Posted by: taufiksabirin | February 15, 2009

PENGELOLAAN PENILAIAN PROSES DAN HASIL BELAJAR DI SMA 1 BATANG ANAI KABUPATEN PADANG PARIAMAN

PENGELOLAAN PENILAIAN PROSES DAN HASIL BELAJAR

DI SMA 1 BATANG ANAI KABUPATEN PADANG PARIAMAN

Oleh

Drs. Taufik Sabirin, M.Pd.

Koordinator Litbang SMA N 1 Batang Anai

A. PENDAHULUAN

Semenjak tahun 2000 yang lalu Departemen Pendidkan Nasional (Diknas) menyempurnakan program pendidikan pengajaran dengan berbagai pendekatan diantaranya, konsep Manajemen Berbasis Sekolah ( school based management) pembelajaran kontektual ( contextual learning ), pendidikan berbasis luas ( broad based educational – BBE ), dan pembelajaran berorientasi kecakapan hidup ( life skill ) ( Depdiknas 2002 )

Reformasi pendidikan yang dilakukan pemerintah ini sesuai dengan prinsip pembelajaran yang dikembangkan oleh Badan pendidikan Dunia UNESCO yang dikenal sebagai empat pilar pembelajaran yaitu : learning to know ( belajar untuk mengetahui ), learning to do ( belajar untuk mampu berbuat ), learning to be ( belajar untuk membangun jati diri ) dan learning to life together ( belajar untuk hidup berdampingan secara damai ) ( Budimansyah, 2003 : iii )

Dari kacamata Texonomy Bloom kelihatan bahwa pendidikan dan pengajaran bukan bertujuan untuk mengasah kemampuan kognitif saja, tetapi juga mengasah kemampuan affektif ( sikap dan tingkahlaku ), serta kemampuan psikomotorik ( kemampuan melakukan sesuatu ). Artinya, tidak zamannya lagi seorang guru mengajar hanya untuk mentranfer materi pelajaran ”ke-kepala” anak didik, tetapi harus mampu mengembangkannya, hingga mereka menjadi orang yang peduli dan memahami orang lain. Mampu berkehidpan sosial dan trerampil, memperaktikkan ilmu pengatahuan yang ia peroleh lewat proses pembelajaran menjadi suatu produk nyata dan yang dapat menunjang kehidupannya kelak ditengah-tengah masyarakat kelak.

Kurikulum sentralistis yang selama empat puluh tahun terakhir menekan keberagaman nasional telah menyebabkan kecendrungan penekanan pembelajaran pada pencapaian target kurikulum, dan kurang memperhatikan perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Beberapa tes yang bersifat nasional semakin memacu para guru untuk segera menyelesaikan target materi, tanpa mempertimbangkan lagi strategi, pendekatan, atau metoda yang lebih tepat, agar pengetahuan dapat dipahami, dikembangkan dan diterapkan dalam dalam kehidupannyata.

Undang-undang No. 20 tahun 2003 tetang Sistem Pendidikan Nasional, mengamanatkan untuk melakukan perubahan dan pembaharuan pendidikan nasional. Untuk memaknai roh dari undang-undang tersebut dibutuhkan beberapa peraturan pemerintah, dan lahirlah Peraturan Pemerintah No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kemudian Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Isi. Untuk mengoperasionalkan PP. No. 19 tahun 2005, Mentri Pendidikan Nasional mengeluarkan Permen Diknas yang berkatian dengan delapan standar nasional pendidikan tersebut.

Dalam PP No. 19 tahun 2005 pasal 63 dan 64 dijelaskan tentang sistem evaluasi pembelajaran sebagai berikut :

Pasal 63 ayat 1 : Penilaianan pendidikan pada jenjang pendidikan dan menengah terdiri atas :

a. penilaian hasil belajar oleh pendidik

b. penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, dan

c. penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.

Pasal 64 ayat 1 : Penilaian hasil belajar oleh pendidik sebagaimana dimaksud pasal 63 ayat 1 butir a dilakukan secara berkesinabungan untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil, dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.

Ayat 2 : Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat 1 digunakan untuk :

a. menilai pencapaian kompetensi peserta didik,

b. bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan

c. memperbaiki proses pembelajaran.

Untuk mengoperasionalkan ketentuan-ketentuan tersebut diatas dikeluatkanlah Permen Diknas No. 20 tahun 2008 tentang Standar dan Permen Diknas No. 41 tahun 2008 tentang Standar Proses Pembelajaran. Berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah dan Peaturan Mentri Pendidikan Nasional tersebut maka sekolah merancang dan menyusun sistem penilaian yang akan digunakan dilembaganya masing-masing. Untuk itulah SMA negeri 1 Batang Anai merumuskan sistem penilaian proses belajar, hasil belajar dan penilaian hasil perbaikan belajar ( remedial ).

B. PENGERTIAN PENILAIAN PEMBELAJARAN

Pada tataran operasional ada tiga istilah yang pada hakekatnya sangat jauh berbeda, tetapi cendrung dimaknai sama oleh para guru, yakni test (ujian), measurement ( pengukuran ) dan assesment ( penilaian ). Test ( ujian ) adalah salah satu bentuk pengukuran yang bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi sebagai bahan untuk memberikan penilaian. Measurement (pengukuran) adalah berbagai bentuk pengukuran dan kegiatan pengumpulan data dan informasi untuk menjawab pertanyaan ” haw much”

Penilaian berarti usaha untuk mengetahui sejauhmana perubahan telah terjadi pada diri peserta didik melalui kegiatan belajar mengajar. ( Slameto: 1999 : 5 ) Penilaian dalam pendidikan yaitu proses pengambilan keputusan tentang siswa yang condrong bersifat kualitatif, misalnya baik, buruk, tinggi, sedang, dan rendah ( Arikunto. 1997: 3 ). Penilai hasil belajar yang dilakukan oleh pendidik adalah kegiatan yang dilakukan secara berkesinabungan untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil belajar ( PP. No. 19 pasal 64, ayat 1). Penilaian adalah serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan data tetang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinabungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. ( BNSP. 2006 : 17)

Senada dengan pendapat para ahli dan peraturan perundang-undangan di atas penilaian pembelajaran adalah: serangkaian kegiatan yang dirancang oleh guru secara sistematis, terus menerus dan berkesinabungan, yang merupakan bahagian dari kegiatan pembelajaran, untuk memperoleh, menganalisis dan memaknai data dan fakta proses dan hasil belajar, sehingga menjadi informasi yang bermakna untuk pengambilan keputusan.

C. TUJUAN PENILAIAN PEMBELAJARAN

Kegiatan penilaian yang merupakan bahagian dati kegiatan pembelajaran bertujuan untuk :

  1. Memantau keterlaksanaan dan kebermaknaan proses pembelajaran.
  2. Mengetahui kemajuan hasil belajar peserta didik.
  3. Mengetahui tingkat efektifitas dan efesiensi bebagai komponen pembelajaran yang digunakan seperti sumber pembelajar, media pembelajaran, pendekatan dan metoda pembelajaran, rumusan indikator, pilihan materi, dan pengalokasian waktu belajar.
  4. Mengumpulkan dan menganalisis dan memaknai data dan fakta sebagai bahan masukan dalam pengambilan keputusan.

  1. KEGUNAAN HASIL PENILAI PEMBELAJARAN

Hasil penilai permbelajaran akan digunakan untuk :

1. Bahan pelaporan kepada orang tua dan pengguna out put pendidikan

2. Masukan dalam pengambilan keputusan.

3. Masukan untuk merevisi rancangan pembelajaran.

4. Memberikan kepuasan kepada siswa atas apa yang telah ia kerjakan.

5. Memberikan motivasi kepada siswa untuk meningkatkan prestasinya.

  1. PENGELOLAAN PENILAIAN PROSE DAN HASIL BELAJAR

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Kurikulum ini berbasiskan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang drafnya pernah diujicobakan secara terbatas pada beberapa sekolah secara nasional. Kurikulum ini berlandaskan filsat konstruktivistik yang menganut konsep belajar tuntas ( mastery learning ).

Dalam Permen Diknas No. 22 tahun 2006 halaman 39 dijelaskan bahwa pelaksanaan KTSP dapat dilakukan dengan sistem paket dan sistem SKS murni. SMA Negeri 1 Batang Anai mengoperasionalkan KTSP dengan menggunakan sistem paket, artinya peserta didik dibebani Standar Kompetensi ( SK ) dan Kompetensi Dasar ( KD ) untuk setiap mata pelajaran yang harus dituntaskannya dalam satu semester dan atau satu tahun pelajaran.

Keberagaman peserta didik dari aspek kemampuan, fasilitas, motivasi dan kondisi yang mengitari meraka dikaitkan dengan pembatasan rentangan waktu satu semester dan atau satu tahun, akan menjadi sulit untuk mencapai ketuntasan ideal. Dilain hal tiga komponen pembelajaran yang menjadi tugas guru untuk melakukan penilaian ( proses pembelajaran, hasil pembelajaran dan hasil perbaikan pembelajaran ( PP. No. 19 tahun 2005 pasal 64 ayat 1 ) menuntut ditetapkannya Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Untuk hasil belajar ketuntasan itu bergerak antara 0 sd 100 % ( BNSP. 2006 : 12 ).

  1. Ketuntasan Beajar .

Dengan mempertimbangkan Sumber daya pendukung yang tersedia di SMA Negeri 1 Batang Anai, tingkat kemampuan rata-rata peserta didik, serta kompleksitas Standar Kompetensi Lulusan ( SKL ), Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar ( KD ) pada masing-masing mata pelajaran. SMA Negeri 1 Batang Anai menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) sebagai berikut :

a. Untuk ketuntasan proses belajar, keikutsertaan minimal peserta didik dalam proses pembelajaran untuk masing-masing mata pelajaran 80%.

b. Untuk ketuntasan hasil belajar mengunakan Lriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) yang ditetapkan guru masing-masing mata pelajaran dengan persetujuan kepala sekolah setelah melalui hasil analisis tiga dimensi yakni, tingkat komplek sitas materi ajajar dan kompetensi yang akan dicapai.

c. Kepada setiap siswa yang belum tuntas diberikan kesempatan mengikuti program remedial yang dirancang oleh guru mata pelajaran untuk setiap kali tahapan ulangan harian.

Siswa dinyatakan tuntas dalam proses pembelajaran apabila ia minimal mengikuti 80 % dari kegiatan pembelajaran untuk setiap mata pelajaran. Siswa yang tidak tuntas dalam mengikuti proses pembelajaran tidak berhak untuk mengikuti penilaiaan hasil belajar (ujian). Bagi siswa yang tidak mengikuti kegiatan proses pembelajaran minimal 80 % karena alasan yang dibenarkan oleh peraturan sekolah, harus mengganti kegiatan proses pembelajarannya sebelum ia mengikuti tes hasil belajar ( Ujian ).

Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) untuk masing-masing tingkat dan mata pelajaran pada masing-masing Standar Kompetensi ( SK ), Kompetensi Dasar ( KD ) dan Indikator dapat berbeda-beda. Penetapan KKM menjadi kewenangan guru dengan izin kepala sekolah setelah mempertimbangkan tingkat kompleksitas materi, sumber daya pendukung dan kemampuan rata-rata peserta didik.

Kepada peserta didik yang telah mencapai KKM berhak untuk mendapatkan pelayanan pengayaan (Enricment ) dan bagi peserta didik yang belum mencapai ketuntasan minimal wajib mengikuti layanan perbaikan ( Remedial ) . SMA 1 Batang Anai berupaya untuk selalu meningkatkan KKM agar dapat mencapai ketuntasal ideal.

Siswa yang telah 2 kali mengikuti ujian ulangan setelah mengikuti program remedial yang dirancang guru untuk indikator atau Kompetensi Dasar ( KD ) yang ia belum tuntas, maka siswa tersebut dinyatakan tidak tuntas.

  1. Penilaian Proses Belajar.

Dalam PP No. 19 tahun 2005 peran penilaian proses dengan penilai hasil belajar beposisi setara hanya dibatasi oleh tanda koma. Dalam dunia pendidikan tidak ada yang namanya hasil belajar apa bila tidak melalui proses belajar.

Dalam KTSP SMA Negeri 1 Batang Anai ditetapkan KKM belajar peserta didik dalam dimensi proses belajar 80 % artinya seorang peserta didik baru dinyatakan tuntas mengikuti proses belajar apabila minimal ia telah mengikuti 80 % dari seluruh tatap muka yang dibimbing guru baru ia berhak untuk mendapat nilai proses dan hasil belajar sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Setiap guru harus melaksanakan penilaian proses setiap kali ia melaksanakan kegiatan tatap muka. Aspek yang dinilai dalam penilaian proses antaralain adalah keterlibatan siswa dalam proses, artinya sejauh mana siswa tersebut melibatkan diri, fikiran, perasaan dan fisiknya dalam mengikuti proses belajar. Kemudian juga dinilai keaktifan dan kreaktifitas siswa dalam memecahkan masalah yang ditemua dalam proses belajar.

Penilaian proses ini berkontribusi terhadap nilai akhir pencapai ketuntasan KD dan indikator. Dalam KTSP SMA 1 Batang Anai ditetapkan kontribusi nilai proses disesuaikan dengan karakteristik masing-masing mata pelajaran, yang bergerak antara 20 % – 40 % terhadap nilai akhir. Untuk mata pelajaran matematika, fisika, dan kimia misalnya nilai proses berkontribusi terhadap nilai akhir 20 %. Untuk mata pelajaran agama, kewarganegaraan, olahraga dan kesenian berkontribusi 40 % karena mata pelajaran ini lebih mengutamakan pembentukan kepribadian.

Pelaksanaan penilai proses belajar dapat dilakukan melai pengamatan dan penilaian bukti autentik proses belajar. Jika melakukan penilaian melalui pengamatan maka fokus penilaian dilakukan terhadap keterlibatan anak dalam proses belajar. Misalnya jika ia tidak hadir maka pasti nilainya tidak ada, tetapi jika ia minta izin keluar sewaktu proses berlansung atau mengerjakan tugas lain sewaktu dalam proses pembelajaran maka tentu keterlibatannya akan sangat kurang. Mungkin juga fisiknya hadir sementara fikirannya tidak, atau ia hadir tetapi tidak mau terlibat dalam kegiatan proses. Kondisi-kondisi seperti inilah yang dimaksud dengan keterlibatan dalam prosese. Kemudian juga diamati keaktifan dan kreaktifitas dalam proses, apakah ia mau bertanya, jika ditanya mau menjawab dan atau memiliki ide-ide berlian dalam memecahkan masalah yang terjadi selama proses pembelajaran berlansung.

Penilai proses dapat juga dilakukan melalui penilaian bukti autentik proses pembelajaran. Banyak hal yang merupakan bukti autentik keterliban aktif seorang peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran, diantaranya konstruk-konstruk pengetahuan yang dihasilkan peserta didik selama ia mengikuti proses pembelajaran. Konstruk pengetahuan ini dapat dilihat pada, catatan, kesimpulan, bagan-bagan, simbol-simbol dan konstruk lainnya sebagai bukti keterlibatannya dalam proses. Dapat juga dijadikan bukti autentik proses latihan-latihan selama proses seperti kuis, game, pelak sanaan tugas-tugas terstruktur dan tugas-tugas tidak terstruktur dan lain- lainnya.

  1. Penilaian Hasil Belajar.

Hasil belajar adalah kompetensi yang dicapai peserta didik setelah melalui proses pembelajaran. Kompetensi adalah kemampuan dan keterampilan yang terlefleksi pada cara berfikir, bertindak dan berperilaku. Selaras dengan Taxonomy Bloom, kompetensi memiliki tiga domain kognitif, afektif dan psikomotorik, ketiganya menjadi objek penilaian hasil belajar.

PP. No. 19 tahun 2005 pasal 64 ayat 1 menjelaskan bahwa penilai hasil belajar dilakukan melalui ulangan harian ( UH ) ulangan tengah semester, ulangan semester dan ulangan kenaikan kelas. SMA 1 Batang Anai menetapkan ulangan harian ( UH ) dilakukan minimal 2 kali dalam satu semester disamping ulangan tengah semester dan ulangan semester. Pada masing-masing tahapan tersebut penilaiandilakukan lengkap untuk ketiga aspeknya.

Penilaian ranah kognitif mengacu kepada Kompetensi Dasar dan indikator yang dirumuskan guru berdasarkan pesan/amanat yang terkandung pada setiap KD. Kompetensi Dasar yang sudah tuntas pada ujian tahap pertama ( UH 1 ) tidak diujikan lagi pada ujian tahap kedua (Med.smt dan atau UH 2), artinya setiap guru telah merencanakan KD apa-apa saja yang di ujikan pada UH 1, di Med. Semester, di UH 2 dan di ujian semester dapat diuji kembali semua kompetensi pada semester tersebut.

Instrumen yang digunakan untuk penilaian kognitif bisa dalam bentuk paper and pencel test dalam bentuk tes tertulis, lisan atau praktik, dan dapat juga digunakan alternatif assesment, dalam bentuk penilaian portopolio, penilaian kinerja, penilaian proyek dan sebagainya. Kedua jenis penilaian masing-massing punya kelemahan dan keunggulan yang saling melengkapi.

Penilaian paper and pencel test merupan jenis penilaian yang sudah terbiasa digunakan guru, terutama tes objektif, kurang sejiwa dengan KTSP yang berbasiskan filsafat konstruktivistik, menuntut anak untuk mengkonstruk sendiri pengetahuaan sebagai hasil belajar mereka. Kelemahan penilaian yang mengunakan instrumen tes objektif di SMA Negeri 1 Batang Anai ditanggulangi dengan mengoperasionalkan konsep mixing assesment , artinya tes objektif dan tes esay dioperasionalkan bersamaan dengan cara, siswa menjelaskan alasan sesuai konsep kenapa ia memilih opsen tersebut.

Mixing assesment adalah sebuah bentuk reinvention ( modifikasi ) dari bentuk tes yang sudah biasa dilakukan guru, guna meminimalisir sisi lemah tes objektif seperti, siswa bisa berkonpromi dalam jarak yang cukup jauh, main terka-terkaan dengan tanpa menganalisis soal, mengingat-ingat dengan tidak memahami konsep dan lain sebagainya. Konsep mixing assesment sementara ini sangat signifikan digunakan untuk mengukur ketertacapaian kompetenswi.

Dalam penskoran objektif berkontribusi 40 % dan alasan ( esay ) 60%. Apabila objektifnya benar skornya 40 dan alasan ( esay ) maksimal 60. dan apa bila objektif salah skornya 0 dan alasan tidak dinilai. SMA Negeri1 Batang Anai telah menjalankan konsep ini untuk UH semenjak semester ganjil tahun pelajaran 2006-2007.

Sebelum sebuah instrumen tes dioperasionalkan terlebih dahulu dilakukan validasi oleh guru mata pelajaran sejenis ( MGBS ) dengan konsep uji silang. Jika si A menyusun soal untuk kelas X maka divalidasi oleh si B yang menyusun soal kelas XI dan soal yang di susun si B di validasi oleh si C yang menyusun soal kelas XII dan seterusnya.

Ulangan Harian ( UH ) menjadi kewenangan penuh guru mata pelajaran, sedangkan ulangan Tengah Semester, ulangan Semester dan Naik Kelas menjadi kewenangan lembaga. Hal ini sesuai dengan ketentuan PP No. 19 pasal 63 dan 64. Oleh karenanya SMA Negeri 1 Batang Anai menetapkan kontribusi masing-masing nilai ulangan untuk menetapkan Nilai Rapor. Nilai UH berkontribusi 60 %, nilai ujian Tengah semester 25 % dan nilai ujian Semester/Naik Kelas 15 %.

Penilaian afektif atau sikap dilakukan dengan menggunakan dua acuan yakni sikap dengan acuan norma/nilai dan sikap sebagai hasil belajar. Kedua acuan ini digabung menjadi satu dan diaplikasikan dalam bentuk pedoman penilaian sikap.

Aspek-aspek sikap yang dinilai disepakati dalam rapat dewan guru, dan pada setiap semesternya dapat berbeda berdasarkan kesepakatan. Demikian juga dengan standar ketuntasannya ditetapkan berdasarkan kesepakatan dalam rapat dewan guru. Untuk tahun pelajaran 2008-2007 ditetapkan 70. Kemudian untuk mengkualititatifkannya dibuatksan rentangan sebgai berikut :

0 - 69 = K

70 - 79 = C

80 - 89 = B

90 - 100 = A

Apabila aspek yang dinilai berdasarkan acuan norma seperti norma agama, undang-undang, budaya dan kebiasaan yang ada dalam masyarakat, dilatihkan dan ditanamkan oleh setiap guru dalam proses pembelajaran. Penilai afektif dilakukan melalui pengamatan oleh guru setiap kali proses pembelajaran berlansung.

Tidak semua mata pelajaran psikomotoriknya dinilai, bukan karena tidak ada aspek psikomotorik, tetapi karena kurang berperan secara signifikan seperti mata pelajaran matematika, dan sejarah. Demikian juga ada mata pelajaran yang aspek cognitifnya kurang meninjol seperti mata pelajaran olahraga dan kesehatan dan kesenian. Kedua mata pelajaran ini aspek afektif dan psikomotornya lebih dominan dari aspek kognitifnya.

Penilaian psikomotorik adalah penilai terhadap kemampuan peserta didik mengaplikasikan kompetensi yang terkandung dalam KD atau indikator yang harus dikuasai peserta didik, baik melalui paraktik labor ataupun praktik kegiatan dalam keseharian mereka. Untuk penilaiannya digunakan instrumen penilaian psikomotorik dalam bentuk pedoman penilaian praktik .

  1. Analisis Ketuntasan.

Setelah tes dilakukan guru harus menganalisis ketuntasan belajar yang diukur dengan hasil tes yang dilakukan guru untuk masing-masing tahapan ujian yang dilakukan.

Hasil analisis kemudian di deskripsikan dan ditetapkan implikasi kebijakannya. Misalnya siapa-siapa saja yang belum tuntas. Ketidak tuntasannya tersebut pada indikator berapa di KD berapa. Apa bentuk program remedial yang harus diikutinya. Berapa lama program itu dilaksanakan. Bagaimana bentuk penilai dari hasil kegiatan remedial yang dilakukannya, dan seterusnya.

  1. Tindaklanjut Hasil Penilaian.

Penilai proses standar ketuntasannya 80 % artinya siswa minimal harus mengikuti kegiatan tatapmuka minimal 80 % dari seluruh kegiatan tatap muka baik di dalam atau diluar kelas. Apabila terlihat ada kecendrungan seorang siswa terancam tidak memenuhi batas ketuntasan tersebut maka guru berkewajiban mengingatkan siswa dan melaporkan kepada guru BP untuk dilakukan pengkajian, kelanjutannya memanggil orangtua siswa yang bersangkutan.

Siswa yang tidak memenuhi ketentuaneria ketuntasan proses tidak boleh dan tidak berhak untuk mengikuti penilaian hasil. Apabila ketidak tuntasannya tersebut disebabkan oleh sesuatu yang dapat ditolerir oleh peraturan sekolah, guru harus memfasilitasi siswa yang bersangkutan untuk mengikuti kegiatan pengganti proses yang telah dirancang oleh guru di luar jam tatap muka.

Standar ketuntasan hasil belajar mengacu pada KKM yang ditapkan oleh guru masing-masing mata pelajaran seizin kepala sekolah. Sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Nomor : 506/C/Kep/PP/2004 untuk dapat naik seorang siswa hanya boleh tidak tuntas 3 ( tiga ) mata pelajaran dalam satu tahun pelajaran akumulasi dari semester satu dan dua.

Berdasarkan ketentuan tersebut SMA Negeri 1 Batang Anai menetapkan kriteria ketuntasan hasil belajar dan ketentuan naik kelas, sebagai berikut :

a. Siswa dinyatakan tidak naik apabila ia tidak memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ).

b. Siswa dinyatakan tidak naik ke-kelas XI, apabila yang bersangkutan tidak mencapai ketuntasan belajar minimal, lebih dari 3 ( tiga ) mata pelajaran yang bukan mata pelajaran Pendidikan Agama.

c. Siswa dinyatakan tidak naik ke-kelas XII, apabila yang bersangkutan tidak mencapai ketuntasan belajar minimal lebih dari 3 ( tiga ) mata pelajaran yang bukan mata pelajaran Pendidikan Agama dan bukan mata pelajaran ciri khas program studi.

Mata pelajaran ciri khas program studi dimaksud adalah :

Program Studi Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) adalah : a).Matematika, b). Fisika, c). Kimia, dan d). Biologi.

Program Sutudi Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS ) adalah : a).Ekonomi, b). Sejarah, c). Geografi, dan d). Sosiologi.

Program Studi Bahasa adalah : a). Bahasa dan Sastra Indonesia, b). Bahasa Inggeris, c). Bahasa Asing pilihan lainnya, dan d).Antropologi.

d. Ketuntasan dimaksud mencakup ketiga hasil belajar cognitif, affektif dan psikomotorik. Apabila salah satu tidak tuntas maka mata pelajaran tersebut dinyatakan tidak tuntas.

Apabila dalam perjalanan pelaksanaan proses pembelajaran guru melihat kecendrungan siswa akan terancam oleh ketentuan di atas maka guru mata pelajaran mengingatkan siswa, dan melapor pada guru BP untuk diberi bimbingan . Kelanjutannya orang tua yang bersangkutan dipanggil untuk diinformasikan dan sama-sama dilakukan tindakan preventif.

Setelah melakukan tindakan preventif dan siswa yang bersangkutan tetap tidak tuntas lebih dari 3 (tiga) mata pelajaran diluar mata pelajaran agama untuk kelas X dan diluar mata peralajaran ciri khas program studi dan mata pelajaran agama untuk kelas XI dan XII pada semester ganjil (semester 1, 3 dan 5 ). Maka siswa yang bersangkutan beserta orang tuanya dipanggil untuk membuat surat pernyataan bersedia tinggal kelas dan atau pindah dari SMA Negeri 1 Batang Anai. Karena jika siswa yang bersangkutan dengan sistem penilaian yang telah ditetapkan di SMA Negeri1 Batang Anai semester genap yang akan diikutinya tidak memiliki makna lagi dalam menentukan kenaikan kelas.

  1. PENUTUP

Masalah penilaian merupa bahagian yang paling rumit dalam penerapan KTSP, karena guru telah terbiasa dengan sistem penilaian yang hanya mengacu pada hasil belajar, dalam kontek mengukur kemampuan siswa mengenai materi yang telah diajarkan guru ( kemampuan kognitif ). KTSP menuntut siswa memiliki kompetensi bukan hanya setumpuk penguasaan konsep yang belum tahu mereka mengerti.

Merubah paradigma guru tentang sistem pembelajaran terutama aspek penilaian, bukanlah merupakan masalah sederhana. Bagi guru kita penilaian yang teraplikasi dalam bentuk pengukuran aspek kognitif yang sudah berlansung selama 40 tahun sudah mendarah daging dan sudah menjadi sebuah keotomatisan dalam berperilaku. Pemberian aturan yang jelas dan bimbingan yang edukatif seperti yang dirancang SMA 1 Batang Anai diharapkan dapat merobah paradigma guru tersebut.

Pasar Usang, Januari 2009.

SMA 1 Batang Anai.

Drs.Taufik Taufik Sabirin, M.Pd.

KEPUSTAKAAN

Abdul, Azis, 2003. Penilaian Berbasis Kelas , Jakarta . Departeman Agama.

Anwar, Syafri, 2005. Model Pembelajara dan Penilaian Portofolio , Jurnal Pembelajaran, Volume 28, Nomor 01, April 2005, Padang diterbitkan, Universitas Negeri Padang.

Arikunto, Suharsimi. 1997. Dasar-dasar evaluasi pendidikan, Jakarta : Penerbit Bumi Aksara.

BNSP. 2006. Panduan penyususnan KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah,Jakarta. BNSP.

Budimansyah, 2003. Model pembelajaran portofolio. Bandung, PT. Genesindo.

Cangelosi, James. Merancang Tes untuk Menilai prestasi siswa.terjemahan Lilian. D. Bandung. Penerbit ITB Bandung.

Depdiknas. 2002. Sosialisasi hasil studi studi Dikmenum. Jakarta; Dirjen Dikmenum

Raynolds, Larry. 2005. Kiat sukses manajemen berbasis sekolah. Pedoman bagi praktisi pendidikan.Jakarta. CV. Diva Pustaka.

Suparman, Atwi. 1999. Evaluasi Program Diklat . Jakarta. Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi, Lembaga Administrasi Negara.

Slameto. 1999. Evaluasi pendidikan. Jakarta : Penerbit PT. Bumi Aksara.

Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

Permen Diknas No. 22 dan 23 tahun 2007 tentang Standar Isi dan SKL.

PermenDiknas No. 20 tahun 2008 tentang Standar Penilaian.

Permen Diknas No. 41 tahun 2008 tetang Standar Proses.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: