dirancang bersama. Sedangkan team teaching penuh, semua aspek dilaksanakan secara tim, mulai dari merancang, menyusun perencanaan, melaksanakan, mengevaluasi dan merevisi program dilaksanakan secara tim.

 

C.    Pelaksanaan Team Teaching.

               Pelaksanaan model pembelajaran team teaching dapat dilakukan melalui beberapa prosedur dan tahapan kegiatan. Dimulai dengan tahapan awal atau tahapan persiapan. Pada tahapan ini ditetapkan jumlah anggota tim, dua orang atau lebih. Anggota tim merupakan guru mata pelajaran yang sama dengan kewenangan atau memiliki bidang keahlian yang sama, kerena anggota tim merupakan mitra kesetaraan. Masing-masing  anggota tim memiliki kewenangan dan tanggung jawab yang sama dalam mengelola proses pembelajaran.

               Anggota tim harus membangun komitmen dan tekat yang sama untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang diampunya. Kemudian mereka juga harus memiliki pemahaman yang sama bahwa kosep model pembelajaran team teaching ini merupakan wadah untuk peningkatan kemampuan profesionalisme dan skil keguruan yang dimiliki. Setelah semua anggota tim memiliki pemahaman dan bahasa yang sama barulah langkah berikutnya dapat dilanjutkan.

      

1.      Merencanakan Pembelajaran.

               Model pembelajaran team teaching menuntut  setiap anggota tim terlibat aktif secara penuh dalam menyusun rancangan pembelajaran. Dalam menyusun rancangan inilah persepsi anggota tim disatukan. Langkah awal adalah memahami dan menganalisis Standar Kompetensi ( SK ). Apakah Kompetensi Dasar ( KD ) yang tersedia telah mengakomodir semua amat SK?, Jika belum, maka anggota tim harus merumuskan KD tambahan untuk mengakomodirnya. Kemudian menetapkan dan merumuskan materi apa yang efesien dan efektif sebagai bahan pembelajaran yang dapat mengantarkan peserta didik untuk menguasai kompetensi yang telah ditetapkan, lalu dirumuskanlah indikator ketercapaian dan tujuan pembelajaran.

               Setelah seluruh konten penbelajaran ini dipahami, dirumuskan dan dikuasai anggota tim, maka ditetapkanlah pendekatan, metoda dan teknik pembelajaran yang akan digunakan, lengkap dengan media, sumber, alat bantu pembelajaran dan system evaluasi yang digunakan. Kemudian disusunlah perangkat pembelajaran dalam bentuk silabus dan Rencana Program Pembelajaran ( RPP ).

 

2.      Pelaksanaan Pembelajaran

               Dalam kegiatan pembelajaran peran guru  bukan mengajar tetapi membelajarkan peserta didik, karena pesesrta didik bukanlah wadah yang harus diisi, tetapi individu yang harus dikembangkan. Tugas guru adalah memotivasi, memfasilitasi dan membimbing peserta didik untuk belajar. Semakin termotivasi peserta didik untuk belajar, semakin aktif mereka dalam kegiatan pembelajaran dan terkondisinya suasana pembelajaran yang menyenangkan maka semakin bermaknalah proses pembelajaran itu bagi peserta didik.

               Dengan menerapkan konsep pembelajaran model team teaching lebih dimungkinkan kondisi belajar tersebut dapat diujudkan dari pada menggunakan model pembelajaran seliter. Kehadiran dua orang guru atau lebih secara bersamaan diruang kelas, labor atau tempat lainnya dimana kegiatan tatap muka dilaksanakan akan memberikan nilai tambah untuk kegiatan memfasilitasi dan membimbing peserta didik mengikuti proses pembelajaran.

               Antar anggota team teaching merupakan mitra kesetaraan pada tugas dan kewenangan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Oleh karenanya masing-masing anggota mengambil peran sesuai dengan apa yang telah dirancang pada Rencana Program Pembelajaran ( RPP ). Kemudian juga apabila seorang guru sebagai anggota tim sedang memandu kegitan proses pembelajaran terjadi kebuntuan dan atau gangguan maka angota tim lainnya dengan bijak memberikan bantuan dan atau mengambil alih posisi sebagai pemandu kegitan proses pembelajaran, sehingga tergambarlah suatu kondisi kerja tim yang solit dan utuh dalam kontek mitra kesetaraan.

 

3.      Mengevaluasi proses dan hasil belajar.

               Dalam dunia pendidikan tidak ada yang dinamakan hasil belajar dengan tanpa melalui proses pembelajaran, oleh karenanya penilai proses pembelajaran memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penetapan nilai akhir hasil belajar.  Dalam arti dengan cara apa  dan atau bagai mana seorang peserta didik mampu menguasai kompetensi yang telah ditetapkan. Indicator yang dinilai dalam penilaian ini berkaitan dengan tingkat keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran, keaktifan dan kreaktifitas dalam proses. Penilaiannya dapat dilakukan melalui pengamatan dan penilaian bukti autentik keterlibatan peserta didik dalam proses.

               Pada sisi lain penilaian proses dimaksudkan untuk menilai kualitas dan kebermaknaan suatu proses pembelajaran. Hasil penilaian ini menjadi input bermakna yang dapat digunakan anggota team teaching untuk merevisi program pembelajaran berikutnya guna penyempurnaan dan peningkatan kualitas pembelajaran.

               Salah satu bentuk instrument penilaian yang dapat digunakan adalah Lembaran Team Teaching ( LTT ).

LEMBARAN TEAM TEACHING ( LTT )

(CONTOH)

 

I.          IDENTITAS.

1. Mata Pelajaran                                             :

2. Kelas/ Program Study                                 :

3. SK dan KD                                                   :

4. Hari/tanggal                                                 :

5. Mata Pelajaran ke                                        :

6. Jumlah siswa seharusnya                          :

7. Jumlah yang hadir                                       :

8. Siswa yang tidak hadir                               : 1)………………………… 2)…………………………

                                           

II.         KUALITAS PEMBELAJARAN

NO

INDIKATOR

KUALITAS

AB

B

C

K

KS

1

2

3

4

5

6

7

Pemahaman siswa tentang tujuan pembelajaran

Minat dan motivasi belajar siswa.

Kemampuan bertanya.

Kemampuan menjawab.

Kemampuan bekerja sama dalam proses pembelajaran

Kreaktifitas dalam proses pembelajaran.

Kemampuan menarik kesimpulan

 

 

 

 

 

 

III.        INSTRUMEN PEMBELAJARAN.

NO

INDIKATOR

KUALITAS

AB

B

C

K

KS

1

2

3

4

5

6

7

Kedalaman dan keluasan  materi.

Kesesuaian sumber belajar dengan materi dan tujuan

Kesesuaian pilihan pendekatan dan metoda

Kesesuai strategi dan teknik

Kesesuaian media dan alat bantu yang digunakan

Penataan suasana dan kondisi belajar.

Pengembangan kreaktifitas siswa

 

 

 

 

 

Catatan khusus :

…………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………..

Anggota Team Teaching

 

 

                   (……………………………..)                          (……………………………..)

                     NIP……………………….                               NIP……………………….

Mengetahui Kepala Sekolah

 

 

(……………………………)

NIP : …………….

 

 

 

 Lembaran team teaching ini diisi oleh guru secara tim. Untuk mendapatkan input informasi yang berkualitas dituntut kejujuran dan kesungguhan anggota tim, sehingga fungsi model pembelajaran team teaching untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dapat diujudkan.

               Penilaian hasil belajar dilaksanakan secara tim dalam bentuk kegiatan pengukuran, yang mengacu pada indikator keberhasil yang telah dirumuskan. Pengukuran dapat dilakukan dalam bentuk tes maupun nontes.

 

4.      Menganalisis Hasil Ulangan Harian ( UH ) dan Menrancang Program Tindaklanjut.

               Setelah dilakukan pengukuran ketercapaian kompetensi berdasarkan indicator yang telah dirumuskan sebelumnya, pada priode ulangan harian ( UH ), untuk mendapatkan  gambaran dan informasi daya serap peserta didik, perlu dilakukan analisis hasil UH. Analisis dapat dilakukan secara menual dan dapat juga menggunakan computer sebagai alat bantu analisis.

               Hasil analisis ini belum merukan informasi final, tetapi ia butuh pemaknaan agar ia menjadi informasi yang dapat diterima secara umum oleh setiap pemegang kepentiangan dalam dunia pendidikan. Pemaknaan ini dilakukan secara tim agar setiap anggota tim memiliki pemahaman yang sama dan bahasa yang sama dalam menyikapinya.

               Berdasarkan informasi hasil analisis dirumuskanlah secara tim program tindaklanjut yang akan dilakukan dalam bentuk program remedial untuk peserta didik yang belum tuntas, sesuai dengan kuantitas dan kualitas ketidak tutasannya. Program ini dilaksanakan secara tim diluar jam tatapmuka setelah peserta didik dikelompokan sesuai dengan ketidak tuntasanya. Bagi peserta didik yang telah tuntas mereka berhak untuk mendapatkan program pengayaan (enrichment) untuk memberikan kesempatan lebih bagi peserta didik yang memiliki kemampuan lebih.

 

 

5.      Merevisi Program

 

               Sesuai dengan fungsinya, model pembelajaran team teaching dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran, maka program pembelajaran yang telah dirumuskan setelah dioperasionalkan, kemudian dilakukan evaluasi. Apabila dari hasil evaluasi ditemukan beberapa kelemahan dan ketidak sesuaian maka dilakukanlah revisi pada program dan pengoperasionalan berikutnya. Kegiatan ini dilakukan bersama-sama  oleh seluruh anggota tim.

               Data dan informasi yang digunakan untuk melakukan revisi ini adalah hasil analisis Ulangan Harian ( UH ) dan Lembaran Team Teaching ( LTT ). Oleh karenanya kesungguhan dan kejujuran sewaktu mengisi Lembaran Team Teaching akan sangat  menentukan kualitas dan tingkat kesempurnaan hasil revisi.    

         

  1. Penutup

 

               Pengguliran Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ), merupakan sikap bijak bangsa Indonesia dalam menyikapi tuntutan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Pengembangan dan pengimplementasian kurikulum menempatkan guru berada pada lini terdepan. Karena sebagus apapun kurikulum dan selengkap apapun fasilitas pendidikan tidak akan bermakna apa-apa jika berada ditangan guru yang tidak memiliki kompetensi dan sikap profesionalisme keguruan.

               Model pembelajaran team teaching dipilih merupankan salah satu upaya untuk meningkatkan kompetensi dan keprofesionalan guru. Apabila kedua factor ini telah terpenuhi, maka dengan sendirinya kualitas pembelajaran akan meningkat, karena gurulah yang berperan bagai pemandu proses pembelajaran.

             Stephen.R.Covey (2005) mengatakan, antara rangsangan dan tanggapan  terdapat sebuah  ruang. Diruang itu terdapat kebebasan dan kemampuan  kita untuk memilih tanggapan. Dalam pilihan-pilihan kita terdapat perkembangan dan kebahagian kita. Apabila kita mendasari pilihan dengan warisan kebiasaan dan keberhasilan masa lalu, maka ia akan mempersempit ruang yang ada, karena kondisi kekinian bergerak jauh lebih cepat dari apa yang kita pikirkan.

             Apabila hari ini kita ditentukan oleh masa lalu, apakah masa depan kita masih akan ditentukan oleh masa lalu ?. Wilayah cakupan apa yang kita pikirkan dan kita kerjakan dibatasi oleh apa yang tidak kita ketahui. Dan karena itu tidak berhasil mengetahui apa-apa yang tidak berhasil kita ketahui, hanya sedikit hal yang dapat kita lakukan terhadap perubahan; sampai kita mengetahui bagaimana kegagalan untuk mengetahui itu membentuk pikiran dan perbuatan kita.

             Peningkatan mutu pendidikan harus kita mulai hari ini dan dari diri kita sendiri, kalau tidak kita akan digilas oleh pikiran dan angan-angan kita sendiri, dan ia akan makin jauh meninggalkan kita, tampa mungkin kita kejar hanya dengan merenung dan berangan-angan. Mari kita berbuat dan berbuat sebagai warisan untuk anak-cucu kita kelak dikemudian hari

               

 

 

                                                                             Padang………………… 2008.

                                                                               Drs. Taufik Sabirin, M.Pd.

 

 

 


Responses

  1. assalammualaikum
    pak taufik saya mahasiswa semester akhir, dan sekarang sedang menyusun tugas akhir yang judulnya berkaitan dengan Team Teaching. di kota pontianak team teaching baru terlaksana semester ini dan belum ada banyak bahan yang bisa mendukung dalam penulisan tugas akhir saya. oleh karena itu saya mohon kepada bapak sekiranya dapat menolong saya. saya butuh contoh RPP dari Team Teaching dan apabila bapak py bahan lagi tentang Teamteaching saya pingin minta…
    atas bantuannya saya ucapkan banyak terima kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: