Posted by: taufiksabirin | July 16, 2009

PEMBELAJARAN TEMATIK

PENERAPAN PENDEKATAN TEMATIK

MENINGKATKAN KUALITAS PROSES PEMBELAJARAN

Oleh : .Taufik Sabirin

A. PENDAHULUAN

Ada kecendrungan pemikiran dewasa ini bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, seperti keberhasilan dalam menyelesaikan ujian dan memenangkan lomba cerdas cermat, yang hanya membutuhkan pengetahuan sesaat. Tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan kehidupan jangka panjang. Anak tidak mampu mengaplikasikan pengetahuan yang diperolehnya dibangku sekolah kedalam dunia nyata pada kehidupan kesehariaannya.

Bank Dunia ( 1998 ) melaporkan tentang hasil pengukuran indikator mutu secara kuantitatif pada Sekolah Dasar (SD) di beberapa negara Asia. Hasilnya menunjukan bahwa hasil tes membaca murid kelas IV SD, Indonesia berada pada peringkat terendah di Asia Timur, berada dibawah Hongkong 75,5%  Singapura 74 %, Thailand 65,1 %, Filipina 52,6 % dan Indonesia 51,7 %. Dari hasil penelitian ini disebutkan pula bahwa para siswa di Indonesia hanya mampu mengusai 30 % dari materi bacaan yang dibacanya. Siswa Sekolah Dasar ( SD ) Indonesia mengalami kesulitan menjawab soal-soal bentuk uraian yang memerlukan penalaran. Derektoran Pendidikan TK dan SD Departemen Pendidian Nasional tahun 2000/2001 melaporkan bahwa rata-rata daya serap kurikulum secara nasional masih rendah, yaitu 5,1 untuk lima mata pelajaran.

Kondisi ini menunjukan bahwa reformasi dalam dunia pendidikan nasional kita sudah menjadi suatu keharusan dan tidak bisa ditunda lagi, terutama pada jenjang pendidikan dasar yang menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan pada jenjang selanjutnya. Reformasi ini harus dilaksanakan secara menyeluruh, baik sistem pendidikan secara nasional ataupun pelaksana teknis dilapangan. Guru sebagai orang yang berada dilini terdepan dalam pelaksanaan proses pembelajaran disekolah harus mampu mengabgred dirinya. Sebagus apapun kurikulum dan selengkap apapun fasiltas tidak akan berarti apa-apa jika berada ditangan guru yang tidak kompeten dan profesional.

Pendidikan dasar yang menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan pada jenjang selanjutnya, haruslah mampu berfungsi mengembangkan potensi diri peserta didik dan juga sikap serta kemampuan dasar yang diperlukan peserta didik untuk hidup dalam masyarakat, terutama untuk menghadapi perubahan-perubahan dalam masyarakat, baik dari sisi ilmu pengetahuan, teknologi, sosial maupun budaya ditingkat lokal ataupun global. Kemampuan dasar yang harus dimiliki peserta didik dan menjadi tujuan utama dalam pembelajaran di Sekolah Dasar ( SD ) adalah, kemampuan membaca, menulis dan berhitung atau seringkali disebut dengan istilah ”the 3Rs”

Upaya untuk meningkatkan kualitas proses pembalajaran di kelas harus dilaksanakan karena inti dari peningkatan mutu pendidikan adalah meningkatnya mutu pelaksanaan proses pembelajaran di kelas. Proses pembelajaran yang terjadi di sekolah kita hari ini masih cenderung bersifat teoritik dan peran guru masih sangat dominan ( teacher centered ) dan gaya masih cendrung satu arah. Akhirnya, proses pembelajaran yang terjadi hanya sebatas pada penyampaian informasi ( transfer of knowledge ) kurang terkait dengan lingkungan sehingga peserta didik tidak mampu memanfaatkan konsep kunci keilmuan dalam proses pemecahan masalah kehidupan yang dialami peserta didik sehari-hari.

Berdasarkan kondisi tersebut pemerintah melalui Badan Standar Pendidikan Nasional ( BNSP ) menetapkan pendekatan tematik sebagai pendekatan pembelajaran yang harus dilkukan pada peserta didik Sekolah Dasar ( SD ) terutama untuk peserta didik kelas rendah ( kelas I s.d. III ). Menurut BNSP (2006 : 35) penetapan pendekatan tematik dalam pembelajaran di SD  dikarenakan perkembangan peserta didik pada kelas rendah Sekolah Dasar, pada umumnya berapa pada tingkat perkembangan yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan ( holistik ) serta baru mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Oleh karena itu proses pembelajaran masih bergantung pada objek konkret dan pengalaman yang dialami secara lansung.

B. PENGERTIAN PENDEKATAN TEMATIK.

Konsep pembelajaran tematik adalah merupakan pengembangan dari pemikiran dua orang tokoh pendidikan yakni Jacob tahun 1989 dengan konsep pembelajaran interdisipliner dan Fogarty pada tahun 1991 dengan konsep pembelajaran terpadu. Pembelajaran tematik  merupan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam  intra  mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu peserta didik akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran jadi bermakna bagi peserta didik.

Bermakna disini memberikan arti bahwa pada pembelajaran tematik peserta didik akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman lansung dan nyata yang menghubungkan antar konsep-konsep dalam intra maupun antar mata pelajaran. Jika dibandingkan dengan pendekatan konvensional, maka pembelajaran tematik tampak lebih menekankan pada keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik aktif terlibat dalam proses pembelajaran untuk pembuatan keputusan.

BNSP (2006:35) menyatakan bahwa pengalaman belajar peserta didik menempati posisi penting dalam usaha meningkatkan kualitas lulusan. Untuk itu pendidik dituntut harus mamapu merancang dan melaksanakan pengalaman belajar dengan tepat. Setiap peserta didik memerlukan bekal pengetahuan dan kecakapan agar dapat hidup dimasyarakat, dan bekal ini diharapkan diperoleh melalui pengalaman belajar disekolah. Oleh sebab itu pengalam belajar di sekolah sedapat mungkin memberikan bekal bagi peserta didik dalam mencapai kecakapan untuk berkarya. Kecakapan ini disebut dengan kecapan hidup yang cakupannya lebih luas dibanding hanya sekedar keterampilan.

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tama tertentu, dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh, tema ”Air” dapat ditinjau dari mata pelajaran fisika, kimia, biologi dan matematik. Lebih luas lagi, tema itu dapat ditinjau dari bidang studi lain, seperti IPS, bahasa, agama dan seni. Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada peserta didik untuk memunculkan dinamika dalam proses pembelajaran. Unit yang tematik adalah epitome dari seluruh bahasa pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik untuk secara produktif menjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu dengan pengahayatan secara alamiah tetang dunia di sekitar mereka.

C. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN TEMATIK.

Sebagai suatu proses, pembelajaran tematik memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Pembelajaran berpusat pada peserta didik.

Pembelajaran tematik dikatakan sebagai pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, karena pada dasarnya pembelajaran tematik merupakan suatu sistem pembelajaran yang memberikan keleluasan pada peserta didik baik secara individu maupun kelompok. Peserta didik dapat aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip dari suatu pengetahuan yang harus dikuasainya sesuai dengan perkembangannya.2. Menekankan pembentukan pemahaman dan kebermaknaan.

Pembelajaran tematik mengkaji suatu fenomena dari berbagai macam aspek yang membentuk semacam jalinan antar skemata yang dimiliki peserta didik, sehingga akan berdampak pada kebermaknaan dari materi yang dipelajari peserta didik. Hasil yang nyata didapat dari segala konsep yang diperoleh dan keterkaitannya dengan konsep-konsep lain yang di pelajari dan mengakibatkan kegiatan belajar lebih bermakna. Hal ini diharapkan akan berakibat kepada kemampuan peserta didik untuk dapat menerapkan perolehan belajarnya pada pemecahan masalah-masalah yang nyata dalam kehidupannya.

2. Belajar melalui pengalaman lansung.

Pada pembelajaran tematik diprogramkan untuk melibatkan peserta didik secara lansung pada konsep dan prinsip yang dipelajari dan memungkinkan peserta didik belajar dengan melakukan kegiatan secara lansung. Sehingga peserta didik akan memahmi hasil belajarnya sesuai dengan fakta dan peristiwa yang mereka alami, bukan sekadar informasi dari guru. Pendidik lebih banyak bertindak sebagai fasilitator dan katalisator yang membimbing kearah tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan peserta didik sebagai actor pencari fakta dan informasi untuk mengembangkan pengetahuannya.

3. Lebih memperhatikan proses dari hasil semata.

Pada pembelajaran tematik dikembangkan pendekatan discoveri inquiry (penemuan terbimbing) yang melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran yaitu mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai proses evaluasi. Pembelajaran tematik dilaksanakan dengan melibatkan hasrat, minat, dan kemampuan peserta didik, sehingga dimungkinkan peserta didik  termotivasi untuk belajar terus menerus.

4. Sarat dengan muatan keterkaitan.

Pembelajaran tematik memusatkan perhatian pada pengamatan dan pengkajian suatu gejala atau peristiwa dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak. Sehingga dimungkinkan peserta didik untuk memahami suatu fenomena pembelajaran dari segala sisi, yang pada gilirannya nanti akan membuat peserta didik lebih arif dan bijak dalam menyikapi atau menghadapi kejadian yang ada.

D. MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK.

Jacob (1989) dan fogarty (1991) berpendapat bahwa wujud penerapan pendekatan integratif (PI) itu bersifat rentangan ( continuum ). Jacob menggambarkannya sebagai berikut :

Disciplin      Parallel           Cross-           Multi-           Inter-          Integrated          Complete

Based        Disciplin      disciplinary     disciplinary   Disciplinary        Day                Program

Gambar 1. Rentang penerapan pendekatan integratif menurut Jacob (1989) dan

Fogarty (1991).

Bertolak dari konsep PI yang dianut Jacob tersebut Fogarty (1991) menyatakan bahwa ada 10 model integrasi pembelajaran (pembelajaran tematik) yaitu : fragmented model, connected model, nested model, sequenced model, shared model, webbed model, threaded model, integrated model, immersed model and networked model. Model-model ini merentang dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit, mulai dari keterpaduan konsep-konsep dalam satu mata pelajaran sampai keterpaduan konsep-konsep antar mata pelajaran.

Dari ke 10 model yang dikemukakan oleh Fogarty tersebut, hanya 3 model yang digunakan pada kurikulum PGSD yaitu: connected model, webbed model dan integrated model ( Tim Pengembangan PGSD 1997 : 4-5 ).

  1. Connected model ( Model Hubungan / Model Terkait ).

Model pembelajaran ini menyajikan hubungan yang eksplisit didalam  suatu mata pelajaran yaitu menghubungkan satu topic ke topic yang lain, satu konsep ke konsep yang lain, satu keterampilan ke keterampilan yang lain, satu tugas ke tugas berikutnya. Pada pembelajaran tematik model ini kunci utamanya adalah, adanya satu usaha secara sadar untuk menghubungkan bidang kajian dalam satu disiplin ilmu. Keunggulan dari model pembelajaran ini adalah siswa memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang suatu konsep, sehingga transfer pengetahuan akan sangat mudah karena konsep-konsep pokok dikembangkan terus menerus.

2. Webbed model ( Model Jaring Laba-laba / Model Terjala )

Model pembelajaran ini pada dasarnya menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan ini pengembanganya dimulai dengan menentukan tema tertentu. Tema yang ditetapkan dapat dipilih antara guru dengan siswa atau sesama guru. Setelah tema disepakati maka dilanjutkan dengan pemilihan sub-sub tema dengan memperhatikan kaitannya dengan antar mata pelajaran. Dari sub-sub tema ini direncanakan kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan pesera didik. Keuntungan dari model pembelajaran tematik ini bagi peserta didik adalah diperolehnya pandangan hubungan yang utuh tentang kegiatan dari ilmu yang berbeda-beda.

Contoh :

Siswa dan guru menentukan tema misalnya air. Maka guru-guru mata pelajaran dapat mengajarkan tema air itu kedalam sub-sub tema, misalnya: siklus air, kincir air, air waduk, air sungai, bisnis air dari PDAM yang tergabung dalam mata pelajaran-mata pelajaran, matematika, IPA, IPS, agama dan Bahasa.

3. Integrated Model ( Model terpadu )

Model pembelajaran terpadu ini menggunakan pendekatan antar mata pelajaran. Model ini diusahakan dengan cara menggabungkan beberapa mata pelajaran yaitu dengan menetapkan prioritas dari kurikulum dan menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang saling tumpang tindih didalam mata pelajaran.

Pada awalnya guru menyeleksi konsep-konsep keterampilan dan nilai sikap yang diajarkan dalam satu semester dari beberapa mata pelajaran misalnya: matematika, IPA, IPS, Agama dan Bahasa. Selanjutnya dipilih beberpa konsep, keterampilan dan nilai sikap yang memiliki keterhubungan yang erat dan tompang tindih di antara berbagai mata pelajaran tersebut. Keuntungan dari model ini adalah peserta didik mudah menghubungkan dan mengaitkan materi dari beberapa mata pelajaran itu.

. E. PROSEDUR PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK

Surya (2002:84) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalam individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Apa bila pemahaman guru tentang belajar adalah proses memperoleh tingkah laku secara keseluruhan, maka proses pembelajaran yang terjadi suatu kesatuan yang mengandung berbagai persoalan untuk dipahami oleh peserta didik secara keseluruhan dan terpadu.

Dari paparan diatas dapat diketahui bahwa landasan pengembangan pembelajaran tematik secara psikologis adalah menurut teori belajar gestalt. Teori ini memandang kejiwaan manusia terkait pada pengamatan yang berujud pada bentuk menyeluruh. Menurut teori belajar ini seseorang belajar jika ia mendapat ”insight”. Insight itu diperoleh bila ia melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalam situasi itu, hingga hubungan itu menjadi jelas baginya dan cara memecahkan masalah itu. ( Slameto 2003.).

Secara umum pelaksanaan pembelajaran tematik memiliki tiga tahapan, yakni tahapan perencanaan, tahapan pelaksanaan dan tahapan evaluasi.

  1. Tahap Perencanaan Pembelajaran

Sebelum dilakukan pemilihan tema yang akan diangkat dalam kegiatan pembelajaran, pendidik terlebih dahulu harus melakukan kegiatan menganalisis SK dan KD yang ada dalam standar isi. Kemudian mengelompokkan SK dan KD yang memiliki keterkaitan atau hubungan satu sama lainnya, baik dalam satu mata pelajaran ataupun antar mata pelajaran.

Setelah kegiatan pengelompokan SK dan KD selesai lalu pendidik merancang materi pembelajaran untuk setiap SK dan KD tersebut, kemudian dilakukan analisis ulang. Berdasarkan SK, KD dan materi esensial yang telah dikelompokkan dan dianalisis, guru kelas dan guru mata pelajaran melakukan diskusi untuk menetapkan tema dasar dan unit tema.

Tema dapat juga dipilih berdasarkan pertimbangan lain yaitu : tema yang dipilih berdasarkan konsensus antar siswa, misalnya dari buku-buku bacaan, pengalaman, minat, isu-isu yang sedang berkembang ditengah-tengah masyarakat. Hal ini membutuhkan sarana dan prasarana yang menunjang serta sumber belajar yang tersedia, dan juga harus memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik.

Mengingat tuntutan BNSP pendekatan tematik di gunakan di kelas terendah Sekolah Dasar maka pola pemilihan tema dengan cara ini akan sangat sulit untuk dioperasionalkan. Sehingga akan lebih realistis apa bila tema ditentukan oleh guru dari berbagai mata pelajaran secara bersama-sama. Herawati (1998) mengatakan ada beberpa persyarata yang harus dipenuhi dalam menentukan tema yaitu :

  1. tema merupakan hasil ramuan dari berbagai materi didalam satu maupun beberapa mata pelajaran.
  2. tema diangkat sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran yang terpadu dalam materi pembelajaran, prosedur penyampaian, serta pemaknaan pengalaman belajar oleh peserta didik.

c.tema disesuaikan dengan karakteristik belajar peserta didik SD sehingga azas perkembangan berfikir anak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

  1. tema harus bersifat cukup problematik  dan populer sehingga membuka kemungkinan luas untuk melaksanakan pembelajaran beragam yang mengandung substantif yang lebih luas apabila dibanding dengan pembelajaran biasa.

Setelah dilakukan analisis terhadap SK dan KD lalu dirumuskan indikator ketercapai kompetensi, KD dan indikator didistribusikan pada tema-tama yang telah ditentukan, sehingga semua KD dan indikator tersebut semuanya habis. Apa bila ada kompetensi yang tidak tercakup, artinya KD dan indikator yang tidak dapat dipadu dengan tema yang tersedia atau tidak dapat dipadu dengan mata pelajaran lain maka KD dan indikator tersebut diajarkan secara tersendiri.

Untuk mendistribusikan semua SK, KD dan indikator tersebut dibuatlah jaringan tema, untuk menghubungkan KD dan indicator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihatlah keterkaitan antara tema, KD dan indikator dari setiap mata pelajaran. Jaringan tema ini dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap tema.

Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada tahapan sebelumnya dijadikan dasar untuk penyusunan silabus. Komponen silabus menurut Permendiknas No.41 tahun 2008 tentang standar proses mencakup SK, KD, indikator pencapaian kompetensi, materi esensial, KKM, kegiatan pembelajaran, alokasi waktu, sistem penilaian,  alat bantu belajar, media dan sumber belajar. Permen 22 tahun 2006 tentang standar isi menuntut adanya tugas terstruktur dan tugas tidak terstruktur dalam pelaksanaan proses pembelajaran maka kedua system tugas tersebut diakomodir dalam merumuskan silabus.

Untuk mengoperasionalkan silabus tersebut dalam pelaksanaan pembelajaran perlu disusun RPP. Rancangan Program Pembelajaran tersebut merupakan patron dari kegiatan pendidik dan peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas.

2. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik.

Pelaksanaan pembelajaran merupakan kegitan inti dari aktivitas pembelajaran, dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan rambu-rambu yang telah disusun pada Rancangan Program Pembelajaran (RPP). Pada tahapan ini dapat diketahui kekuatan dan kelemahan dari rancangan yang telah disusun. Oleh karenanya dibutuhkan kemampuan pendidik dalam melaksanakan model pembelajaran tematik. Kemampuan pendidik dalam mengembangkan materi pembelajaran, membuat proses pembelajaran lebih bermakna sangat erat hubungannya dengan dengan pemilihan tema pembelajaran.

Menurut Dunkin ( dalam Sanjaya, 2006 ) ada sejumlah aspek yang mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru yaitu :

  1. Formative experience, meliputi jenis kelamin serta semua pengalam hidup yang menjadi latar belakang sosial mereka.
  2. Teacher training experience, meliputi pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan pendidik.
  3. Training properties, segala sesuatu yang berhungan dengan sifat yang dimiliki pendidik, seperti sikap pendidik terhadap siswa, kemampuan dan intelegensi pendidik, baik dalam kemampuan pendidik mengelola kegiatan pembelajaran, maupun kemampuan pendidik menguasai materi pembelajaran.

Disamping factor pendidik banyak factor-faktor lain yang mempengaruhi kualitas proses pembelajaran tersebut, diantaranya kualitas rancangan pembelajaran, faktro sarana dan prasarana yang tersedia, factor alat bantu belajar, media dan sumber belajar, factor lingkungan belajar dan termasuk yang sangat menentukan factor peserta didik itu sendiri.

Prosedur pelaksanaan pembelajaran tematik tidak berbeda dengan pelaksanaan pembelajaran lainnya, pembelajaran dilakukan dengan menggunakan tiga tahapan pembelajaran, yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir pembelajaran. Pada kegiatan awal dilakukan kegiatan mengkondisikan kelas untuk siap melaksanakan proses pembelajaran, menginformasikan tema dan subtema, KD dan indicator yang akan dibahas melalui materi ajar, tujuan pembelajaran dan mereviu tugas terstruktur kalau ada. Kegiatan inti terdiri dari tiga bagian yakni, ekflorasi, yaitu mengali sedalam dan seluas mungkin materi yang sedang dibahas Elaborasi, yaitu mengkorelasikan dan memadukan antara konsep yang sedang dibahas dengan konsep sebelumnya dalam satu mata pelajaran dan dengan konsep lain pada mata pelajaran yang berbeda, atau menerapkan konsep tesebut untuk memecahkan masalah, dan atau mengkorelasikan dengan keadaan nyata sehari-hari dan harapan masa depan. Komfirmasi, yaitu: melakukan upaya pembenaran dari temuan belajar peserta didik dengan melakukan penguatan, dan penyimpulan akhir hasil pembelajaran. Kegiatan akhir pembelajaran berisikan kegiatan pemberian Latihan Dalam Proses ( LDP ) dan menginformasikan tema atau subtema untuk pembelajaran berikutnya, serta memberikan tugas terstruktur kalau dibutuhkan.

3.  Mengevaluasi Proses dan Hasil Belajar.

Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang penekanannya pada kebermaknaan proses dalam artian bahwa peserta didik mengkonstruk pengetahuannya sendiri melalui pengalaman lansung dalam proses pembelajaran dari pada menguasai setumpuk konsep yang belum tentu dimengerti dan diperlukan mereka. Olehkarenanya penilaian proses pembelajaran dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinabungan.  Adapun aspek-aspek utama yang harus selalu diamati pendidik antara lain adalah, seberapa besar dan dalam tingkat keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran yang sedang berlansung, tingkat keaktifan dan kreaktifitas peserta didik dalam mengkonstruk pengetahuaannya melalui pengalamannya dalam proses pembelajaran, disamping motivasi dan ketekunannya mengikuti proses pembelajaran.

Penilaian hasil belajar yang memiliki kesesuaian dengan pembelajaran tematik adalah autentic assesment dalam bentuk penilaian kinerja dan portofolio ketimbang dalam bentuk  penilaian konvensional yang mengunakan instrumen test tertulis atau lisan. Karena peserta didik akan mengkonstruk pengetahuannya sendiri sesuai dengan tingkat perkembangan dan skemata yang telah mereka miliki.

F.PENUTUP.

Persoalan yang paling serius yang dihadapi oleh dunia pendidikan kita dewasa ini adalah persoalan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Belum standarnya kompetensi yang dimiliki banyak guru, rendahnya tingkat profesionalitas, rendahnya motivasi kerja, ketidak mampuan guru mengabgret dirinya,  dan belum bangganya seorang guru memiliki profesi guru. Banyak hal yang telah dilakukan pemerintah, seperti: sertifikasi guru, pendidikan dan pelatihan dan melahirkan UU guru dan dosen, tetapi semuanya hilang bak ditelan malam.

Dilain pihak guru adalah orang yang berada dilini terdepan dalam proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Sebagus apapun kurikulum, selengkap apapun fasilitas, jika berada ditangan guru yang tidak profesional tidak akan bermakna apa-apa.

Stephen.R.Covey (2005) mengatakan, antara rangsangan dan tanggapan  terdapat sebuah  ruang. Diruang itu terdapat kebebasan dan kemampuan  kita untuk memilih tanggapan. Dalam pilihan-pilihan kita terdapat perkembangan dan kebahagian kita. Apabila kita mendasari pilihan dengan warisan kebiasaan dan keberhasilan masa lalu, maka ia akan mempersempit ruang yang ada, karena kondisi kekinian bergerak jauh lebih cepat dari apa yang kita pikirkan.

Apabila hari ini kita ditentukan oleh masa lalu, apakah masa depan kita masih akan ditentukan oleh masa lalu ?. Wilayah cakupan apa yang kita pikirkan dan kita kerjakan dibatasi oleh apa yang tidak kita ketahui. Dan karena itu tidak berhasil mengetahui apa-apa yang tidak berhasil kita ketahui, hanya sedikit hal yang dapat kita lakukan terhadap perubahan; sampai kita mengetahui bagaimana kegagalan untuk mengetahui itu membentuk pikiran dan perbuatan kita.

Peningkatan mutu pendidikan harus kita mulai hari ini dan dari diri kita sendiri, kalau tidak kita akan digilas oleh pikiran dan angan-angan kita sendiri, dan ia akan makin jauh meninggalkan kita, tampa mungkin kita kejar hanya dengan merenung dan berangan-angan. Mari kita berbuat dan berbuat sebagai warisan untuk anak-cucu kita kelak dikemudian hari

Padang, ..Juli 2009.

Wassalam

Taufik Sabirin.

KEPUSTAKAAN

Abdullah, Solichan. 2000, Aritmatika Sosial ( Paket Makalah Penataran ) Yongyakarta : PPPG Matematik.

Fogarty, R . 1991 Constructing Knowledge Together Classroom as Center of Inquiry and Literacy, Portsmonth, NH: Heineman.

……………., 1991 How to Integrate The Curricula. Palatine, Illinois: IRI/Skylight Publishing. Inc.

Hadisubroto, Tisno. 1998, Buku Matri Pokok Pembelajaran Terpadu Modul 1 sampai dengan 6. Jakarta : Universitas Terbuka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Jacobs. H. 1989. Interdiciplinary Curriculum : Design and Implementation. Alexandria: VA.

Olivia, P.F. 1997 Developing the Curriculum. Third Edition. New York, NY : Harper Collins Publisher, Inc.

Sanjaya, 2006 Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Indonesia.

Sukayati. 1998. Pembelajaran terpadu ( Ringkasan dan Refleksi ) Makalah tidak dipublikasikan , Malang. Program Pasca Sarjana IKIP Malang.

Suparno, P. 2007. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Tim Pembang PGSD .1997. Pembelajaran Terpadu D-II PGSD  dan S-2 Pendidikan Dasar. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: