Posted by: taufiksabirin | November 27, 2009

BAHAN AJAR SK 5 PAI KLS XI SMTR GANJIL

BAHAN AJAR SK 4

 

Mata Pelajaran                           : Pendidikan Agama Islam

Kelas/ Program/Semester        : XI/ IPA / Dua

Tahun Ajaran                              : 2007-2008

Standar Kopetensi                     : Berperilaku terpuji.

Waktu                                          : 4 x 45 menit ( dua kali pertemuan )

KKM KD                                      :  87, 80 dan 60.

 

Kopetensi Dasar

4.1. Menjelaskan pengertian perilaku Tobat dan Raja’

4.2. Menampilkan contoh perilaku tobat dan raja’.

4.3. Membiasakan berperilaku Tobat dan raja’dalam kehidupan sehari-hari.

 

Indikator

4.1.1. Mendiskrepsikan pengertian perilaku terpuji.

4.1.2. Mengidentifikasi perilku tobat dan raja’

4.2.1. Mengidentifikasi ciri-ciri orang yang berperilaku tobat..

4.2.2. Mengidentifikasi orang yang berperilaku raja’.

4.2.3. Mencontohkan perilaku baik terutama tobat dan raja’

4.3.1. Menganalisis upaya yang dapat dilakukan untuk membiasakan diri    berperilaku tobat terpuji.

4.3.2. Membiasakan diri untuk berperilaku tobat dan raja’.

 

PERTEMUAN PERTAMA

Materi Pembelajaran

 

Manusia diciptakan oleh Allah dilengkapi dengan pikiran, perasaan dan nafsu, ketiga unsur inilah yang mengendalikan kehidupan manusia. Agar ia berada dalam koridor yang diredhai oleh Allah, Allah menurunkan wahyu untuk menuntunnya kejalan yang benar. Ketiga-tiganya melekat secara utuh dalam diri makhluk Allah yang bernama manusia tersebut.  Ketiga dimensi itu selalu berperang dan saling mengalahkan, disaat logika menang maka manusia akan bertindak logis, diasat rasa yang menang maka manusia akan bertidak sentimental dan apa bila nafsu yang menang maka manusia sering bertindak brutal.

Banyak orang yang melupakan tuntunan wahyu dan menuruti kemauan hawanafsunya, dengan tanpa ragu-ragu ia perturutkan kemauan hawanafsunya, sehingga ia tidak malu dan ragu-ragu melakukan kejahatan dan kezaliman. Mereka tidak takut kepada Allah dan semena-mena kepada sesama, serta tidak memikirkan akibat dari perbuatan yang telah dan akan ia lakukan. Orang yang memperturutkan hawa nafsunya sangat dimurkai oleh Allah. Nafsu mengandung ketertarikan syahwat untuk mencari kelezatan sesaat.

Nafsu juga sangat dibutuhkan dalam kehidupan untuk memberikan motivasi dan durongan positif juna kemajuan umat manusia. Nafsu yang dibutuhkan itu disebut Nafsu Mutma’innah yakni nafsu yang tenang dan tenteram sera dapat dikendalikan oleh akal yang sehat berdasarkan tuntunan Wahyu Alllah. Nafsu yang selalu menjerumuskan manusia kejalan yang sesat adalah Nafsu Amarah dan Nafsu Lawamah.

Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat 53 sebagai berikut :

 

 

Artinya :

Aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu menyuruh kepada kejahatan, Kecusali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku, Sesungguhnya Tuhanku maha pengampun lagi maha penyayang.

 

Apabila seseorang terlanjur berbuat salah melanggar ketentuan yang telah ditetapkan oleh wahyu, maka ajaran agama memberikan solusi dengan melakukan ibadah tobat atau kembali kejalan yang benar. Apabila kesalahan tersebut berkaitan dengan manusia lain maka prosedurnya mengharuskan kita minta maaf terlebih dahulu kepada orang tempat kita berbuat salah tersebut, baru kemudian bertobat kepada Allah

 

Secara naluriah kenusiaan setiap orang butuh akan kesenangan dan kenikmatan keduniaan, dan itupun tidak dilarang oleh agama kita. Dari 5 ibadah pokok yang menjadi Rukun Islam hanya syahadat yang tidak membutuhkan biaya. Untuk itu Allah telah menyediakan alam semesta ini sebagai sumber rezki bagi umat manusia.  Untuk mengelola dan mendaya gunakan alam semesta ini sebagai sumber rezki bagi umat manusia Allah menurunkan wahyu sebagai penuntun.

Nafsu yang tidak terkendali menyebabkan manusia lupa pada tuntunan wahyu, sehingga manusia melakukan apa saja untuk mendapatkan kesenangan dan kenikmatan tersebut. Reski yang diperoleh dengan tanpa keredhaan Allah swt. cendrung melahirkan kesengsaraan dan malapetaka bagi manusia yang memperolehnya. Untuk itu agama kita menganjurkan agar setiap muslim memiliki Sifat Raja’ atau berharap akan keredhaan Allah atas segala rezki, kurnia dan nikmat yang diperolehnya.

 

 

  1. A. Perilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari

Banyak sekali perilaku terpuji yang yang dapat dilakukan oleh seseorang dalam kehidupannya sehari-hari, baik sebagai anggota keluarga, sebagai anggota masyarakat, sebagai warga negara dan terutama sebagai seorang mukmin.. Diantaranya yang kita bahas dalam tatap muka ini adalah:

 

  1. Berperilaku Raj’a. Raj’a berasal dari bahasa Arab                 artnya harapan.  Kata raja’ di sini, digunakan dalam pengertian sikap menaruh harapan akan keredaan Allah atas rezki, rahmat serta kurunia yang diperoleh seseorang dalam ia menjalankan kehidupannya sehari-hari . Setiap rezki dan keberhasilan yang diperoleh dengan tanpa disertai keredaan Allah, karena kesalahan niat serta proses melakukannya, dan atau merlanggar ketentuan yang telah ditetapkan Allah tidak akan memberi berkah dan bahkan cendrung menimbulkan kesengsaraan.

 

  1. Berperilaku Tobat. Tobat artinya kembali. Maksudnya apa kita terlanjur melakukan suatu kesalahan dalam bentuk berbuat maksiat atau melanggar ketentuan Allah  disadari bahwa perbuatan itu salah atau melanggar ketentuan Allah lantas kita kembali kepada jalan yang diredhai oleh Allah maka itulah yang dinamakan dengan tobat. Ahli sunnah wal jamaah menyatakan bahwa syarat  tobat yang sah itu ada tiga macam yakni :

a. Menyesali perbuatan maksiat yang telah dilakukan.

b. Menjauhi perbuatan maksiat yang telah dilakukan tersebut.

c.  Bertekat tidak akan mengulangi lagi perbuatan maksiat tersebut.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam Qs. Al Baqarah : 222, An Nur: 31, Ali Imran : 90, An Nisa’ : 110, Al Maidah 34, dan At Tahrim : 8.

 

  1. Berperilaku Optimis. Optimis artinya penya pengharapan / pandangan baik dalam menghadapi segala sesuatu atau persoalan. Seorang muslim memiliki sifat optimis dalam kegiatan perekonomian artinya, ia percaya bahwa Allah itu rahman dan rahim, rahmat Allah itu akan diberikan Nya kepada siapa yang disukai Allah. Seseorang akan memperoleh rezki dari Allah sesuai dengan kadar usahanya.  Seorang muslim wajib optimis dalam mencari rezki dalam kehidupan dan berharap akan memperoleh rahmat dan kurnia dari Allah. Dalam al Quran surat Al Insyirah ayat 7 & 8 dijelaskan sebagai berikut :

 

 

 

Artinya :

 

Maka apabila kamu telah selesai ( dari sesuatu urusan ), kerjakan dengan sungguh-sungguh ( urusan ) yang lain . Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.  ( Q.S Al Ansyirah : 7 & 8 ) .

 

  1. Bersikap Dinamis. Dinamis artinya selalu berpikiran maju,  selalu ingin terus berbuat lebih baik dari yang telah diraih. Dalam sebuah ungkapan hikmah disebutkan sebagi berikut :

 

 

 

 

Artinya :

 

Barang siapa yang hari ininya sama seperti hari  kemaren maka ia   adalah orang yang merugi, barang siapa yang hari ininya lebih buruk dari hari kemaren dia adalah orang terkutuk, dan barang siapa yang hari ininya ebih baik dari hari kemaren maka dialah orang yang beruntung.

 

  1. Bersikap kreaktif. Kreaktif artinya selalu memiliki ide-ide baru dalam memecahkan persoalan yang sedang dihadapi. Alam ini sangat luas di dalamnya terkandung rahmat dan kurnia Allah untuk manusia, barang siapa yang memiliki ide-ide baru untuk mengolahnya maka ia akan memperoleh rezki yang berlimpah dari rahmat dan kurnia Allah tersebut

 

Kegiatan dan Tugas Dalam Proses.

  1. Mendengarkan informasi dari guru tentang perilaku terpuji, kemudian menarik kesimpulan sendiri.
  2. Membahas bahan ajar yang telah disediakan dengan teman sebangku dan mempertanyakan hal-hal yang dirasa perlu .
  3. Membahas hal-hal yang dipertanyakan dengan guru dan menarik kesimpulan.

 

PERTEMUAN KEDUA

  1. B. Membiasakan diri berperilaku terpuji.

Kebiasaan tidak bisa tumbuh dengan sendirinya, ia harus dilatih dan dikembangkan. Kebiasaan adalah merupakan titik singgung ( perpaduan dari ) pengetahuan dan keterampilan, sikap, serta keyakinan yang dimiliki . Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut :

 

 

 

Pengetahuan & keterampilan

Sikap

 

Kebiasaan

 

Keyakinan beragama

Stephen R. Covey dalam bukunya yang berjudul The 8 th Habit menjelaskan tentang kebiasaan sebagai berikut :

Saya selalu mendampingi Anda. Saya adalah pembantu Anda yang paling rajin, atau beban Anda yang paling berat. Saya akan mendorong Anda maju, atau menarik Anda jatuh kedalam kegagalan. Saya sepenuhnya berada dalam kendali Anda. Setengah dari apa yang Anda lakukan mungkin akan Anda serahkan kepada saya, dan saya akan dapat melakukannya dengan cepat, tepat. Saya mudah dikelola, Anda hanya perlu tegas terhadap saya. Tunjukkan bagaimana tepatnya Anda ingin agar sesuatu dikerjakan, dan setelah beberapa pelajaran saya akan melakukannya secara otomatis. Saya adalah pelayan bagi semua orang hebat, dan apa boleh buat, juga bagi orang-orang yang gagal. Mereka yang gagal saya yang membuat mereka gagal. Saya bukan mesin, sekalipun saya bekerja dengan preposisi dari sebuah mesin, ditambah kecerdasan manusia. Anda mau mendayagunakan saya dan mendapatkan keuntungan, atau memanfaatkan saya untuk kehancuran, hal itu tak ada bedanya bagi saya. Ambil saya, latih saya, tegas terhadap saya, dan saya akan letakkan dunia dibawah kaki Anda. Anggap enteng saya, saya akan hancurkan Anda.

 

Siapa saya  ?    Saya adalah kebiasaan

 

 

 

 

 

 

  1. C. Perilaku tercela dalam kegiatan perekonomian.

Menjadikan perilaku baik menjadi sebuah kebiasaan dalam kehidupan membutuhkan latihan dan kerja keras setiap pribadi muslim. Apabila ia sudah menjadi kebiasaan dalam keseharian maka ia akan terlaksana secara otomatis dan tumbuh menjadi karakter atau kepribadian muslim tersebut. Sebagai mana dinyatakan di atas perilaku seseorang akan dibentuk dan diwarnai oleh ilmu dan keterampilan, sikap serta keyakinan yang dianutnya. Hal inilah yang disebut kecerdasa intelegensi/pikir, kecerdasar emosional/jiwa serta kecerdasan spiritual/agama.

  1. D. Perilaku tercela dalam kegiatan perekonomian.

Perilaku tercela adalah semua perilaku yang bertentangan dengan ketentuan syara’, undang-undang dan peratuaran yang berlaku, serta adat dan kebiasaan yang telah melembaga dalam masyarakat. Perilaku tercela ini akan memberikan dampak buruk bagi sipelakunya dan orang lain yang terkait dengan perilaku tersebut. Perilaku tercela yang akan kita bahas dalam tatap muka ini adalah sebagai berikut :

 

  1. Perilaku Ujub. Ujub artinya bermegah-megah atau berbangga diri dengan apa yang dimilikinya. Orang yang bersifat ujub berpendapat  bahwa apa yang ia miliki adalah hasil jerih panyahnya semata,  tampa ada bantuan dari orang lain dan bukan karena rahmat ( rahman dan rahimnya) Allah. Orang ujub merasa dirinya selalu benar, tidak pernah salah dan keliru, tidak ada orang yang lebih dari dia, sehingga ia tidak mau menerima saran dan kritik dari orang lain . Penjelasan Allah dalam al Quran surat At Taubah ayat 55 menjelaskan :

 

 

Artinya :

 

Dan janganlah harta benda serta anak-anak yang kamu miliki menarik

kamu menjadi bersikap ujub. Alah akan mengazab mereka didunia dengan harta dan anak – anak mereka, dan mereka akan meninggal dalam keadaankafir . ( Q.S. At Taubah : 55 ) Orang yang berperilku ujub biasanya akan lupa diri sehingga semua usaha yang telah dirintisnya dengan susah payah akan hancur berantakan.

  1. Perilaku takabur. Takabur dapat disepadankan dengan sombong, orang yang memiliki perilaku takabur selalu menganggap enteng segala sesuatu sehingga sikap kehati-hatian terabaikan. Orang takabur menganggap rendah orang lain sehingga ia tidak mau menerima saran dan kritik dari orang lain. Penjelasa Allah dalam al Quran surat An Nahl ayat  23  sebagai berikut :

 

Artinya :

Tidak diragukan lagi, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang takabur ( Q.S An Nahal, 16: 23 )

  1. Perilaku biasa bersumpah palsu.  Sumpah palsu yaitu seorang  bersumpah tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Misalnya pedagang  bersumpah bahwa barang dagangannya adalah kuwalitas eksport, barang alsi, tetapi sebenarnya barang itu adalah barang tiruan yang berkualitas rendah. Perilaku yang seperti ini disamping telah bersumpah palsu ia juga telah tidak jujur, menipu orang lain, menipu diri sendiri, dan memakan riba.

 

  1. E. Menghidari perilaku tercela.

Seseorang yang melakukan perilaku tercela cepat atau lambat akan memberikan dampak buruk pada dirinya, ia akan menerima akibat dari ulah dan perilaku tercela yang ia lakukan. Ia akan menerima azab dari Allah, sebagai hukuman dari perilakunya tersebut. Akibat dari perilaku tercela yang dilakukan seseorang, bisa diterimanya  di dunia, dan yang pasti diakhirat kelak azab neraka telah menunggunya. Perilaku buruk seseorang juga akan menjadi musibah yang menyengsarakan orang lain yang berada sekitarnya, dan atau yang lakukan komunikasi dengan nya. Hal ini tentu akan menyebabkan orang lain menjauhi dan memusuhinya.

Seorang mukmin harus menjauhi semua perilaku tercela. Hal ini dapat dilakukan  dengan menambah pengetahuan dan keterampilan, memperbaiki sikap dengan melatih kematangan emosional, serta mempertebal iman dan memperbaru-barui iman itu sendiri. Keimanan seseorang memiliki fluktuasi, adakalanya kuat dan tiba-tiba bisa menipis, akibat pengaruh lingkungan serta beban kehidupan. Sebagai mana dinyatakan di atas bahwa perilaku dan kebiasaan seseorang terbentuk dari titik singgung antara pengetahuan, sikap dan keyakinan.

Keyakinan, bahwa Allah maha melihat, tidak satupun yang luput dari pengamatan Allah baik yang nyata ataupun yang tersembunyi akan mampu menghindarkan seseorang untuk melakukan perilaku tercela. Untuk memelihara agar keyakinan itu tetap tumbuh subur dalam hati, hendaklah selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak zikir, shalat dan berdoa serta ibadah lainnya.

 

Ps. Usang,  juli    2009

Guru Mata Pelajaran

 

 

Drs. Taufik Sabirin, M.Pd.

Nip. 131 853 131.

 

Posted by: taufiksabirin | November 27, 2009

RPP PAI SK 4 Kelas XI SEMESTER GANJIL

RANCANGAN PR0GRAM PEMBELAJARAN( RPP)

 

Mata Pelajaran             : Pendidikan Agama Islam

Kelas / Semester         : XI / ganjil

Kurikulum Acuan          : KTSP SMA 1 Batang Anai

Tahun Pelajaran           : 2008-2009

Alokasi Waktu             : 2 x pertemuan ( 180 menit )

Standar Kompetensi     : 4 ( Membiasakan Berperilaku terpuji )

Kompetensi Dasar       :

4.1. Menjelaskan pengertian Tobat dan Raja’

4.2. Menampilkan contoh perilaku tobat dan raja’.

4.3. Membiasakan berperilaku Tobat dan raja’

SKBM                         :87, 80, dan 60

Indikator

4.1.1. Mendiskrepsikan pengertian perilaku terpuji.

4.1.2. Menyebutkan perilku tobat dan raja’

4.2.1. Mengidentifikasi ciri-ciri orang yang berperilaku tobat..

4.2.2. Mengidentifikasi orang yang berperilaku raja’.

4.2.3. Mencontohkan perilaku baik terutama tobat dan raja’

4.3.1. Menganalisis upaya yang dapat dilakukan untuk membiasakan diri    berperilaku terpuji.

4.3.2. Membiasakan diri untuk berperilaku tobat dan raja’.

Tujuan Pembelajaran

  1. Memiliki pemahaman yang jelas tentang perilaku terpuji menurut ketentuan agama.
  2. Dapat menjelaskan pengertian, cirri-ciri perilaku tobat dan raja’.
  3. Memiliki pemahaman yang jelas tentang keutamaan orang yang berperilaku tobat dan raja’.
  4. Dapat memberikan contoh perilaku tobat dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Dapat memberikan contoh perilaku raja’ dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Dapat membiasakan diri berperilaku tobat dalam kehidupan sehari-hari.
  7. Dapat membiasakan diri berperilaku raja’ dalam kehidupan sehari-hari.

 

Materi Esensial

 

  1. Pengertian perilaku.
  2. Batasan perilaku terpuji dalam ketentuan syara’
  3. Penertian perilaku :
    1. Raja’
    2. Tobat.
    3. Optimis.
    4. Dinamis
    5. Kreaktif.
  4. Pengertian pembiasaan dalam perilaku sehari-hari.
    1. Upaya yang dapat dilakukan untuk dapat berperilaku terpuji.
    2. Batasan perilaku tercela dalam ketentuan syara’
    3. Beberapa contoh perilaku tercela.
    4. Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari perilaku tercela.

 

 

 

Pendekatan dan Metoda.

Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah Contectual Teaching and Learning (CTL)

 

Metoda yang digunakan adalah :

 

  1. Ceramah bervariasi.
  2. Inquary terbimbing
  3. Team Question.
  4. Tugas mandiri.

Kegiatan Sebelum Tatap Muka.

 

  1. Mencari 3 buah ayat yang berkaitan dengan perilaku terpuji, terjemahkan dan tarik kandungannya.
  2. Mencari 3 buah ayat yang berkaitan dengan perilaku tercela, artikan dan tarik kesimpulan.
  3. Menginventarisir sebanyak mungkin contoh perilaku terpuji dan tercela.

 

Kegiatan Pembelajaran

 

PENDIDIK PESERTA DIDIK ALOKASI WAKTU

 

TATAPMUKA PERTAMA

Pendahuluan

  1. Mengkondisikan kelas dengan mengabsen dan menata tempat duduk peserta didik.

 

  1. Memeriksa satu persatu tugas sebelum tatap muka/ tugas terstruktur peserta didik.
  2. Membahas tugas peserta didik.

 

Kegiatan Inti

A. Ekplorasi

  1. Menginformasikan pengertian dan batasan perilaku terpuji khususnya sifat raja’ dan tobat, optimis, dinamis dan kreaktif.

 

 

 

  1. Membimbing peserta didik berdiskusi dengan teman sebangku.

 

B. Elaborasi

 

 

  1. Mengajukan beberapa pertanyaan pengarah, tentang cirri-ciri perilaku tobat dan raja’.

 

  1. Membimbing siswa untuk menemukan perilaku terpuji lainnya.

 

C. Konfirmasi.

  1. Menunjuk beberapa orang peserta didik secara acak untuk menyampaikan hasil diskusi dan temuannya.

 

  1. Memberikan penguatan terhadap hasil diskusi dan temuan peserta didik.

 

  1. Membimbing peserta didik merumuskan kesimpulan

 

Kegiatan Penutup.

  1. Memberikan tugas terstruktur yang berkaitan dengan materi selanjutnya.

 

 

 

TATAP MUKA KEDUA

Kegiatan Awal

  1. Mengkondisikan kelas dengan mengambil absen dan menata tempat duduk peserta didik.

 

  1. Memeriksa tugas sebelum tatap muka/tugas terstruktur

 

  1. Membahas tugas yang telah dikerjakan peserta didik.

Kegiatan Inti.

  1. Eksplorasi.

  1. Menginformasikan beberapa perilaku tercela yang harus dihindari peserta didik.

 

 

  1. Membimbing peserta didik mempelajari bahan ajar yang telah disediakan.

 

 

 

  1. Elaborasi.

  1. Mengajukan beberapa pertanyaan pengarah untuk menuntun peserta didik menemukan upaya agar perilaku tobat dan raja’ serta perilaku terpuji lainnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

  1. Membimbing peserta didik untuk menemukan upaya penerapan perilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari.

 

  1. Konfirmasi.

  1. Memberikan kesempatan kepada beberapa orang peserta didik untuk menyampaikan kesimpulan dan temuannya.

 

  1. Memberikan penguatan.

 

  1. Membimbing merumuskan kesimpulan akhir.

 

Kegiatan Penutup

  1. Menginformasikan kompetensi berikutnya.

 

10. Memberikan tugas terstruktur sebagai kegiatan sebelum tatap muka berikutnya.

 

 

 

  1. Menjawab dan mempersiapkan diri untuk belajar

 

 

 

 

  1. Memperlihatkan tugas yang telah dikerjakan.

 

 

 

  1. Menanyakan tugas yang kurang dimengerti

 

 

 

 

 

 

  1. Mendengarkan informasi dari guru dan menarik kesimpulan.

 

 

 

 

 

 

  1. Membahas dengan teman sebangku bahan ajar yang telah disediakan tetang keutamaan perilaku tobat dan raja’ .

 

 

 

 

  1. Menemukan ciri-ciri perilaku tobat dan raja’ dengan mempertanyakan dan mendiskusikan dengan teman sebangku.

 

 

  1. Menemukan perilaku terpuji lainya, seperti optimis, dinamis dan kreaktif beserta ciri dan keutamaannya.

 

 

 

  1. Beberapa orang peserta didik yang ditunjuk menyapaikan hasil diskusinya dan temuan lainya.

 

 

 

  1. Menyimak dan mencatat penguatan yang diberikan pendidik.

 

 

  1. Merumuskan kesimpulan.

 

 

 

 

  1. Mengerjakan tugas terstruktur yang diberikan pendidik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Menjawab dan duduk ditempat duduk yang ditentukan.

 

 

 

  1. Memperlihatkan / menyerahkan tugas yang telah diselesaikan.

 

  1. Menyampaikan ide dan mempertanyakan tugas yang kurang dipahami.

 

 

 

 

 

  1. Mencengarkan informasi dari guru dan menarik kesimpulan.

 

 

 

 

  1. Mempelajari dan membahas dengan teman sebangku bahan ajar yang telah disediakan tentang beberapa perilaku tobat, raja’, dinamis, optimis dan kreaktif yang terdapat didalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

  1. Mempertanyakan dan mendiskusikan dengan teman sebangku upaya-upaya yang dapat dilakukan agar perilaku tobat dan raja’ serta perilaku terpuji lainnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

 

 

 

 

  1. Menemukan taktik dan strategi untuk menerapkan perilaku terpuji dan menghindari perilaku tercela dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

 

  1. Bebrapa orang peserta didik menyampaikan kesimpulan dan temuannya.

 

 

 

 

  1. Menyimak dan mencatat penguatan yang diberikan pendidik.
  2. Menarik kesimpulan akhir.

 

 

 

 

  1. Mendengarkan informasi dari guru.

 

 

  1. Mengerjakan tugas yang diberikan guru.

 

 

 

Sistim Penilaian

  1. Penilaian proses dilaksanakan selama proses pembelajaran berlansung dengan menggunakan pedoman pengamatan ( terlampir).

 

  1. Penilaian hasil belajar, dilakukan  tes tertulis dalam bentuk mexing assesment  ( soal terlampir )

 

Media dan Sumber Belajar

1.  Al Quran.

2.  Bahan ajar

3.  Power   point.

4.  Buku pelajaran pendidikan Agama Islam kls XI

Tugas terstruktur.

  1. Menyalin dan mencari arti beberapa ayat yang berkaitan dengan dasar kegiatan transaksi ekonomi dalam Islam
  2. Menarik kesimpulan dari kandungan ayat-ayat tersebut tentang syarat, rukun dan ketentuan lainnya tentang kegiatan transaksi ekonomi dalam Islam.

Ps. Usang,  Januari 2009.

Guru Mata Pelajaran.

Mengetahui

Kepala Sekolah.

 

Drs. Taufik Sabirin M.Pd.

NIP. 131 853 131

Drs. Mulyadi, R.

NIP. 131 472 082

 

Posted by: taufiksabirin | November 21, 2009

Bahan Ajar SK 5 PAI SMA Kelas XI

BAHAN AJAR

Mata Pelajaran                           : Pendidikan Agama Islam

Kelas/ Program/Semester        : XI/Gsanjil

Tahun Ajaran                              : 2009 – 2010

Standar Kompetensi                 : Memahami Hukum Islam Tentang Muamalah.

Waktu                                          : 6x 45 menit ( tiga kali pertemuan )

KKM                                            :  82, 80 dan 76

 

Kopetensi Dasar

5.1.   Menjelakan azas-azas transaksi ekonomi dalam Islam.

5.2.   Memberikan contoh transaksi ekonomi dalam Islam.

5.3.   Menerapkan transaksi ekonomi Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Indikator

5.1.1.   Mendeskripsikan pengertian mua’malah.

5.1.2.   Mengidentifikasi ketentuan jual beli dalam Islam .

5.1.3. Mengidentifikasi macam-macam jual beli yang berkembang dalam masyarakat. dan membandingkannya dengan ketentuan hukum Islam

5.1.4.   Mendiskripsikan macam-macam jual beli yangterlarang dalam ajaran Islam.

5.1.5.   Mendiskripsikan ketentuan hukum Islam tentang riba

5.1.6.   Menjelakan macam-makan kerjasama ekonomi dalam Islam.

5.1.7.   Menganalisis ketentuan Islam tentang perbankan.

5.1.8.   Menganalisis ketentuan tentang asuransi.

5.1.9.   Menganalisis ketentuan Islam tentang lembaga ekonomi non perbankan.

5.2.1.   Mendiskripsikan ketentuan transaksi ekonomi dalam Islam.

5.2.2.   Menunjukan contoh dan model transaksi ekonomi dalam Islam.

5.3.1. Mengidentifikasi upaya yang dapat dilakukan untuk menerapkan konsep ekonomi Islam dalam kehidupan sehari-hari.

PERTEMUAN PERTAMA

Materi Pembelajaran.

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dalam  dimensi ciptaan dari sekian banyak makhluk yang diciptakan oleh Allah. Oleh karenanya ia diberikan predikat sebagai khalifah di muka bumi ini. Sebagai khalifah kepadanya diberikan kewenangan untuk mengelola, mendayagunakan dan memelihara alam semesta segagai sumber kenikmatan dan rezki dari Allah. Islam melegitimasi konsep hak miliki perorangan atas benda benda nyata dan tidak nyata, bergerak dan diam yang merupakan bahagian dari alam semesta sebagai amanah dari Allah swt. untuk manusia.

Implikasi dari kewenangan yang diberikan Alah kepada manusia untuk mengelola, mendayagunakan dan memelihara alam semesta ditetapkanlah konsep mu’amalah dalam Islam. Yakni sebuah sistem perekonmian yang mengatur tentang kepemilikan, perpindahan kepemilikan dan kerjasama perekonomian. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin ketentaraman, kedamaian dan kesejahteraan kehidupan umat manusia.

Allah berfirman dalam QS. Al Qasas 77 sebagai berikut :

 

 

 

Artinya    :  Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepada mu (kebahagian) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu ( kenikmatan ) duniawi dan dan berbuat baiklah ( kepada orang lain ) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di ) muka ) bumi. Sesungguhnya Allah tidak  menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. ( QS. Al Qasas 77 ).

  1. Pengertian dan Hukum Jual-Beli.

Sebagai makhluk sosial manusia tidak bisa hidup sendiri, ia memiliki ketergantungan terhadap orang lain yang berada disekitarnya, termasuk terhadap alam sekitar. Ia tidak mungkin mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, apabila tidak  bekerja sama dengan orang lain. Salah satu cara dalam memenuhi kebutuhan tersebut adalah dengan melakukan jual beli.

Kegiatan jual beli itu sudah ada semenjak manusia itu ada, dan berkembang setara dengan perkembangan kebudayaan manusia itu sendiri. Jual beli mulai dari bentuk yang sangat sederhana ( barter ), yakni  dalam bentuk tukar menukar barang kebutuhan. Kemudian berkembang dengan menggunakan alat tukar ( mata uang )  sampai jual beli dengan kartu kridit dan dalam dunia maya ( internet ), dan akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan.

Secara sederhana jual beli dapat diartikan ‘akad / persetujuan saling mengikat antara dua orang atau lebih ( pembeli dengan penjual ) dengan syarat – syarat tertentu. Pada dasarnya jual beli itu hukumnya mubah ( boleh ). Kemudian hukum jual beli itu bisa bergeser sesuai dengan situasi dan kondisi yang melatar belakangi jual beli tersebut.  Jual beli bisa menjadi wajib apabila pedagang melakukan penimbunan barang yang berdampak pada kelangkaan barang tersebut, hingga  harga melambung tak terkendali sedangkan masyarakat sangat membutuhkannya maka pedagang itu wajib menjualnya dan penguasa (pemerintah)  berhak untuk memaksa agar dilakukan jual beli dengan harga sama seperti sebelum dilakukannya penimbunan barang. Jual beli bisa menjadi haram hukumnya bila barang yang diperjual belikan itu haram hukumnya, atau mengandung unsur tipuan yang merugikan salah seorang dari penjual atau pembeli.

Penjelasan Allah dalam surat An Nis’a   ayat 29 sebagai berikut :

 

 

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesama kamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan jual beli yang berlansung suka sama suka diantara kamu. ( Q.S. An Nis’a, 4 : 29 )

 

Banyak lagi ayat-ayat al Quran yang menjelaskan tentang jual beli seperti Surat Al Baqrah ayat 275dan 278, surat Al Isra’a ayat 35, surat al Jum’ah ayat 9 dll.

 

Hadits Nabi riwayat Bukhari dan Muslim berbunyi sebagai berikut :

 

 

Artinya :

Nabi Muhammad SAW telah melarang jual beli yang mengandung unsur penipuan ( H.R. Bukhari dan Muslim ).

  1. Rukun dan syarat Jual Beli.

Jual beli menjadi sah apabila memenuhi ketentuan rukun dan syarat jual beli. Pada jual beli di era kemajuan teknologi informasi ini ada kalanya rukun dan syarat itu tersamarkan atau terkandung secara inplisit. , tetapi ia tetap ada dalam bentuk lain yang lebih praktis serta memenuhi semua indikator, dan dapat dipertanggung jawabkan. Jual beli akan menjadi batal atau tidak sah apa bila salah satu rukun atau syaratnya diabaikan dan atau tidak terpenuhi.

Ada tiga rukun dari jual beli tersebut yakni :

  1. Penjual dan pembeli. Kedua orang ini harus memnuhi persyaratan sebagai berikut :
  • Keduanya harus dalam kesadaran penuh, tidak gila, hilang ingatan, pingsan atau dibawah pengaruh hipnotis.
  • Dengan kehendak sendiri, tidak ada paksaan dari pihak lain.
  1. Alat tukar dan benda yang diperjual belikan, dengan syarat sebagai berikut :
  • Benda itu tidak barang haram baik dari segi zatnya ataupun prosedur kepemilikannya.
  • Benda itu bernilai dan bermanfaat.
  • Benda itu dapat dikuasai dan diserah terimakan.
  • Milik sendiri atau diberi kuasa untuk menjualnya.
  • Terukur zat, sifat dan velumenya.

 

  1. Akta transaksi ( akad ) atau lafaz ijab dan kabul. Akad jual beli dimaknai proses transaksi antara penjual dengan pembli. Dapat dilakukan secara lansung ataupun bermedia. Media artinya alat atau kondisi yang digunakan dalam proses jual beli, misalnya bank, mesin jual beli, internet dan sebagainya. Semua proses tersebu harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
  • Tidak punya jangka waktu tertentu.
  • Tidak dikaitkan dengan masalah lain yang tidak ada kepastiannya.

Dalam proses jual beli agama kita membuka peluang untuk dilakukan sebuah kesepakatan ( MOU ) yakni, kesepakatan rentang waktu tertentu  untuk berfikir apakah proses jual beli itu dilanjutkan atau dibatalkan.  Hal ini dalam agama kita disebut  dengan istilah Khiar .  Bentuk khiar yang lazim dilakukan ada tiga macam, yaitu :

  1. Khiar Majlis, rentang waktu berfikir selama keduanya masih belum berpisah artinya masih pada lokasi tempat terjadinya transaksi.
  2. Khiar Syarat, rentang waktu berfikir yang disepakati misalnya 2 hari atau satu minggu dan dijadikan syarat dalam jual beli.
  3. Khiar Aibi (cacat), kesepakatan untuk membatalkan proses jual beli apabila ternyata barang yang diperjual belikan terdapat cacat bawaan (cacat asli dari pabrik )

Dilihat dari proses jual beli agama kita membagi jual beli tersebut kedalam tiga kategori, yakni :

  1. Jual beli yang sah, yakni jual beli yang memenuhi ketentuan rukun dan syarat secara utuh.
  2. Jual beli yang sah tetapi terlarang, yakni jual beli yang memenuhi ketentuan rukun dan syarat jual beli tetapi di dalamnya terkandung unsur tipuan dan merugikan salah satu pihak penjual pembeli, merusak ketentuan umum atau mempersempit gerak barang dan pasaran.
  3. Jual beli yang tidak sah, yakni jual beli yang tidak memenuhi semua atau salah satu rukun dan syarat jual beli.

Kata riba berasal dari bahasa Arab Ar Ribaa secara ethimologi artinya berlebih atau tumbuh. Kemudian bahasa itu dikukuhkan sebagai salah satu nama dari kegiatan ekonomi yang terlarang dalam Islam. Secara syar’a riba itu maksudnya kelebihan atau keuntungan yang diperoleh seseorang  dari suatu kegiatan ekonomi karena kebodohan, kelemahan atau keterpaksaan orang lain.

Penjelasan Allah dalam surat  Ali Imran ayat 130 :

 

 

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapatkan keberuntungan ( Q.S. Ali Imran : 130 )

Di samping ayat di atas dalam al Quran banyak ayat yang menjelaskan tentang riba tersebut antara lain, surat Al Baqarah ayat 275 dan 278, surat Ar Ruum ayat 39  dan banyak lagi ayat-ayat lainnya. Kesemua ayat-ayat tersebut mengharamkan perbuatan riba, dan barang siapa yang tetap melakukannya maka ia tidak akan mendapat berkah dari hartanya tersebut dan bahkan akan menyusahkan pemiliknya.

Riba itu dilarang dalam agama kita karena memberikan dampak negatif untuk orang yang mempraktekan kegiatan ekonomi riba dan juga akan merusak tatanan kehidupan masyarakat yang Islami. Diantara akibat buruk dari riba tersebut adalah

  1. Riba akan memupuk sikap rakus dan tamak orang kaya dalam mengumpulkan dan menimbun harta kekayaan.
  2. Riba akan menyebabkan semakin dalamnya jurang antara si kaya dengan si miskin, yang kaya bertambah kaya dan yang miskin bertambah miskin.
  3. Riba akan memutus tali persaudaraan antara sesama muslim.
  4. Riba akan menghambat tumbuhnya ekonomi kerakyatan dan ekonomi dikuasai oleh segelintir orang kaya saja.
  5. Riba akan menghilangkan sikap tolong menolong yang dianjurkan agama Islam.
  1. Macam-macam Riba

Para ahli fikih membagi riba tersebut kedalam 4 bahagian berdasarkan proses terjadinya kegiatan riba tersebut. Keempat jenis riba tersebut haram hukumnya dan yang paling dikutuk oleh Allah adalah riba Nasiah. Ke 4 macam riba tersebut adalah   :

  1. Riba Fadli, yaitu keuntungan yang diperoleh oleh seseorang sebagai hasil penukaran barang sejenis karena kebodohan atau kelemahan salah satu pihak, misalnya: menukarkan kambing kecil dengan kambing yang lebih besar dengan berbagai dalih dan bujuk rayu sehingga sibodoh mau menukarkannya.
  2. Riba Qardi, yaitu keuntungan yang diperoleh dari hasil memjamkan uang kepada orang yang dalam kesulitan dengan perjanjian harus membayar lebih besar dari jumlah pinjaman.
  3. Riba Nasiah, yaitu keuntungan yang diperoleh secara berlipatganda karena kesulitan dan keterpaksaan orang lain, misalnya seseorang meminjam uang karena kesulitan atau musibah yang menimpanya  dan berjanji akan membayar lebih dalam jangka waktu tertentu. Setelah sampai masanya ia tidak mampu membayar, maka oleh orang yang meminjamkan memberi tengang waktu dengan syarat bunga pinjamannya dijadikan pokok utang dan berbungan lagi. Sehingga bunga menjadi berbunga.
  4. Riba Yad, yaitu keuntungan yang diperoleh oleh sipenjual dari kelengahan dan kekilafan pembeli dengan cara mengurangi timbangan atau menipukan jumlah barang yang dijualnya atau mengganti barang dengan kualitas yang lebih rendah.

Kegiatan dan Tugas dalam Proses

  1. Mendengarkan informasi dari guru dan kemudian menarik kesimpulan sendiri.
  2. Membahas bahan ajar yang telah disediakan dengan teman sebangku, kemudian mempertanyakan hal-hal yang dirasa perlu.
  3. Membahas dengan guru hal-hal yang dipertanyakan.
  4. Diskusikan dengan teman sebangku tentang konsep jual beli yang berkembang sekarang seperti jual beli di toko suwalayan, jual beli dengan kridit, jual beli dengan marketting multi level (MML), jual beli melalui internet dan kaitkan dengan ketentuan riba.
  5. Carilah contoh yang sering terjadi dimasyarakat kita tentang jual beli yang sah tetapi terlarang dan jual beli yang tidak sah tetapi tetap dilakukan oleh masyarakat masing-masing 3 buah.
  6. Membahas dengan guru temuan dan hasil diskusi dengan teman sebangku.

PERTEMUAN KEDUA

Materi Pembelajaran

Realitas kehidupan ditengah – tengah masyarakat, banyak orang yang memiliki kemampuan dan keterampilan untuk melakukan dan mengelola usaha baik dalam bentuk perdagangan, pertanian dan jasa tetapi mereka tidak memiliki modal untuk melakukan usaha tersebut. Dilain pihak banyak pula orang yang memiliki modal dan lahan pertanian tetapi mereka tidak punya kemampuan dan keterampilan untuk melaksanakannya. Tetapi kerja sama dari kedua variabel ini tidak terjalin secara signifikan, walaupun pada dasarnya mereka saling butuh.

Kalaupun kerja sama itu terjadi  pemiilk modal atau lahan cendrung memiliki posisi lebih dominan. Pemilik keterampilan dan skill selalu berada pada posisi lemah dan terkuasai. Mereka memiliki daya tawar yang rendah, hal ini memberikan dampak  cendrung selalu dirugikan dan diperlakukan tidak adil.

Paham filsat objektivistik dan materialistik yang mendasari era industrialisasi dan kemajuan teknologi selalu mengukur segala sesuatunya dari sudut nilai produktivitas seseorang ( materi ). Sedangkan jauh sebelumnya Islam telah menegaskan bahwa materi itu hanyalah dampak dari sebuah proses yang berlandaskan konsep keikhlasan. Nilai humanistik dan kebersamaan dalam kontek keikhlasan yang relegius akan memberikan keuntungan berlipat ganda termasuk keuntungan materi di dalamnya.

Dalam keberagaman kondisi masyarakat pada realitas kehidupan kekinian ini, Islam telah menawarkan beberapa bentuk kerjasama dalam kontek ta’awun (tolong menolong ). Firman Allah dalam Surat Al Maidah ayat 2 : “ Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa dan janganlah tolong -menolong dalam berbuat dosa dan kemaksiatan “

Konsep kerja sama ekonomi dalam Islam secara garis besarnya  dapat dikelompokan menjadi tiga bahagian yaitu : kerjasama usaha, kerjasama dagang dan kerjasama pertanian.

  1. A. Syirkah ( kerjasama usaha )

Dalam dunia usaha dan perdagangan sekarang kita mengenal beberapa bentuk kerja sama, seperti: Firma, yakni  persekutuan antara dua orang atau lebih untuk mendirikan dan menjalankan sebuah usaha, modal dan aktifitas dilaksanakan secara bersama-sama dan keuntungan dibagi berdasarkan perjanjian.  CV ( Commanditaire Venootschaf ) yang merupakan perluasan dari firma. CV merupakan persekutuan antara pemilik modal dengan orang yang mengelola usaha atas sebuah perjanjian yang disepakati bersama. PT  (Perseroan Terbatas) adalah bentuk perusahaan yang memisahkan secara tajam antara pemilik modal dengan orang yang menjalankan usaha,  dimana pemilik modal merupakan sebuah organisasi yang dikelola sedemikian rupa dan investasinya dinilai saham-saham yang memiliki nilai nominal tertentu.

Dalam Islam ada dua konsep kerjasama usaha dan perdagangan yang dikenal dengan nama Syirkah dan Qirad.  Syirkah artinya perseroan atau persekutuan, yaitu kerjasama setara antara dua orang atau lebih dalam suatu bidang usaha. Masing-masing individu dalam kerjasama itu memberikan kontribusi yang setara dan keuntungan dibagi sesuai dengan kontribusi yang diberikannya, baik dari aspek modal, kerja dan kedudukan dalam usaha. Jika syirk’ah itu menyangkut permodalan  saja maka ia disebut syirkah Mudharabah ( syirkah harta ) dan jika syirkah itu menyangkut pekerjaan saja maka ia disebut syirkah ‘inan , ( syirkah kerja ).

Sebuah syirkah dalam agama kita, dinyatakan sah apa bila ia  memiliki unsur yang harus ada (rukun) sebagai berikut :

  1. ‘Aqad ( akta perjanjian di depan notaris ). ‘Aqad ini harus diucapkan dengan jelas dihadapan saksi atau tertera secara ekplisit dalam dekumen perjanjian dihadapan notaris.
  2. Anggota yang bekerjasama ( anggota syirk’ah ) disyaratkan, setiap personal dalam kerjasama ini sudah baliq ( dewasa), waras, merdeka dan tidak dalam tekanan/kehendak sendiri.
  3. Investasi/modal/jasa/kerja, modal yang di investkan harus berbentuk uang atau barang yang bernilai dan dapat dijadikan uang. Apa bila yang di investkan jasa atau kerja maka ia harus yang bernilai dan bermanfaat serta bukan terlarang dalam ketentuan agama .

Ada beberapa ketentuan lain yang memberikan kontribusi signifikan terhadap ke-sah-an dan kelancaran sebuah kerja sama ( syirk’ah ) di antaranya adalah ; kejelasan bentuk dan jenis usaha yang akan dijalankan dalam kerjasama tersebut, kemudian sistem pengambilan putusan. Setiap keputusan yang diambil yang berkaitan dengan kerja sama tersebut harus berdasarkan musyawarah. Sehingga dengan jelas iklim demokrasi dan keadilan terpelihara dengan baik.

Hasil kerjasama dibagi secara adil baik itu keuntungan ataupun kerugian yang ditimbulkan oleh kerjasama tersebut. Pembahagian keuntungan dan tanggung jawab atas kerugian ditetapkan berdasakan besar-kecilnya kontribusi setiap anggota terhadap usaha tersebut, baik dari aspek permodalan, tanggung jawab dalam kerjasama usaha yang dilakukan, serta besar-kecilnya bobot pekerjaan yang dipikul masing-masing personal.

  1. Qirad / Mudharabah ( kerjasama perdagangan )

Kerjasama dua orang atau lebih dalam satu bidang usaha, dimana yang satu berperan sebagai pemilik modal dan yang lainnya pemilik keterampilan atau skill. Dua orang atau lebih yang memiliki kelebihan berbeda ini sepakat untuk melakukan kejasama dalam satu atau beberapa bidang usaha yang diharapkan memberikan manfaat untuk mereka, halal dan diredhai oleh Allah swt.

Qirad menjadi sah apa bila ia memenuhi unsur-unsur sebagai berikut ( rukun qirad ):

  1. ‘Aqad atau perjanjian ekplisit dihadapan saksi atau akta notaris dengan naskah yang jelas dan disetujuai oleh kedua belah pihak.
  2. Orang yang bekerja sama muqid ( pemilik modal ) dan muqtarid ( orang yang menjalankan usaha/ pemilik skill). Kedua orang atau lebih yang bekerja sama harus sudah dewasa, kemauan sendiri, tidak dalam tekanan, dan amanah serta sikap-sikap lain yang terpuji.
  3. Usaha yang digarap/dilakukan. Dalam kerjasama ini usahanya harus jelas dengan batasan-batasan yang disepakati. Kemudian juga usaha itu harus diredhai oleh Allah dan dinyakini mengandung ekspektasi dapat memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak.
  4. Modal dan skill yang jelas. Modal yang diinvestkan harus terukur dan keahlian atau skill yang dimiliki juga harus terukur.
  5. Pembahagian keuntungan harus sudah ditetapkan berdasarkan kesepakatan sebelum usaha dimulai, demikian juga tangung jawab atas kerugian yang ditimbulkan oleh usaha tersebut, harus berkorelasi positif dengan ketentuan pembahagian keuntungan.
  1. C. Kerjasama Pertanian ( Muzaraah, mukhabarah dan musaqqah)

Sudah menjadi pemandangan lumbrah di dalam masyarakat anggraris seperti daerah kita ini, dimana kita jumpai ada msyarakat yang menjadi pemilik tanah ( tuan tanah ) dan ada petani penggarap, yang kedua-duanya dikenal dengan masyakat petani. Pada dasarnya kedua kelompok masyarakat ini saling membutuhkan. Tetapi tidak jarang ada jurang pemisah antara mereka. Petani penggarap memiliki ketidak beruntungan sosial jika dibanding dengan pemilik tanah dan jumlahnya jauh lebih banyak dari pada tuan tanah. Kondisi ini menyebabkan posisi tawar petani penggarap menjadi lemah dimata pemilik tanah yang berujung pada ketidak adilan dan cendrung pada pengekploitasian sesama.

Islam menawarkan beberapa konsep kerjasama ideal dan saling menguntungkan kepada mereka yang dikenal dengan Muzaraah, mukhabarah dan musaqqah.

Apa bila kerja sama antara pemilik tanah dengan petani penggarap, dimana semua modal kerja dan ongkos produksi disediakan oleh pemilik tanah seperti benih, pupuk, alat pertanian, racun dan sebagainya, sedangkan petani penggarap hanya menginvestkan skill dan tenaganya dinamakan dengan muzara’ah . Apa bila semua modal kerja disediakan olah petani penggarap dan pemilik tanah hanya menginvestkan tanahnya saja dalam kerja sama itu maka dinamakan mukhabarah . Apa bila kerja sama antara tuan tanah dengan petani penggarap masing-masingnya menginvestkan tanah dan skill yang dimilikinya, sedangkan modal kerja dan ongkos produksi ditanggung bersama dinamakan  musaqqah .

Ketiga bentuk kerjasama petanian ini memiliki rukun dan syarat yang sama, masing-masingnya harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :

  1. Harus ada ‘aqad, baik lisan ataupun tertulis.
  2. Masing-masing memiliki investasi dalam kerja sama tersebut berdasarkan kesepakatan dengan kelebihan masing-masing.
  3. Harus ditentukan jenis tanaman yang akan ditanam.
  4. Menetapkan pola yang akan dipakai.
  5. Menetapkan pembahagian hasil dan atau tanggung jawab atas kerugian berdasarkan kesepakatan sebelum usaha dimulai.

 

Kegiatan Pembelajaran

  1. Mendengarkan informasi deari guru kemudian menarik kesimpulan sendiri.
  2. Baca dengan cermat Kompetensi Dasar dan Indikator ketercapaian kompetensi yang menjadi arah dan tujuan kegiatan pembelajaran.
  3. Bacalah bahan ajar yang telah disediakan dengan cemat, kemudian pahami dan tarik kesimpulan dengan mempedomani KD dan indikator.
  4. Diskusikan dengan teman sebangku tetang hal-hal yang kurang dipahami.
  5. Membahas dengan guru temuan diskusi dengan taman sebangku dan hal-hal yang kurang dipahami.

Tugas dalam proses

  1. Apa saja manfaat yang dapat diperoleh dari masing-masing konsep kerja sama usaha dan pertanian Islami ini, untuk mengembangkan konsep kerja sama yang diinginkan dan pengembangan ekonomi masyarakat muslim.
  2. Dimana letak beda antara konsep kerjasama Islami ini dengan kerja sama usaha dan pertanian yang berkembang dalam masyarakat  kita sekarang.
  3. Bagaimana pendapatmu, mungkinkah konsep kerjasama ini dijalankan dalam masyarakat kita, kalau mungkin apa alasannya dan kalau tidak mungkin apa alasannya.

PERTEMUAN KETIGA

  1. A. Sistem Perbankan yang Islami.

Banyak para ahli memprediksi  akan sangat susah sekali berharap perkembangan yang signifikan terhadap dunia usaha dan perdagangan, apa bila tidak melibatkan perbankan di dalamnya. Karena aspek permodalan menjadi bagian yang sangat esensial dalam kegiatan tersebut. Bank merupakan lembaga keuangan yang bergerak dalam bidang berupa-rupa jasa keuangan, terutama dalam penyedian permodalan untuk dunia usaha dan perdagangan.

Persoalan yang mengganjal bagi umat Islam terhadap konsep perbankan konvensional adalah persoalan bunga, yang dimaknai sebagai imbalan jasa dari setiap uang yang diinvestasikan ( disimpan ) dan atau dari setiap uang yang  dimanfaatkan ( dipiniam ). Para ulama berbeda pendapat tentang konsep bunga tersebut, ada yang berpendapat sama dengan riba yang dilarang (haram hukumnya) dalam agama Islam, dan ada yang berpendapat boleh karena ia merupakan imbalan jasa dari sebuah investasi atau usaha pembiayaan. Sedangkan pada masa Rasul konsep perbankan ini belum ada dan dalam al Quran ketentuannya sangat umum.

Agar umat Islam terhindar dari keraguan antara boleh dan tidak maka tokoh – tokoh Islam di berbagai negara menawarkan konsep perbankan yang Islami yang dikenal dengan nama Bank Syari’ah. Perbedaan anatara bank syari’ah dengan bank konvensional terletak pada imbalan jasa yang diberikan pada investor dan pengguna jasa pembiayaan. Pada bank konvensional digunakan konsep bunga sedangkan pada bank syari’ah digunakan konsep bagi hasil.

Di Indonesia Bank Islami didirikan oleh Majlis Ulama Indonesia ( MUI ) untuk pertama kalinya pada tanggal 1 Mei 1992 di Jakarta dengan nama Bank Mu’amalah Indonesia ( BMI ) dan sekarang telah berkembang ke seantoro tanah air. Bank Islami pertama didirikan di Mesir pada tahun 1971 dengan nama Bank Sosial Nasser berlokasi di Cairo, sesudah itu di ikuti oleh Saudi Arabia dengan nama Islamic Development Bank pada tahun 1975 di Jedah. Sekarang sudah seluruh negara Islam dan atau negara berpenduduk mayoritas beragama Islam sudah mendirikan Bank Islami, bahkan di Amerika dan Inggeris Bank Islami ini berkembang dengan pesatnya.

Semua produk yang ditawarkan oleh Bank Islami menggunakan konsep bagi hasil ( seperti konsep Mudharabah ) antara pemodal dengan pengguna jasa modal, agar kemungkinan unsur riba yang terdapat dalam konsep bunga dapat dihindari oleh umat Islam. Ajaran Islam mengaris bawahi menghindari masalah syubhat / diragukan lebih baik dari pada terjerumus pada suatu yang salah walaupun tidak  pasti atau tidak disadari.

  1. B. LEMBAGA KEUANGAN NON BANK.

Setelah mempelajari masalah perbankan, tentu banyak pengetahuan yang telah dimiliki, tetap dalam kenyataan mungkin sering didengar di koperasi orang juga bisa menyipan dan meminjam uang. Tentu kamu bertanya apakah koperasi termasuk bank ?  dan bagai mana ketentuan agama Islam terhadap permasalahan tersebut ? Untuk menjawbny mari kita bahas satu persatu.

Pengertian lembaga keuangan non bank adalah semua badan yang melakukan kegiatan di bidang keuangan, yang secara lansung atau tidak lansung menghimpun dana dari masyarakat dengan jalan menabung dan mengeluarkan kertas berharga, dan kemudian menyalurkan dana itu kembali kepada masyarakat melalui pinjaman dan atau pembiayaan investasi atau barang modal.

Diantara lembaga keuangan non bank itu antara lain adalah :

  1. 1. Perusahaan Asuransi.
  2. 2. PT. Pegadaian.
  3. 3. Perusahaan pembiayaan ( Leasing )
  4. 4. Koperasi Sinpan pinjam.
  5. 5. Lembaga perantara penerbit dan perdagangan surat berharga (contoh: PT. Danareksa )
  1. 1. Asuransi yang Islami.

Asuransi merupakan bahagian dari kegiatan mu’amalah, dalam bahasa arab di sebut at-ta’min / pertanggungan. Pengertian asuransi adalah ; jaminan atau pertanggungan yang diberikan oleh penanggung ( perusahaan asuransi ) kepada yang tertanggung ( peserta asuransi ) untuk resiko kerugian sesuai dengan yang ditetapkan dalam surat perjanjian ( polis ) bila terjadi kerugian akibat kecelakaan, kematian, kehilangan dan musibah lainnya, dan tertanggung membayar premi sesuai dengan perjanjian kepada  penanggung.

Konsep asuransi belum dikenal pada jaman rasul dan pada zaman khalifahur rasyidin dan bahkan pada zaman kebangkitan islam dan pembukuan kitab-kitab fikih sekalipun. Konsep asuransi timbul sebagai jawaban dari ketidak menentuan tatanan kehidupan akibat perang yang berkepanjangan dan ancaman kehidupan dari berbagai sudut pandang dan pandangan jauh terhadap kehidupan kedepan, sehingga orang bisnis melihatnya sebagai peluang usaha.

Ketidak adaan nasy yang mengatur secara rinci tentang asuransi tersebut menumbulkan perdebantan dikalangan ulama dan pemikir Islam tentang kebolehan dan ketidak bolehannya. Mengenai prinsip asuransi semua ulama membolehkan, perbedaan hanya terjadi pada sistem penyelenggaraannya. Pada sistem asuransi konvensional dalam tataran operasionalnya ditemukan beberapa hal yang dilarang oleh Islam, antara lain :

  1. Ditemukan unsur garar ( ketidak pastian ).
  2. Adanya unsur maisir ( untung-untungan ).
  3. Adanya unsur riba  dan
  4. Adanya unsur ketidak adilan .

Ketidak pastian terlihat dalam ‘akad ( perjanjian ), ‘akad dalam asuransi dapat digolongkan pada ‘akad pertukaran, yaitu pertukaran pembayaran premi dengan uang pertangungan. Inilah yang menjadi masalah, kita tahu berapa uang pertangungan yang akan kita terima tetapi tidak pasti  berapa premi yang harus dibayarkan,  karena Allahlah yang tahu kapan kita akan meninggal dunia. Dalam Islam syarat ‘akad pertukaran harus jelas berapa yang harus dibayarkan dan berapa pula yang harus diterima. Ketidak adilan dan untung-untungan dapat terlihat pada kasus apabila tertanggung atau peserta asuransi tidak dapat melanjutkan membayar premi karena sesuatu dan lain hal atau mengundurkan diri sebelum habis masa pertangungan maka ia tidak dapat mengambil preminya yang sudah ia bayarkan dan kalau dapat akan sangat tidak sesuai. Unsur riba terdapat pada sistem penginvestasian uang asuransi yang diperhitungkan berdasarkan sistem  bunga.

Untuk menghidari hal-hal terlarang dalam ajaran Islam tersebut para ulama dan pemikir Islam menawarkan konsep asuransi Takaful yaitu saling menanggung atau menanggung bersama. Artinya setiap premi yang dibayarkan telah ditetapkan dalam perjanjian bahwa 2 % dari besarnya premi tersebut diperuntukkan untuk takaful ( saling menanggung), dari sinilah sumber dana yang digunakan untuk memenuhi pertangungan bagi tertangung yang meninggal sebelum habis masa pertangungan atau kerugian lain yang terjadi dalam  masa pertangungan. Kemudian juga dana yang terkumpul didaya gunakan dengan konsep mudharabah ( bagi hasil ).

  1. 2. Lembaga Pembiayaan ( Leasing )

Banyak kita temui sekarang ini didalam masyarakat, orang dan perusahaan yang tidak punya kemampuan untuk menyediakan barang modal untuk ia usahanya seperti, mobil, honda, mesin dan sebagainya. atau orang yang membutuhkan aktiva tetap ( barang tidak bergerak ) untuk memenuhi kebutuhan pokok kehidupannya seperti rumah, tanah dan sebagainya. Untuk membeli secara lansung ia tidak punya modal, untuk meminjam uang ke bank ia tidak memiliki barang atau harta yang akan dijadikan rungguhan/jaminan. Karena untuk meminjam uang ke bank membutuhkan barang yang dapat dijaminkan senilai atau lebih dari jumlah uang yang akan dipinjam, baru bank dapat meminjamkannya.

Untuk memecahkan masalah tersebut semenjak tahun 1972 bermuncullanlah perusahaan lembaga keuangan non perbankan yang bergerak dalam bidang jasa pembiayaan yang dekenal dengan nama Leasing . Unsur-unsur yang terlibat pada sebuah perusahaan pembiayaan ( leasing ) adalah :

  1. Leasor, pihak yang menyediakan jasa pembiayaan kepada orang yang membutuhkan pembiayaan ( lessee ). Leasor berhak memperoleh kembali biaya yang telah dikeluarkannya ditambah dengan laba sesuai dengan kesepakatan awal, yang diterimanya secara cicilan dari lessee.
  2. Lessee, orang yang menerima jasa pembiayaan untuk memenuhi barang modal yang dibutuhkannya. Lessee berkewajiban mengembalikan semua beban pembiayaan ditambah laba yang disepakati secara cicilan sesuai dengan kesepakatan awal.
  3. Supplier, pihak yang menyediakan barang untuk dijual kepada lessee dengan pembayaran tunai dari leasor.

Leasing adalah bentuk usaha baru yang belum muncul dizaman rasullulah, tetapi ia tidak terlepas dari bentuk kerjasama usaha dan modal dalam upaya peningkatan kesejahteraan kehidupan. Agama kita mengatur kerjasama merupakan sebuah keharusan dalam kehidupan selama tidak ada unsur paksaan, penipuan, pengkhianatan dan riba.

Sabda rasullulah dalam sebuah hadits kutsi sebagai berikut :

 

 

 

Artinya    : Dari Abu hurairah ra berkata : Rasullulah bersabda; “Allah berfirman” : Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bekerja sama selama tidak ada salah satu yang dikhianati yang lainnya. Apabila salah satu berkhianat maka aku keluar dari mereka. ( HR. Abu Daud dan disahkan oleh Hakim ).

 

Kegiatan Pembelajaran

  1. Mendengarkan informasi dari guru dan kemudian menarik kesimpulan sendir.
  2. Membahas bahan ajar yang telah disediakan, kemudian tarik kesimpulan dengan mempedomani KD dan indikator.
  3. Diskusikan beberapahal yang aktual tentang perbankan, asuransi dan lembaga keuangan non perbankan.  dengan teman sebangkumu.
  4. Membahas hasil diskusi dengan guru dan mempertanyakan hal-hal yang kurang dipahami..

Tugas Tatap Muka

  1. Deskripsikan dengan jelas perbedaan antara perbankan syariah dengan perbankan konvensional .
  2. Upaya yang dapat kamu lakukan untuk memasyarakatkan penggunan perbankan syariah dalam masyarakat kita. Jelaskan dengan rinci.
  3. Bagaimana pendapatmu tentang perusahaan leasing dari sudut untuk ruginya dan kaitkan dengan konsep riba.
  1. Apa manfaat yang dapat diambil jika kita mengikuti asuransi.

Tugas Terstruktur :

Tugas terstruktur untuk SK 5 ini digabung dengan SK 4 dengan pola 2 konsep yang dikorelasi menjadi satu satuan konsep.

Pasar Usang, Noperber  2007

Guru Mata Pelajaran

 

 

Drs. Taufik Sabirin, M.Pd.

Nip. 131 853 131.

Posted by: taufiksabirin | November 20, 2009

Contoh RPP PAI Kelas XI Semester

RANCANGAN PR0GRAM PEMBELAJARAN ( RPP)


Mata Pelajaran             : Pendidikan Agama Islam

Kelas / Semester         : XI / ganjil

Kurikulum Acuan          : Kurikulum  SMA 1 Batang Anai

Tahun Pelajaran           : 2009-2010

Alokasi Waktu             : 2 x pertemuan ( 180 menit )

Standar Kompetensi     : 2 (Memahami Ayat-Ayat Tentang perintah menyantuni kaum Dhuafa)

Kompetensi Dasar       :

2.1. Membaca QS Al Isra’:26-27 dan QS Al Baqarah : 177

2.2. Menjelaskan arti QS Al Isra’ :26-27 dan QS al Baqarah : 177

2.3. Menampilkan prilaku menyantuni kaum dhuafa seperti kandungan              QS al Isra’ : 26-27 dan QS al Baqarah : 177

KKM                           :74, 87, dan 70

Indikator

2.1.1. Membaca QS Al Isra’:26-27 dan QS Al Baqarah : 177 dengan Fasih.

2.1.2. Dapat menunjukan bacaan alif lam syamsiah dan alif lam qomariah

2.2.1. Mengartikan kata-kata sulit yang digarisbawahi

2.2.2. Menarik kandungan QS al Isra’ :26-27 dan QS al Baqarah :177

2.3.1. Mendeskripsikan hikmah penyantun terhadap kaum dhuafa dalam kehidupan sehari-hari.

2.3.2. Menganalisis bertuk perilaku yang dalam menyatuni kaum dhuafa

2.3.3  Membiasakan diri berperilaku menyatuni kaum dhu’afa.

Tujuan Pembelajaran

Setelah menjalini proses pembelajaran pada SK 2, KD. 2.1, KD 2.2, dan KD 2.3. diharapkan peserta didik dapat :

  1. Membaca QS al Isra’ :26-27 dan QS al Isra’ : 177 dengan fasih
  2. Mengartikan kata-kata sulit yang terdapat pada QS al Isra’ 26-27 Qs al Baqarah : 177
  3. Mengartikan QS al Isra’ :26-27 dan QS al Baqarah : 177 dengan bahasa Indonesia yang benar
  4. Menunjukan hukum bacaan tajwid bacaan alif lam syamsiayah dan alif lam qamariah QS. Al Qarah 177 dan al Isra’ 26-27.
  5. Menjelaskan pengertian kaum dhuafa
  6. Menjelaskan kandungan ayat tentang menyantuni kaum dhuafa
  7. Memberikan contoh bagaimana cara menyantuni kaum dhuafa
  8. Dapat mengamalkan perilaku menyantuni kaum dhuafa dalam kehidupan sehari-hari.

Materi Esensial

  1. QS al Isra’ :26-27 dan QS al Baqarah : 177
  2. Ilmu tajwid tentang alif lam syamsiah dan alif lam qamariah, mad tabi’i, idgham bighunnah, izhar dan ikfa.
  3. Arti kata-kata sulit
  4. Arti QS al Isra’ : 26-27 dan QS al Baqarah : 177
  5. Kandungan al Qur’an surat al isra’ :26-27 dan al Baqarah : 177
  6. Pengertian kaum dhuafa
  7. Pengertian menyantuni kaum dhuafa
  8. Menganalisis perilaku menyantuni kaum shuafa.

Pendekatan dan Metoda.

Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah Contectual Teaching and Learning (CTL)

Metoda yang digunakan adalah :

  1. Ceramah bervariasi.
  2. Diskusi kelompok kecil.
  3. Inquary terbimbing
  4. Tugas mandiri.

Kegiatan Sebelum Tatap Muka ( Tugas terstruktur)

  1. Menyalin QS  al Isra’ :26-27 dan al Baqarah :177
  2. Menyalin arti QS al Isra’ :26-27 dan QS al Baqarah : 177 ( Indikator 2.2.1 )
  3. Menyimpulkan kandungan QS al Isra’ : 26-27 dan QS al Baqarah :177 ( Indikator 2.2.2. )
  4. Menggaris bawahi ketentuan tajwid tentang alif lam qamariah dan alif lam syamsiah, idgham bigunnah,izhar dan ikfha yang terdapat dalam QS al Isra’ :26-27 dan al Baqarah :177. ( Indikator 2.1.2. )

 

Kegiatan Pembelajaran

 

PENDIDIK PESERTA DIDIK ALOKASI WAKTU

 

TATAPMUKA PERTAMA

Pendahuluan

  1. Mengkondisikan kelas dengan mengabsen dan menata tempat duduk peserta didik.

 

  1. Memeriksa satu persatu tugas sebelum tatap muka/ tugas terstruktur peserta didik.
  2. Membahas tugas peserta didik.

 

Kegiatan Inti

A. Ekplorasi

  1. Membacakan QS al Isra’ :26-27 dan al baqarah : 177, kemudian membaca  secara bergiliran sebanyak 5 orang.

 

  1. Membimbing peserta didik berdiskusi dengan teman sebangku.

B. Elaborasi

 

 

  1. Mengajukan beberapa pertanyaan pengarah, tentang ilmu tajwid terutama tentang alif lam syamsiah dan alif lam qamariah, mad tabi’i, idgham bighunnah, izhar dan ikhfa.

 

  1. Membimbing siswa untuk menemukan ilmu tajwid lainnya.

 

C. Konfirmasi.

  1. Menunjuk beberapa orang peserta didik secara acak untuk menyampaikan hasil diskusi dan temuannya.

 

  1. Memberikan penguatan terhadap hasil diskusi dan temuan peserta didik.

 

  1. Membimbing peserta didik merumuskan kesimpulan

 

Kegiatan Penutup.

  1. Memberikan tugas terstruktur yang berkaitan dengan materi selanjutnya.

 

 

 

TATAP MUKA KEDUA

Kegiatan Awal

  1. Mengkondisikan kelas dengan mengambil absen dan menata tempat duduk peserta didik.

 

  1. Memeriksa tugas sebelum tatap muka/tugas terstruktur

 

  1. Membahas tugas yang telah dikerjakan peserta didik.

 

 

 

Kegiatan Inti.

  1. Eksplorasi.

  1. Menginformasikan bagaimana cara menyantuni kaum dhuafa

 

  1. Membimbing peserta didik mempelajari bahan ajar yang telah disediakan.

 

 

  1. Elaborasi.

  1. Mengajukan beberapa pertanyaan pengarah untuk menuntun peserta didik menemukan upaya agar perilaku menyantuni kaum dhuafa dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

  1. Membimbing peserta didik untuk menemukan upaya penerapan perilaku menyantuni kaum dhuafa dalam kehidupan sehari-hari.

 

  1. Konfirmasi.

  1. Memberikan kesempatan kepada beberapa orang peserta didik untuk menyampaikan kesimpulan dan temuannya.

 

  1. Memberikan penguatan.

 

 

  1. Membimbing merumuskan kesimpulan akhir.

 

Kegiatan Penutup

  1. Menginformasikan kompetensi berikutnya.

 

  1. Memberikan tugas terstruktur sebagai kegiatan sebelum tatap muka berikutnya.

 

 

 

 

  1. Menjawab dan mempersiapkan diri untuk belajar

 

 

 

 

  1. Memperlihatkan tugas yang telah dikerjakan.

 

 

 

  1. Menanyakan tugas yang kurang dimengerti

 

 

 

 

 

 

  1. Mendengarkan  bacaan dari guru dengan baik dan mengulangi membacanya.

 

 

 

  1. Membahas dengan teman sebangku bahan ajar yang telah disediakan tentang entuan ilmu tajwid yang terdapat dlam QS al Isra; :26-27 dan al Baqarah :177.

 

 

 

  1. Menemukan contoh ilmu tajwid alif lam syamsiah dan alif lam qamariah, mad habi’i, idgam bighunnah, izhar dan ikfa dalam QS al Baqrah 177 dan al Isra’ 26 – 27. dengan mempertanyakan dan mendiskusikan dengan teman sebangku.

 

 

 

  1. Menemukan contoh ilmu tajwid lainnya seperti hukum mim mati, qalqalah dan mad.

 

 

 

 

  1. Beberapa orang peserta didik yang ditunjuk menyapaikan hasil diskusinya dan temuan lainya.

 

 

 

  1. Menyimak dan mencatat penguatan yang diberikan pendidik.

 

 

  1. Merumuskan kesimpulan.

 

 

 

 

  1. Mengerjakan tugas terstruktur yang diberikan pendidik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Menjawab dan duduk ditempat duduk yang ditentukan.

 

 

 

  1. Memperlihatkan / menyerahkan tugas yang telah diselesaikan.

 

  1. Menyampaikan ide dan mempertanyakan tugas yang kurang dipahami.

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Mendengarkan informasi dari guru dan menarik kesimpulan.

 

 

  1. Mempelajari dan membahas dengan teman sebangku bahan ajar yang telah disediakan tentang cara menyantuni kaum dhuafa. dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

  1. Mempertanyakan dan mendiskusikan dengan teman sebangku upaya-upaya yang dapat dilakukan agar perilaku menyantuni kaum dhuafa dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

 

 

 

 

  1. Menemukan taktik dan strategi untuk menerapkan perilaku menyantuni kaum dhuafa dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

 

 

  1. Bebrapa orang peserta didik menyampaikan kesimpulan dan temuannya.

 

 

 

 

  1. Menyimak dan mencatat penguatan yang diberikan pendidik.

 

  1. Menarik kesimpulan akhir.

 

 

 

 

  1. Mendengarkan informasi dari guru.

 

 

  1. Mengerjakan tugas yang diberikan guru.

 

 

 

 

2 jam

2 Jam

Sistim Penilaian

  1. Penilaian proses dilaksanakan selama proses pembelajaran berlansung dengan menggunakan pedoman pengamatan ( terlampir).
  1. Penilaian hasil belajar, dilakukan  tes tertulis dalam bentuk mexing assesment  ( soal terlampir )

Media dan Sumber Belajar

1.  Al Quran.

2.  Bahan ajar

3.  Power   point.

 

4.  Buku pelajaran pendidikan Agama Islam kls XI

Pasar Usang,  Juli 2009.

Guru Mata Pelajaran.

Mengetahui

Kepala Sekolah.

 

Drs. Taufik Sabirin,M.Pd.

NIP. 131 853 131

Drs. Mulyadi, R.MM

NIP. 131 472 082

 

 


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h1 {mso-style-next:Normal; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:18.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-font-kerning:0pt; mso-ansi-language:IN; font-weight:normal;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:316761171; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-103488522 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1 {mso-list-id:581960013; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:706610590 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l2 {mso-list-id:1224025812; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:204225564 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l3 {mso-list-id:1228303080; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:380374932 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l3:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l4 {mso-list-id:1493906624; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1037255768 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l5 {mso-list-id:1763405410; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:673228008 67698703 -605397806 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l5:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l5:level2 {mso-level-number-format:roman-upper; mso-level-tab-stop:1.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.25in; text-indent:-.5in;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

PEMERINTAH KABUPATEN PADANG PARIAMAN

DINAS PENDIDIKAN

SMA NEGERI 1 BATANG ANAI

Jl. Dwi Warna No. 59 Pasar Usang                                   Telepon : 471111

KETENTUAN  PELAKSANAAN TEAM TEACHING DALAM PROSES PEMBELAJARAN SMA NEGERI 1 BATANG ANAI

KABUPATEN PADANG PARIAMAN

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan :

  1. Rombel adalah: rombongan belajar yang ada dari kelas X sampai kelas XII pada semua program studi  di SMA NegerI 1 Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman.
  2. Guru SMA Negeri 1 Batang Anai adalah guru mata pelajaran dan guru pembimbing, PNS, guru bantu dan guru honorer.
  3. Mata pelajaran adalah semua bidang studi yang terdapat pada struktur kurikulum SMA Negeri 1 Batang Anai

Pasal  2

1.  Team teaching adalah salah satu model pembelajaran alternatif, disamping model soliter yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Batang Anai.

2.  Team Teaching adalah merupakan salah satu bentuk strategi pembelajaran yang melibatkan dua orang guru atau lebih dalam proses pembelajaran, dengan pembagian peran dan tanggung jawab secara jelas dan seimbang.

3.  Konsep Team Teaching yang digunakana adalah Team Teaching penuh bukan Semi Team Teaching.

  1. Anggota Tim terdiri dari 2 (dua ) orang guru dan sebanyak-banyaknya 3 (tiga) orang guru.
  2. Setiap anggota team mendapatkan beban tatap muka sama untuk setiap kali kegiatan tatap muka 1, 2 atau 3 jam tatap muka.

BAB  II

TUJUAN

Pasal  3

Pelaksanaan model pembelajaran Team Teaching di SMA Negeri 1 Batang Anai bertujuan untuk :

  1. Memberikan nilai tambih terhadap proses pembelajaran, hingga dapat diujudkan pembelajaran yang aktif, kreaktif, efektif dan menyenangkan.
  2. Memberikan fasilitas, bimbingan dan motivasi lebih terhadap pesertadidik dalam menjalankan proses pembelajaran.
  3. Memberikan motivasi dan kesempatan kepada  guru untuk dapat meningkatkan kemampuan dalam pengelolaan pembelajaran, dan profesionalisme keguruan.
  4. Melaksanakan konsep pembelajaran seutuhnya sesuai dengan yang dituntut oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ).

BAB  III

KEANGGOTAAN TEAM TEACHING

Pasal 4

Anggota team teaching guru mata pelajaran yang sama dengan kewenangan dan bidang keahlian yang sama.

Pasal  5

Masing-masing anggota merupakan mitra kesetaraan dalam kewenangan, tugas dan tanggung jawab.

BAB IV

PELAKSANAAN TEAM TEACHING

Pasal 6

Pelaksanaan pembelajaran Team Teaching di SMA Negeri 1 Batang Anai adalah sebuah alternatif, oleh karenanya :

  1. Tidak semua mata pelajaran harus menggunakan model pembelajaran Team Teaching.
  2. Tidak semua guru harus melaksanakan model pembelajaran Team Teaching.

Pasal 7

  1. Setiap guru harus melaksanakan pembelajaran Soliter, disamping melaksanakan Team Teaching.
  2. Setiap rombel mendapatkan model pembelajaran Soliter disamping model pembelajaran Team Teaching.

BAB  V

PEMBAHAGIAN TUGAS DALAM PELAKSANAAN TEAM TEACHING.

Pasal  8

Perencanaan pembelajaran yang mencakup: merumuskan silabus, menyusun RPP, merancang sistem penilaian, menganalisis hasil ulangan harian dan merancang serta melaksanakan tindak lanjut, dilaksanakan bersama oleh setiap angggota tim, oleh karenanya :

  1. Anggota tim harus memiliki pemahaman dan pandangan yang sama terhadap kompetensi yang akan diajarkan dan pemilihan bahan ajar untuk mencapai kompetensi tersebut.
  2. Anggota tim harus memiliki pemahaman dan pandangan yang sama dalam menetapkan strategi, pendekatan, metoda dan teknik yang akan digunakan dalam proses pembelajaran.

Pasal  9

Dalam pelaksanaan tatap muka setiap anggota tim mempunyai beban tugas dan tanggung jawab yang sama, oleh karenanya :

  1. Setiap anggota tim harus hadir dalam kelas, labor dan atau tempat kegiatan tatap muka dilaksanakan.
  2. Setiap anggota tim mengambil peran dan tanggung jawab sesuai dengan kesepakatan sewaktu merancang kegiatan pembelajaran.
  3. Anggota tim mengisi Lembaran Team Teaching ( LTT).
  4. Evaluasi dilaksanakan bersama oleh anggota tim, baik evaluasi cognitive, affektif ataupun psikomotor.

Pasal  10

Analisis hasil ulangan harian ( UH ) dilakukan secara tim dan perumusan program tindak lanjut dalam bentuk remedial dan anrichment.

Pasal  11

Mendiskusikan tahapan-tahapan pelaksanaan proses dan melakukan revisi program berdasarkan Lembaran Team Teaching ( LTT )  dan hasil analisis ulangan harian (UH)

BAB  VI

PENUTUP

Pasal   12

1.   Keputusan kepala sekolah ini berlaku semenjak tanggal ditetapkan .

2. Hal-hal yang belum diatur dalam keputusan ini diputuskan dalam rapat lengkap Dewan Guru.

3. Keputusan ini dapat ditinjau dan disempurnakan oleh rapat lengkap Dewan Guru.

Ditetapka di       : Pasar Usang

Pada Tanggal    : 5 Januari  2009.

Koordinatoer Team LITBANG

SMA N 1 Bt. Ania Kab. Pdg Pariaman

Sumatera Barat.

Drs. Taufik Sabirin, M.Pd.

NIP 131 853 131

Posted by: taufiksabirin | July 16, 2009

PEMBELAJARAN TEMATIK

PENERAPAN PENDEKATAN TEMATIK

MENINGKATKAN KUALITAS PROSES PEMBELAJARAN

Oleh : .Taufik Sabirin

A. PENDAHULUAN

Ada kecendrungan pemikiran dewasa ini bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, seperti keberhasilan dalam menyelesaikan ujian dan memenangkan lomba cerdas cermat, yang hanya membutuhkan pengetahuan sesaat. Tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan kehidupan jangka panjang. Anak tidak mampu mengaplikasikan pengetahuan yang diperolehnya dibangku sekolah kedalam dunia nyata pada kehidupan kesehariaannya.

Bank Dunia ( 1998 ) melaporkan tentang hasil pengukuran indikator mutu secara kuantitatif pada Sekolah Dasar (SD) di beberapa negara Asia. Hasilnya menunjukan bahwa hasil tes membaca murid kelas IV SD, Indonesia berada pada peringkat terendah di Asia Timur, berada dibawah Hongkong 75,5%  Singapura 74 %, Thailand 65,1 %, Filipina 52,6 % dan Indonesia 51,7 %. Dari hasil penelitian ini disebutkan pula bahwa para siswa di Indonesia hanya mampu mengusai 30 % dari materi bacaan yang dibacanya. Siswa Sekolah Dasar ( SD ) Indonesia mengalami kesulitan menjawab soal-soal bentuk uraian yang memerlukan penalaran. Derektoran Pendidikan TK dan SD Departemen Pendidian Nasional tahun 2000/2001 melaporkan bahwa rata-rata daya serap kurikulum secara nasional masih rendah, yaitu 5,1 untuk lima mata pelajaran.

Kondisi ini menunjukan bahwa reformasi dalam dunia pendidikan nasional kita sudah menjadi suatu keharusan dan tidak bisa ditunda lagi, terutama pada jenjang pendidikan dasar yang menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan pada jenjang selanjutnya. Reformasi ini harus dilaksanakan secara menyeluruh, baik sistem pendidikan secara nasional ataupun pelaksana teknis dilapangan. Guru sebagai orang yang berada dilini terdepan dalam pelaksanaan proses pembelajaran disekolah harus mampu mengabgred dirinya. Sebagus apapun kurikulum dan selengkap apapun fasiltas tidak akan berarti apa-apa jika berada ditangan guru yang tidak kompeten dan profesional.

Pendidikan dasar yang menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan pada jenjang selanjutnya, haruslah mampu berfungsi mengembangkan potensi diri peserta didik dan juga sikap serta kemampuan dasar yang diperlukan peserta didik untuk hidup dalam masyarakat, terutama untuk menghadapi perubahan-perubahan dalam masyarakat, baik dari sisi ilmu pengetahuan, teknologi, sosial maupun budaya ditingkat lokal ataupun global. Kemampuan dasar yang harus dimiliki peserta didik dan menjadi tujuan utama dalam pembelajaran di Sekolah Dasar ( SD ) adalah, kemampuan membaca, menulis dan berhitung atau seringkali disebut dengan istilah ”the 3Rs”

Upaya untuk meningkatkan kualitas proses pembalajaran di kelas harus dilaksanakan karena inti dari peningkatan mutu pendidikan adalah meningkatnya mutu pelaksanaan proses pembelajaran di kelas. Proses pembelajaran yang terjadi di sekolah kita hari ini masih cenderung bersifat teoritik dan peran guru masih sangat dominan ( teacher centered ) dan gaya masih cendrung satu arah. Akhirnya, proses pembelajaran yang terjadi hanya sebatas pada penyampaian informasi ( transfer of knowledge ) kurang terkait dengan lingkungan sehingga peserta didik tidak mampu memanfaatkan konsep kunci keilmuan dalam proses pemecahan masalah kehidupan yang dialami peserta didik sehari-hari.

Berdasarkan kondisi tersebut pemerintah melalui Badan Standar Pendidikan Nasional ( BNSP ) menetapkan pendekatan tematik sebagai pendekatan pembelajaran yang harus dilkukan pada peserta didik Sekolah Dasar ( SD ) terutama untuk peserta didik kelas rendah ( kelas I s.d. III ). Menurut BNSP (2006 : 35) penetapan pendekatan tematik dalam pembelajaran di SD  dikarenakan perkembangan peserta didik pada kelas rendah Sekolah Dasar, pada umumnya berapa pada tingkat perkembangan yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan ( holistik ) serta baru mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Oleh karena itu proses pembelajaran masih bergantung pada objek konkret dan pengalaman yang dialami secara lansung.

B. PENGERTIAN PENDEKATAN TEMATIK.

Konsep pembelajaran tematik adalah merupakan pengembangan dari pemikiran dua orang tokoh pendidikan yakni Jacob tahun 1989 dengan konsep pembelajaran interdisipliner dan Fogarty pada tahun 1991 dengan konsep pembelajaran terpadu. Pembelajaran tematik  merupan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam  intra  mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu peserta didik akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran jadi bermakna bagi peserta didik.

Bermakna disini memberikan arti bahwa pada pembelajaran tematik peserta didik akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman lansung dan nyata yang menghubungkan antar konsep-konsep dalam intra maupun antar mata pelajaran. Jika dibandingkan dengan pendekatan konvensional, maka pembelajaran tematik tampak lebih menekankan pada keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik aktif terlibat dalam proses pembelajaran untuk pembuatan keputusan.

BNSP (2006:35) menyatakan bahwa pengalaman belajar peserta didik menempati posisi penting dalam usaha meningkatkan kualitas lulusan. Untuk itu pendidik dituntut harus mamapu merancang dan melaksanakan pengalaman belajar dengan tepat. Setiap peserta didik memerlukan bekal pengetahuan dan kecakapan agar dapat hidup dimasyarakat, dan bekal ini diharapkan diperoleh melalui pengalaman belajar disekolah. Oleh sebab itu pengalam belajar di sekolah sedapat mungkin memberikan bekal bagi peserta didik dalam mencapai kecakapan untuk berkarya. Kecakapan ini disebut dengan kecapan hidup yang cakupannya lebih luas dibanding hanya sekedar keterampilan.

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tama tertentu, dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh, tema ”Air” dapat ditinjau dari mata pelajaran fisika, kimia, biologi dan matematik. Lebih luas lagi, tema itu dapat ditinjau dari bidang studi lain, seperti IPS, bahasa, agama dan seni. Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada peserta didik untuk memunculkan dinamika dalam proses pembelajaran. Unit yang tematik adalah epitome dari seluruh bahasa pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik untuk secara produktif menjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu dengan pengahayatan secara alamiah tetang dunia di sekitar mereka.

C. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN TEMATIK.

Sebagai suatu proses, pembelajaran tematik memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Pembelajaran berpusat pada peserta didik.

Pembelajaran tematik dikatakan sebagai pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, karena pada dasarnya pembelajaran tematik merupakan suatu sistem pembelajaran yang memberikan keleluasan pada peserta didik baik secara individu maupun kelompok. Peserta didik dapat aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip dari suatu pengetahuan yang harus dikuasainya sesuai dengan perkembangannya.2. Menekankan pembentukan pemahaman dan kebermaknaan.

Pembelajaran tematik mengkaji suatu fenomena dari berbagai macam aspek yang membentuk semacam jalinan antar skemata yang dimiliki peserta didik, sehingga akan berdampak pada kebermaknaan dari materi yang dipelajari peserta didik. Hasil yang nyata didapat dari segala konsep yang diperoleh dan keterkaitannya dengan konsep-konsep lain yang di pelajari dan mengakibatkan kegiatan belajar lebih bermakna. Hal ini diharapkan akan berakibat kepada kemampuan peserta didik untuk dapat menerapkan perolehan belajarnya pada pemecahan masalah-masalah yang nyata dalam kehidupannya.

2. Belajar melalui pengalaman lansung.

Pada pembelajaran tematik diprogramkan untuk melibatkan peserta didik secara lansung pada konsep dan prinsip yang dipelajari dan memungkinkan peserta didik belajar dengan melakukan kegiatan secara lansung. Sehingga peserta didik akan memahmi hasil belajarnya sesuai dengan fakta dan peristiwa yang mereka alami, bukan sekadar informasi dari guru. Pendidik lebih banyak bertindak sebagai fasilitator dan katalisator yang membimbing kearah tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan peserta didik sebagai actor pencari fakta dan informasi untuk mengembangkan pengetahuannya.

3. Lebih memperhatikan proses dari hasil semata.

Pada pembelajaran tematik dikembangkan pendekatan discoveri inquiry (penemuan terbimbing) yang melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran yaitu mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai proses evaluasi. Pembelajaran tematik dilaksanakan dengan melibatkan hasrat, minat, dan kemampuan peserta didik, sehingga dimungkinkan peserta didik  termotivasi untuk belajar terus menerus.

4. Sarat dengan muatan keterkaitan.

Pembelajaran tematik memusatkan perhatian pada pengamatan dan pengkajian suatu gejala atau peristiwa dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak. Sehingga dimungkinkan peserta didik untuk memahami suatu fenomena pembelajaran dari segala sisi, yang pada gilirannya nanti akan membuat peserta didik lebih arif dan bijak dalam menyikapi atau menghadapi kejadian yang ada.

D. MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK.

Jacob (1989) dan fogarty (1991) berpendapat bahwa wujud penerapan pendekatan integratif (PI) itu bersifat rentangan ( continuum ). Jacob menggambarkannya sebagai berikut :

Disciplin      Parallel           Cross-           Multi-           Inter-          Integrated          Complete

Based        Disciplin      disciplinary     disciplinary   Disciplinary        Day                Program

Gambar 1. Rentang penerapan pendekatan integratif menurut Jacob (1989) dan

Fogarty (1991).

Bertolak dari konsep PI yang dianut Jacob tersebut Fogarty (1991) menyatakan bahwa ada 10 model integrasi pembelajaran (pembelajaran tematik) yaitu : fragmented model, connected model, nested model, sequenced model, shared model, webbed model, threaded model, integrated model, immersed model and networked model. Model-model ini merentang dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit, mulai dari keterpaduan konsep-konsep dalam satu mata pelajaran sampai keterpaduan konsep-konsep antar mata pelajaran.

Dari ke 10 model yang dikemukakan oleh Fogarty tersebut, hanya 3 model yang digunakan pada kurikulum PGSD yaitu: connected model, webbed model dan integrated model ( Tim Pengembangan PGSD 1997 : 4-5 ).

  1. Connected model ( Model Hubungan / Model Terkait ).

Model pembelajaran ini menyajikan hubungan yang eksplisit didalam  suatu mata pelajaran yaitu menghubungkan satu topic ke topic yang lain, satu konsep ke konsep yang lain, satu keterampilan ke keterampilan yang lain, satu tugas ke tugas berikutnya. Pada pembelajaran tematik model ini kunci utamanya adalah, adanya satu usaha secara sadar untuk menghubungkan bidang kajian dalam satu disiplin ilmu. Keunggulan dari model pembelajaran ini adalah siswa memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang suatu konsep, sehingga transfer pengetahuan akan sangat mudah karena konsep-konsep pokok dikembangkan terus menerus.

2. Webbed model ( Model Jaring Laba-laba / Model Terjala )

Model pembelajaran ini pada dasarnya menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan ini pengembanganya dimulai dengan menentukan tema tertentu. Tema yang ditetapkan dapat dipilih antara guru dengan siswa atau sesama guru. Setelah tema disepakati maka dilanjutkan dengan pemilihan sub-sub tema dengan memperhatikan kaitannya dengan antar mata pelajaran. Dari sub-sub tema ini direncanakan kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan pesera didik. Keuntungan dari model pembelajaran tematik ini bagi peserta didik adalah diperolehnya pandangan hubungan yang utuh tentang kegiatan dari ilmu yang berbeda-beda.

Contoh :

Siswa dan guru menentukan tema misalnya air. Maka guru-guru mata pelajaran dapat mengajarkan tema air itu kedalam sub-sub tema, misalnya: siklus air, kincir air, air waduk, air sungai, bisnis air dari PDAM yang tergabung dalam mata pelajaran-mata pelajaran, matematika, IPA, IPS, agama dan Bahasa.

3. Integrated Model ( Model terpadu )

Model pembelajaran terpadu ini menggunakan pendekatan antar mata pelajaran. Model ini diusahakan dengan cara menggabungkan beberapa mata pelajaran yaitu dengan menetapkan prioritas dari kurikulum dan menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang saling tumpang tindih didalam mata pelajaran.

Pada awalnya guru menyeleksi konsep-konsep keterampilan dan nilai sikap yang diajarkan dalam satu semester dari beberapa mata pelajaran misalnya: matematika, IPA, IPS, Agama dan Bahasa. Selanjutnya dipilih beberpa konsep, keterampilan dan nilai sikap yang memiliki keterhubungan yang erat dan tompang tindih di antara berbagai mata pelajaran tersebut. Keuntungan dari model ini adalah peserta didik mudah menghubungkan dan mengaitkan materi dari beberapa mata pelajaran itu.

. E. PROSEDUR PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK

Surya (2002:84) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalam individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Apa bila pemahaman guru tentang belajar adalah proses memperoleh tingkah laku secara keseluruhan, maka proses pembelajaran yang terjadi suatu kesatuan yang mengandung berbagai persoalan untuk dipahami oleh peserta didik secara keseluruhan dan terpadu.

Dari paparan diatas dapat diketahui bahwa landasan pengembangan pembelajaran tematik secara psikologis adalah menurut teori belajar gestalt. Teori ini memandang kejiwaan manusia terkait pada pengamatan yang berujud pada bentuk menyeluruh. Menurut teori belajar ini seseorang belajar jika ia mendapat ”insight”. Insight itu diperoleh bila ia melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalam situasi itu, hingga hubungan itu menjadi jelas baginya dan cara memecahkan masalah itu. ( Slameto 2003.).

Secara umum pelaksanaan pembelajaran tematik memiliki tiga tahapan, yakni tahapan perencanaan, tahapan pelaksanaan dan tahapan evaluasi.

  1. Tahap Perencanaan Pembelajaran

Sebelum dilakukan pemilihan tema yang akan diangkat dalam kegiatan pembelajaran, pendidik terlebih dahulu harus melakukan kegiatan menganalisis SK dan KD yang ada dalam standar isi. Kemudian mengelompokkan SK dan KD yang memiliki keterkaitan atau hubungan satu sama lainnya, baik dalam satu mata pelajaran ataupun antar mata pelajaran.

Setelah kegiatan pengelompokan SK dan KD selesai lalu pendidik merancang materi pembelajaran untuk setiap SK dan KD tersebut, kemudian dilakukan analisis ulang. Berdasarkan SK, KD dan materi esensial yang telah dikelompokkan dan dianalisis, guru kelas dan guru mata pelajaran melakukan diskusi untuk menetapkan tema dasar dan unit tema.

Tema dapat juga dipilih berdasarkan pertimbangan lain yaitu : tema yang dipilih berdasarkan konsensus antar siswa, misalnya dari buku-buku bacaan, pengalaman, minat, isu-isu yang sedang berkembang ditengah-tengah masyarakat. Hal ini membutuhkan sarana dan prasarana yang menunjang serta sumber belajar yang tersedia, dan juga harus memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik.

Mengingat tuntutan BNSP pendekatan tematik di gunakan di kelas terendah Sekolah Dasar maka pola pemilihan tema dengan cara ini akan sangat sulit untuk dioperasionalkan. Sehingga akan lebih realistis apa bila tema ditentukan oleh guru dari berbagai mata pelajaran secara bersama-sama. Herawati (1998) mengatakan ada beberpa persyarata yang harus dipenuhi dalam menentukan tema yaitu :

  1. tema merupakan hasil ramuan dari berbagai materi didalam satu maupun beberapa mata pelajaran.
  2. tema diangkat sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran yang terpadu dalam materi pembelajaran, prosedur penyampaian, serta pemaknaan pengalaman belajar oleh peserta didik.

c.tema disesuaikan dengan karakteristik belajar peserta didik SD sehingga azas perkembangan berfikir anak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

  1. tema harus bersifat cukup problematik  dan populer sehingga membuka kemungkinan luas untuk melaksanakan pembelajaran beragam yang mengandung substantif yang lebih luas apabila dibanding dengan pembelajaran biasa.

Setelah dilakukan analisis terhadap SK dan KD lalu dirumuskan indikator ketercapai kompetensi, KD dan indikator didistribusikan pada tema-tama yang telah ditentukan, sehingga semua KD dan indikator tersebut semuanya habis. Apa bila ada kompetensi yang tidak tercakup, artinya KD dan indikator yang tidak dapat dipadu dengan tema yang tersedia atau tidak dapat dipadu dengan mata pelajaran lain maka KD dan indikator tersebut diajarkan secara tersendiri.

Untuk mendistribusikan semua SK, KD dan indikator tersebut dibuatlah jaringan tema, untuk menghubungkan KD dan indicator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihatlah keterkaitan antara tema, KD dan indikator dari setiap mata pelajaran. Jaringan tema ini dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap tema.

Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada tahapan sebelumnya dijadikan dasar untuk penyusunan silabus. Komponen silabus menurut Permendiknas No.41 tahun 2008 tentang standar proses mencakup SK, KD, indikator pencapaian kompetensi, materi esensial, KKM, kegiatan pembelajaran, alokasi waktu, sistem penilaian,  alat bantu belajar, media dan sumber belajar. Permen 22 tahun 2006 tentang standar isi menuntut adanya tugas terstruktur dan tugas tidak terstruktur dalam pelaksanaan proses pembelajaran maka kedua system tugas tersebut diakomodir dalam merumuskan silabus.

Untuk mengoperasionalkan silabus tersebut dalam pelaksanaan pembelajaran perlu disusun RPP. Rancangan Program Pembelajaran tersebut merupakan patron dari kegiatan pendidik dan peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas.

2. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik.

Pelaksanaan pembelajaran merupakan kegitan inti dari aktivitas pembelajaran, dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan rambu-rambu yang telah disusun pada Rancangan Program Pembelajaran (RPP). Pada tahapan ini dapat diketahui kekuatan dan kelemahan dari rancangan yang telah disusun. Oleh karenanya dibutuhkan kemampuan pendidik dalam melaksanakan model pembelajaran tematik. Kemampuan pendidik dalam mengembangkan materi pembelajaran, membuat proses pembelajaran lebih bermakna sangat erat hubungannya dengan dengan pemilihan tema pembelajaran.

Menurut Dunkin ( dalam Sanjaya, 2006 ) ada sejumlah aspek yang mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru yaitu :

  1. Formative experience, meliputi jenis kelamin serta semua pengalam hidup yang menjadi latar belakang sosial mereka.
  2. Teacher training experience, meliputi pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan pendidik.
  3. Training properties, segala sesuatu yang berhungan dengan sifat yang dimiliki pendidik, seperti sikap pendidik terhadap siswa, kemampuan dan intelegensi pendidik, baik dalam kemampuan pendidik mengelola kegiatan pembelajaran, maupun kemampuan pendidik menguasai materi pembelajaran.

Disamping factor pendidik banyak factor-faktor lain yang mempengaruhi kualitas proses pembelajaran tersebut, diantaranya kualitas rancangan pembelajaran, faktro sarana dan prasarana yang tersedia, factor alat bantu belajar, media dan sumber belajar, factor lingkungan belajar dan termasuk yang sangat menentukan factor peserta didik itu sendiri.

Prosedur pelaksanaan pembelajaran tematik tidak berbeda dengan pelaksanaan pembelajaran lainnya, pembelajaran dilakukan dengan menggunakan tiga tahapan pembelajaran, yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir pembelajaran. Pada kegiatan awal dilakukan kegiatan mengkondisikan kelas untuk siap melaksanakan proses pembelajaran, menginformasikan tema dan subtema, KD dan indicator yang akan dibahas melalui materi ajar, tujuan pembelajaran dan mereviu tugas terstruktur kalau ada. Kegiatan inti terdiri dari tiga bagian yakni, ekflorasi, yaitu mengali sedalam dan seluas mungkin materi yang sedang dibahas Elaborasi, yaitu mengkorelasikan dan memadukan antara konsep yang sedang dibahas dengan konsep sebelumnya dalam satu mata pelajaran dan dengan konsep lain pada mata pelajaran yang berbeda, atau menerapkan konsep tesebut untuk memecahkan masalah, dan atau mengkorelasikan dengan keadaan nyata sehari-hari dan harapan masa depan. Komfirmasi, yaitu: melakukan upaya pembenaran dari temuan belajar peserta didik dengan melakukan penguatan, dan penyimpulan akhir hasil pembelajaran. Kegiatan akhir pembelajaran berisikan kegiatan pemberian Latihan Dalam Proses ( LDP ) dan menginformasikan tema atau subtema untuk pembelajaran berikutnya, serta memberikan tugas terstruktur kalau dibutuhkan.

3.  Mengevaluasi Proses dan Hasil Belajar.

Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang penekanannya pada kebermaknaan proses dalam artian bahwa peserta didik mengkonstruk pengetahuannya sendiri melalui pengalaman lansung dalam proses pembelajaran dari pada menguasai setumpuk konsep yang belum tentu dimengerti dan diperlukan mereka. Olehkarenanya penilaian proses pembelajaran dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinabungan.  Adapun aspek-aspek utama yang harus selalu diamati pendidik antara lain adalah, seberapa besar dan dalam tingkat keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran yang sedang berlansung, tingkat keaktifan dan kreaktifitas peserta didik dalam mengkonstruk pengetahuaannya melalui pengalamannya dalam proses pembelajaran, disamping motivasi dan ketekunannya mengikuti proses pembelajaran.

Penilaian hasil belajar yang memiliki kesesuaian dengan pembelajaran tematik adalah autentic assesment dalam bentuk penilaian kinerja dan portofolio ketimbang dalam bentuk  penilaian konvensional yang mengunakan instrumen test tertulis atau lisan. Karena peserta didik akan mengkonstruk pengetahuannya sendiri sesuai dengan tingkat perkembangan dan skemata yang telah mereka miliki.

F.PENUTUP.

Persoalan yang paling serius yang dihadapi oleh dunia pendidikan kita dewasa ini adalah persoalan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Belum standarnya kompetensi yang dimiliki banyak guru, rendahnya tingkat profesionalitas, rendahnya motivasi kerja, ketidak mampuan guru mengabgret dirinya,  dan belum bangganya seorang guru memiliki profesi guru. Banyak hal yang telah dilakukan pemerintah, seperti: sertifikasi guru, pendidikan dan pelatihan dan melahirkan UU guru dan dosen, tetapi semuanya hilang bak ditelan malam.

Dilain pihak guru adalah orang yang berada dilini terdepan dalam proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Sebagus apapun kurikulum, selengkap apapun fasilitas, jika berada ditangan guru yang tidak profesional tidak akan bermakna apa-apa.

Stephen.R.Covey (2005) mengatakan, antara rangsangan dan tanggapan  terdapat sebuah  ruang. Diruang itu terdapat kebebasan dan kemampuan  kita untuk memilih tanggapan. Dalam pilihan-pilihan kita terdapat perkembangan dan kebahagian kita. Apabila kita mendasari pilihan dengan warisan kebiasaan dan keberhasilan masa lalu, maka ia akan mempersempit ruang yang ada, karena kondisi kekinian bergerak jauh lebih cepat dari apa yang kita pikirkan.

Apabila hari ini kita ditentukan oleh masa lalu, apakah masa depan kita masih akan ditentukan oleh masa lalu ?. Wilayah cakupan apa yang kita pikirkan dan kita kerjakan dibatasi oleh apa yang tidak kita ketahui. Dan karena itu tidak berhasil mengetahui apa-apa yang tidak berhasil kita ketahui, hanya sedikit hal yang dapat kita lakukan terhadap perubahan; sampai kita mengetahui bagaimana kegagalan untuk mengetahui itu membentuk pikiran dan perbuatan kita.

Peningkatan mutu pendidikan harus kita mulai hari ini dan dari diri kita sendiri, kalau tidak kita akan digilas oleh pikiran dan angan-angan kita sendiri, dan ia akan makin jauh meninggalkan kita, tampa mungkin kita kejar hanya dengan merenung dan berangan-angan. Mari kita berbuat dan berbuat sebagai warisan untuk anak-cucu kita kelak dikemudian hari

Padang, ..Juli 2009.

Wassalam

Taufik Sabirin.

KEPUSTAKAAN

Abdullah, Solichan. 2000, Aritmatika Sosial ( Paket Makalah Penataran ) Yongyakarta : PPPG Matematik.

Fogarty, R . 1991 Constructing Knowledge Together Classroom as Center of Inquiry and Literacy, Portsmonth, NH: Heineman.

……………., 1991 How to Integrate The Curricula. Palatine, Illinois: IRI/Skylight Publishing. Inc.

Hadisubroto, Tisno. 1998, Buku Matri Pokok Pembelajaran Terpadu Modul 1 sampai dengan 6. Jakarta : Universitas Terbuka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Jacobs. H. 1989. Interdiciplinary Curriculum : Design and Implementation. Alexandria: VA.

Olivia, P.F. 1997 Developing the Curriculum. Third Edition. New York, NY : Harper Collins Publisher, Inc.

Sanjaya, 2006 Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Indonesia.

Sukayati. 1998. Pembelajaran terpadu ( Ringkasan dan Refleksi ) Makalah tidak dipublikasikan , Malang. Program Pasca Sarjana IKIP Malang.

Suparno, P. 2007. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Tim Pembang PGSD .1997. Pembelajaran Terpadu D-II PGSD  dan S-2 Pendidikan Dasar. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Posted by: taufiksabirin | July 13, 2009

PEMBELAJARAN TEMATIK

PENERAPAN PENDEKATAN TEMATIK

MENINGKATKAN KUALITAS PROSES PEMBELAJARAN

Oleh : Taufik Sabirin

Guru SMA N 1 Batang Anai kab. Padang Pariaman

Sumatera Barat

  1. PENDAHULUAN

Ada kecendrungan pemikiran dewasa ini bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, seperti keberhasilan dalam menyelesaikan ujian dan memenangkan lomba cerdas cermat, yang hanya membutuhkan pengetahuan sesaat. Tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan kehidupan jangka panjang. Anak tidak mampu mengaplikasikan pengetahuan yang diperolehnya dibangku sekolah kedalam dunia nyata pada kehidupan kesehariaannya.

Bank Dunia ( 1998 ) melaporkan tentang hasil pengukuran indikator mutu secara kuantitatif pada Sekolah Dasar (SD) di beberapa negara Asia. Hasilnya menunjukan bahwa hasil tes membaca murid kelas IV SD, Indonesia berada pada peringkat terendah di Asia Timur, berada dibawah Hongkong 75,5% Singapura 74 %, Thailand 65,1 %, Filipina 52,6 % dan Indonesia 51,7 %. Dari hasil penelitian ini disebutkan pula bahwa para siswa di Indonesia hanya mampu mengusai 30 % dari materi bacaan yang dibacanya. Siswa Sekolah Dasar ( SD ) Indonesia mengalami kesulitan menjawab soal-soal bentuk uraian yang memerlukan penalaran. Derektoran Pendidikan TK dan SD Departemen Pendidian Nasional tahun 2000/2001 melaporkan bahwa rata-rata daya serap kurikulum secara nasional masih rendah, yaitu 5,1 untuk lima mata pelajaran.

Kondisi ini menunjukan bahwa reformasi dalam dunia pendidikan nasional kita sudah menjadi suatu keharusan dan tidak bisa ditunda lagi, terutama pada jenjang pendidikan dasar yang menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan pada jenjang selanjutnya. Reformasi ini harus dilaksanakan secara menyeluruh, baik sistem pendidikan secara nasional ataupun pelaksana teknis dilapangan. Guru sebagai orang yang berada dilini terdepan dalam pelaksanaan proses pembelajaran disekolah harus mampu mengabgred dirinya. Sebagus apapun kurikulum dan selengkap apapun fasiltas tidak akan berarti apa-apa jika berada ditangan guru yang tidak kompeten dan profesional.

Pendidikan dasar yang menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan pada jenjang selanjutnya, haruslah mampu berfungsi mengembangkan potensi diri peserta didik dan juga sikap serta kemampuan dasar yang diperlukan peserta didik untuk hidup dalam masyarakat, terutama untuk menghadapi perubahan-perubahan dalam masyarakat, baik dari sisi ilmu pengetahuan, teknologi, sosial maupun budaya ditingkat lokal ataupun global. Kemampuan dasar yang harus dimiliki peserta didik dan menjadi tujuan utama dalam pembelajaran di Sekolah Dasar ( SD ) adalah, kemampuan membaca, menulis dan berhitung atau seringkali disebut dengan istilah ”the 3Rs”

Upaya untuk meningkatkan kualitas proses pembalajaran di kelas harus dilaksanakan karena inti dari peningkatan mutu pendidikan adalah meningkatnya mutu pelaksanaan proses pembelajaran di kelas. Proses pembelajaran yang terjadi di sekolah kita hari ini masih cenderung bersifat teoritik dan peran guru masih sangat dominan ( teacher centered ) dan gaya masih cendrung satu arah. Akhirnya, proses pembelajaran yang terjadi hanya sebatas pada penyampaian informasi ( transfer of knowledge ) kurang terkait dengan lingkungan sehingga peserta didik tidak mampu memanfaatkan konsep kunci keilmuan dalam proses pemecahan masalah kehidupan yang dialami peserta didik sehari-hari.

Berdasarkan kondisi tersebut pemerintah melalui Badan Standar Pendidikan Nasional ( BNSP ) menetapkan pendekatan tematik sebagai pendekatan pembelajaran yang harus dilkukan pada peserta didik Sekolah Dasar ( SD ) terutama untuk peserta didik kelas rendah ( kelas I s.d. III ). Menurut BNSP (2006 : 35) penetapan pendekatan tematik dalam pembelajaran di SD dikarenakan perkembangan peserta didik pada kelas rendah Sekolah Dasar, pada umumnya berapa pada tingkat perkembangan yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan ( holistik ) serta baru mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Oleh karena itu proses pembelajaran masih bergantung pada objek konkret dan pengalaman yang dialami secara lansung.

  1. PENGERTIAN PENDEKATAN TEMATIK.

Konsep pembelajaran tematik adalah merupakan pengembangan dari pemikiran dua orang tokoh pendidikan yakni Jacob tahun 1989 dengan konsep pembelajaran interdisipliner dan Fogarty pada tahun 1991 dengan konsep pembelajaran terpadu. Pembelajaran tematik merupan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu peserta didik akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran jadi bermakna bagi peserta didik.

Bermakna disini memberikan arti bahwa pada pembelajaran tematik peserta didik akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman lansung dan nyata yang menghubungkan antar konsep-konsep dalam intra maupun antar mata pelajaran. Jika dibandingkan dengan pendekatan konvensional, maka pembelajaran tematik tampak lebih menekankan pada keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik aktif terlibat dalam proses pembelajaran untuk pembuatan keputusan.

BNSP (2006:35) menyatakan bahwa pengalaman belajar peserta didik menempati posisi penting dalam usaha meningkatkan kualitas lulusan. Untuk itu pendidik dituntut harus mamapu merancang dan melaksanakan pengalaman belajar dengan tepat. Setiap peserta didik memerlukan bekal pengetahuan dan kecakapan agar dapat hidup dimasyarakat, dan bekal ini diharapkan diperoleh melalui pengalaman belajar disekolah. Oleh sebab itu pengalam belajar di sekolah sedapat mungkin memberikan bekal bagi peserta didik dalam mencapai kecakapan untuk berkarya. Kecakapan ini disebut dengan kecapan hidup yang cakupannya lebih luas dibanding hanya sekedar keterampilan.

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tama tertentu, dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh, tema ”Air” dapat ditinjau dari mata pelajaran fisika, kimia, biologi dan matematik. Lebih luas lagi, tema itu dapat ditinjau dari bidang studi lain, seperti IPS, bahasa, agama dan seni. Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada peserta didik untuk memunculkan dinamika dalam proses pembelajaran. Unit yang tematik adalah epitome dari seluruh bahasa pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik untuk secara produktif menjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu dengan pengahayatan secara alamiah tetang dunia di sekitar mereka.

  1. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN TEMATIK.

Sebagai suatu proses, pembelajaran tematik memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Pembelajaran berpusat pada peserta didik.

Pembelajaran tematik dikatakan sebagai pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, karena pada dasarnya pembelajaran tematik merupakan suatu sistem pembelajaran yang memberikan keleluasan pada peserta didik baik secara individu maupun kelompok. Peserta didik dapat aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip dari suatu pengetahuan yang harus dikuasainya sesuai dengan perkembangannya.

  1. Menekankan pembentukan pemahaman dan kebermaknaan.

Pembelajaran tematik mengkaji suatu fenomena dari berbagai macam aspek yang membentuk semacam jalinan antar skemata yang dimiliki peserta didik, sehingga akan berdampak pada kebermaknaan dari materi yang dipelajari peserta didik. Hasil yang nyata didapat dari segala konsep yang diperoleh dan keterkaitannya dengan konsep-konsep lain yang di pelajari dan mengakibatkan kegiatan belajar lebih bermakna. Hal ini diharapkan akan berakibat kepada kemampuan peserta didik untuk dapat menerapkan perolehan belajarnya pada pemecahan masalah-masalah yang nyata dalam kehidupannya.

  1. Belajar melalui pengalaman lansung.

Pada pembelajaran tematik diprogramkan untuk melibatkan peserta didik secara lansung pada konsep dan prinsip yang dipelajari dan memungkinkan peserta didik belajar dengan melakukan kegiatan secara lansung. Sehingga peserta didik akan memahmi hasil belajarnya sesuai dengan fakta dan peristiwa yang mereka alami, bukan sekadar informasi dari guru. Pendidik lebih banyak bertindak sebagai fasilitator dan katalisator yang membimbing kearah tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan peserta didik sebagai actor pencari fakta dan informasi untuk mengembangkan pengetahuannya.

  1. Lebih memperhatikan proses dari hasil semata.

Pada pembelajaran tematik dikembangkan pendekatan discoveri inquiry (penemuan terbimbing) yang melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran yaitu mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai proses evaluasi. Pembelajaran tematik dilaksanakan dengan melibatkan hasrat, minat, dan kemampuan peserta didik, sehingga dimungkinkan peserta didik termotivasi untuk belajar terus menerus.

  1. Sarat dengan muatan keterkaitan.

Pembelajaran tematik memusatkan perhatian pada pengamatan dan pengkajian suatu gejala atau peristiwa dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak. Sehingga dimungkinkan peserta didik untuk memahami suatu fenomena pembelajaran dari segala sisi, yang pada gilirannya nanti akan membuat peserta didik lebih arif dan bijak dalam menyikapi atau menghadapi kejadian yang ada.

  1. MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK.

Jacob (1989) dan fogarty (1991) berpendapat bahwa wujud penerapan pendekatan integratif (PI) itu bersifat rentangan ( continuum ). Jacob menggambarkannya sebagai berikut :

Disciplin Parallel Cross- Multi- Inter- Integrated Complete

Based Disciplin disciplinary disciplinary Disciplinary Day Program

Gambar 1. Rentang penerapan pendekatan integratif menurut Jacob (1989) dan

Fogarty (1991).

Bertolak dari konsep PI yang dianut Jacob tersebut Fogarty (1991) menyatakan bahwa ada 10 model integrasi pembelajaran (pembelajaran tematik) yaitu : fragmented model, connected model, nested model, sequenced model, shared model, webbed model, threaded model, integrated model, immersed model and networked model. Model-model ini merentang dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit, mulai dari keterpaduan konsep-konsep dalam satu mata pelajaran sampai keterpaduan konsep-konsep antar mata pelajaran.

Dari ke 10 model yang dikemukakan oleh Fogarty tersebut, hanya 3 model yang digunakan pada kurikulum PGSD yaitu: connected model, webbed model dan integrated model ( Tim Pengembangan PGSD 1997 : 4-5 ).

  1. Connected model ( Model Hubungan / Model Terkait ).

Model pembelajaran ini menyajikan hubungan yang eksplisit didalam suatu mata pelajaran yaitu menghubungkan satu topic ke topic yang lain, satu konsep ke konsep yang lain, satu keterampilan ke keterampilan yang lain, satu tugas ke tugas berikutnya. Pada pembelajaran tematik model ini kunci utamanya adalah, adanya satu usaha secara sadar untuk menghubungkan bidang kajian dalam satu disiplin ilmu. Keunggulan dari model pembelajaran ini adalah siswa memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang suatu konsep, sehingga transfer pengetahuan akan sangat mudah karena konsep-konsep pokok dikembangkan terus menerus.

  1. Webbed model ( Model Jaring Laba-laba / Model Terjala )

Model pembelajaran ini pada dasarnya menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan ini pengembanganya dimulai dengan menentukan tema tertentu. Tema yang ditetapkan dapat dipilih antara guru dengan siswa atau sesama guru. Setelah tema disepakati maka dilanjutkan dengan pemilihan sub-sub tema dengan memperhatikan kaitannya dengan antar mata pelajaran. Dari sub-sub tema ini direncanakan kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan pesera didik. Keuntungan dari model pembelajaran tematik ini bagi peserta didik adalah diperolehnya pandangan hubungan yang utuh tentang kegiatan dari ilmu yang berbeda-beda.

Contoh :

Siswa dan guru menentukan tema misalnya air. Maka guru-guru mata pelajaran dapat mengajarkan tema air itu kedalam sub-sub tema, misalnya: siklus air, kincir air, air waduk, air sungai, bisnis air dari PDAM yang tergabung dalam mata pelajaran-mata pelajaran, matematika, IPA, IPS, agama dan Bahasa.

  1. Integrated Model ( Model terpadu )

Model pembelajaran terpadu ini menggunakan pendekatan antar mata pelajaran. Model ini diusahakan dengan cara menggabungkan beberapa mata pelajaran yaitu dengan menetapkan prioritas dari kurikulum dan menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang saling tumpang tindih didalam mata pelajaran.

Pada awalnya guru menyeleksi konsep-konsep keterampilan dan nilai sikap yang diajarkan dalam satu semester dari beberapa mata pelajaran misalnya: matematika, IPA, IPS, Agama dan Bahasa. Selanjutnya dipilih beberpa konsep, keterampilan dan nilai sikap yang memiliki keterhubungan yang erat dan tompang tindih di antara berbagai mata pelajaran tersebut. Keuntungan dari model ini adalah peserta didik mudah menghubungkan dan mengaitkan materi dari beberapa mata pelajaran itu.

. E. PROSEDUR PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK

Surya (2002:84) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalam individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Apa bila pemahaman guru tentang belajar adalah proses memperoleh tingkah laku secara keseluruhan, maka proses pembelajaran yang terjadi suatu kesatuan yang mengandung berbagai persoalan untuk dipahami oleh peserta didik secara keseluruhan dan terpadu.

Dari paparan diatas dapat diketahui bahwa landasan pengembangan pembelajaran tematik secara psikologis adalah menurut teori belajar gestalt. Teori ini memandang kejiwaan manusia terkait pada pengamatan yang berujud pada bentuk menyeluruh. Menurut teori belajar ini seseorang belajar jika ia mendapat ”insight”. Insight itu diperoleh bila ia melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalam situasi itu, hingga hubungan itu menjadi jelas baginya dan cara memecahkan masalah itu. ( Slameto 2003.).

Secara umum pelaksanaan pembelajaran tematik memiliki tiga tahapan, yakni tahapan perencanaan, tahapan pelaksanaan dan tahapan evaluasi.

  1. Tahap Perencanaan Pembelajaran

Sebelum dilakukan pemilihan tema yang akan diangkat dalam kegiatan pembelajaran, pendidik terlebih dahulu harus melakukan kegiatan menganalisis SK dan KD yang ada dalam standar isi. Kemudian mengelompokkan SK dan KD yang memiliki keterkaitan atau hubungan satu sama lainnya, baik dalam satu mata pelajaran ataupun antar mata pelajaran.

Setelah kegiatan pengelompokan SK dan KD selesai lalu pendidik merancang materi pembelajaran untuk setiap SK dan KD tersebut, kemudian dilakukan analisis ulang. Berdasarkan SK, KD dan materi esensial yang telah dikelompokkan dan dianalisis, guru kelas dan guru mata pelajaran melakukan diskusi untuk menetapkan tema dasar dan unit tema.

Tema dapat juga dipilih berdasarkan pertimbangan lain yaitu : tema yang dipilih berdasarkan konsensus antar siswa, misalnya dari buku-buku bacaan, pengalaman, minat, isu-isu yang sedang berkembang ditengah-tengah masyarakat. Hal ini membutuhkan sarana dan prasarana yang menunjang serta sumber belajar yang tersedia, dan juga harus memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik.

Mengingat tuntutan BNSP pendekatan tematik di gunakan di kelas terendah Sekolah Dasar maka pola pemilihan tema dengan cara ini akan sangat sulit untuk dioperasionalkan. Sehingga akan lebih realistis apa bila tema ditentukan oleh guru dari berbagai mata pelajaran secara bersama-sama. Herawati (1998) mengatakan ada beberpa persyarata yang harus dipenuhi dalam menentukan tema yaitu :

a. tema merupakan hasil ramuan dari berbagai materi didalam satu maupun beberapa mata pelajaran.

b. tema diangkat sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran yang terpadu dalam materi pembelajaran, prosedur penyampaian, serta pemaknaan pengalaman belajar oleh peserta didik.

c.tema disesuaikan dengan karakteristik belajar peserta didik SD sehingga azas perkembangan berfikir anak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

d. tema harus bersifat cukup problematik dan populer sehingga membuka kemungkinan luas untuk melaksanakan pembelajaran beragam yang mengandung substantif yang lebih luas apabila dibanding dengan pembelajaran biasa.

Setelah dilakukan analisis terhadap SK dan KD lalu dirumuskan indikator ketercapai kompetensi, KD dan indikator didistribusikan pada tema-tama yang telah ditentukan, sehingga semua KD dan indikator tersebut semuanya habis. Apa bila ada kompetensi yang tidak tercakup, artinya KD dan indikator yang tidak dapat dipadu dengan tema yang tersedia atau tidak dapat dipadu dengan mata pelajaran lain maka KD dan indikator tersebut diajarkan secara tersendiri.

Untuk mendistribusikan semua SK, KD dan indikator tersebut dibuatlah jaringan tema, untuk menghubungkan KD dan indicator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihatlah keterkaitan antara tema, KD dan indikator dari setiap mata pelajaran. Jaringan tema ini dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap tema.

Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada tahapan sebelumnya dijadikan dasar untuk penyusunan silabus. Komponen silabus menurut Permendiknas No.41 tahun 2008 tentang standar proses mencakup SK, KD, indikator pencapaian kompetensi, materi esensial, KKM, kegiatan pembelajaran, alokasi waktu, sistem penilaian, alat bantu belajar, media dan sumber belajar. Permen 22 tahun 2006 tentang standar isi menuntut adanya tugas terstruktur dan tugas tidak terstruktur dalam pelaksanaan proses pembelajaran maka kedua system tugas tersebut diakomodir dalam merumuskan silabus.

Untuk mengoperasionalkan silabus tersebut dalam pelaksanaan pembelajaran perlu disusun RPP. Rancangan Program Pembelajaran tersebut merupakan patron dari kegiatan pendidik dan peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas.

  1. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik.

Pelaksanaan pembelajaran merupakan kegitan inti dari aktivitas pembelajaran, dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan rambu-rambu yang telah disusun pada Rancangan Program Pembelajaran (RPP). Pada tahapan ini dapat diketahui kekuatan dan kelemahan dari rancangan yang telah disusun. Oleh karenanya dibutuhkan kemampuan pendidik dalam melaksanakan model pembelajaran tematik. Kemampuan pendidik dalam mengembangkan materi pembelajaran, membuat proses pembelajaran lebih bermakna sangat erat hubungannya dengan dengan pemilihan tema pembelajaran.

Menurut Dunkin ( dalam Sanjaya, 2006 ) ada sejumlah aspek yang mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru yaitu :

a. Formative experience, meliputi jenis kelamin serta semua pengalam hidup yang menjadi latar belakang sosial mereka.

b. Teacher training experience, meliputi pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan pendidik.

c. Training properties, segala sesuatu yang berhungan dengan sifat yang dimiliki pendidik, seperti sikap pendidik terhadap siswa, kemampuan dan intelegensi pendidik, baik dalam kemampuan pendidik mengelola kegiatan pembelajaran, maupun kemampuan pendidik menguasai materi pembelajaran.

Disamping factor pendidik banyak factor-faktor lain yang mempengaruhi kualitas proses pembelajaran tersebut, diantaranya kualitas rancangan pembelajaran, faktro sarana dan prasarana yang tersedia, factor alat bantu belajar, media dan sumber belajar, factor lingkungan belajar dan termasuk yang sangat menentukan factor peserta didik itu sendiri.

Prosedur pelaksanaan pembelajaran tematik tidak berbeda dengan pelaksanaan pembelajaran lainnya, pembelajaran dilakukan dengan menggunakan tiga tahapan pembelajaran, yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir pembelajaran. Pada kegiatan awal dilakukan kegiatan mengkondisikan kelas untuk siap melaksanakan proses pembelajaran, menginformasikan tema dan subtema, KD dan indicator yang akan dibahas melalui materi ajar, tujuan pembelajaran dan mereviu tugas terstruktur kalau ada. Kegiatan inti terdiri dari tiga bagian yakni, ekflorasi, yaitu mengali sedalam dan seluas mungkin materi yang sedang dibahas Elaborasi, yaitu mengkorelasikan dan memadukan antara konsep yang sedang dibahas dengan konsep sebelumnya dalam satu mata pelajaran dan dengan konsep lain pada mata pelajaran yang berbeda, atau menerapkan konsep tesebut untuk memecahkan masalah, dan atau mengkorelasikan dengan keadaan nyata sehari-hari dan harapan masa depan. Komfirmasi, yaitu: melakukan upaya pembenaran dari temuan belajar peserta didik dengan melakukan penguatan, dan penyimpulan akhir hasil pembelajaran. Kegiatan akhir pembelajaran berisikan kegiatan pemberian Latihan Dalam Proses ( LDP ) dan menginformasikan tema atau subtema untuk pembelajaran berikutnya, serta memberikan tugas terstruktur kalau dibutuhkan.

  1. Mengevaluasi Proses dan Hasil Belajar.

Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang penekanannya pada kebermaknaan proses dalam artian bahwa peserta didik mengkonstruk pengetahuannya sendiri melalui pengalaman lansung dalam proses pembelajaran dari pada menguasai setumpuk konsep yang belum tentu dimengerti dan diperlukan mereka. Olehkarenanya penilaian proses pembelajaran dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinabungan. Adapun aspek-aspek utama yang harus selalu diamati pendidik antara lain adalah, seberapa besar dan dalam tingkat keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran yang sedang berlansung, tingkat keaktifan dan kreaktifitas peserta didik dalam mengkonstruk pengetahuaannya melalui pengalamannya dalam proses pembelajaran, disamping motivasi dan ketekunannya mengikuti proses pembelajaran.

Penilaian hasil belajar yang memiliki kesesuaian dengan pembelajaran tematik adalah autentic assesment dalam bentuk penilaian kinerja dan portofolio ketimbang dalam bentuk penilaian konvensional yang mengunakan instrumen test tertulis atau lisan. Karena peserta didik akan mengkonstruk pengetahuannya sendiri sesuai dengan tingkat perkembangan dan skemata yang telah mereka miliki.

F.PENUTUP.

Persoalan yang paling serius yang dihadapi oleh dunia pendidikan kita dewasa ini adalah persoalan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Belum standarnya kompetensi yang dimiliki banyak guru, rendahnya tingkat profesionalitas, rendahnya motivasi kerja, ketidak mampuan guru mengabgret dirinya, dan belum bangganya seorang guru memiliki profesi guru. Banyak hal yang telah dilakukan pemerintah, seperti: sertifikasi guru, pendidikan dan pelatihan dan melahirkan UU guru dan dosen, tetapi semuanya hilang bak ditelan malam.

Dilain pihak guru adalah orang yang berada dilini terdepan dalam proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Sebagus apapun kurikulum, selengkap apapun fasilitas, jika berada ditangan guru yang tidak profesional tidak akan bermakna apa-apa.

Stephen.R.Covey (2005) mengatakan, antara rangsangan dan tanggapan terdapat sebuah ruang. Diruang itu terdapat kebebasan dan kemampuan kita untuk memilih tanggapan. Dalam pilihan-pilihan kita terdapat perkembangan dan kebahagian kita. Apabila kita mendasari pilihan dengan warisan kebiasaan dan keberhasilan masa lalu, maka ia akan mempersempit ruang yang ada, karena kondisi kekinian bergerak jauh lebih cepat dari apa yang kita pikirkan.

Apabila hari ini kita ditentukan oleh masa lalu, apakah masa depan kita masih akan ditentukan oleh masa lalu ?. Wilayah cakupan apa yang kita pikirkan dan kita kerjakan dibatasi oleh apa yang tidak kita ketahui. Dan karena itu tidak berhasil mengetahui apa-apa yang tidak berhasil kita ketahui, hanya sedikit hal yang dapat kita lakukan terhadap perubahan; sampai kita mengetahui bagaimana kegagalan untuk mengetahui itu membentuk pikiran dan perbuatan kita.

Peningkatan mutu pendidikan harus kita mulai hari ini dan dari diri kita sendiri, kalau tidak kita akan digilas oleh pikiran dan angan-angan kita sendiri, dan ia akan makin jauh meninggalkan kita, tampa mungkin kita kejar hanya dengan merenung dan berangan-angan. Mari kita berbuat dan berbuat sebagai warisan untuk anak-cucu kita kelak dikemudian hari

Padang, ..Juli 2009.

Wassalam

Taufik Sabirin.

KEPUSTAKAAN

Abdullah, Solichan. 2000, Aritmatika Sosial ( Paket Makalah Penataran ) Yongyakarta : PPPG Matematik.

Fogarty, R . 1991 Constructing Knowledge Together Classroom as Center of Inquiry and Literacy, Portsmonth, NH: Heineman.

……………., 1991 How to Integrate The Curricula. Palatine, Illinois: IRI/Skylight Publishing. Inc.

Hadisubroto, Tisno. 1998, Buku Matri Pokok Pembelajaran Terpadu Modul 1 sampai dengan 6. Jakarta : Universitas Terbuka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Jacobs. H. 1989. Interdiciplinary Curriculum : Design and Implementation. Alexandria: VA.

Olivia, P.F. 1997 Developing the Curriculum. Third Edition. New York, NY : Harper Collins Publisher, Inc.

Sanjaya, 2006 Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Indonesia.

Sukayati. 1998. Pembelajaran terpadu ( Ringkasan dan Refleksi ) Makalah tidak dipublikasikan , Malang. Program Pasca Sarjana IKIP Malang.

Suparno, P. 2007. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Tim Pembang PGSD .1997. Pembelajaran Terpadu D-II PGSD dan S-2 Pendidikan Dasar. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Posted by: taufiksabirin | June 19, 2009

PEMBELAJARAN KONTEKTUAL

PEMBELAJARAN KONTEKTUAL

( CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)

( CTL )

Taufik Sabirin

Guru SMA Negeri 1 Batang Anai

Kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat.

A. PENDAHULUAN

Ada kecendrungan pemikiran dewasa ini bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, seperti keberhasilan dalam menyelesaikan ujian dan memenangkan lomba cerdas cermat, yang hanya membutuhkan pengetahuan sesaat. Tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan kehidupan jangka panjang. Anak tidak mampu mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh dibangku sekolah kedalam dunia nyata pada kehidupan kesehariaanya.

Pembelajaran Kontektual ( Contextual Teaching and Learning / CTL ) merupakan suatu konsep yang membantu pendidik mengaitkan content/materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik membangun hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan kesehariaanya sebagai anggota keluarga, masyarakat, warga negara dan dunia kerja. ( US Departement of educational and national school-to-work office yang dikutip oleh Muhd. Nur. 2001).

Pembelajaran Kontektual ( CTL ) adalah pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk mengaitkan, memperluas dan menerapkan pengetahuan serta keterampilkan mereka dalam berbaqgai macam tatanan kehidupan di sekolah dan di luar sekolah, untuk memecahkan masalah-masalah dunia nyata dan masalah-masalah yang disimulasikan.

Dengan pembelajaran kontektual ini, hasil pembelajaran diharapkan akan lebih menyenangkan dan bermakna oleh peserta didik, dan tugas guru mengelola kelas, mendorong dan memfasilitasi peserta didik untuk menemukan sesuatu bagi anggota kelas. Dalam pembelajaran peserta didik lebih banyak aktif dan lebih bebas berkreasi mengemukan ide dan pendapat sehingga diperoleh pengetahuan dan keterampilan dari menemukan bukan dari apa kata guru.

B. PEMIKIRAN TENTANG BELAJAR.

Berbagai pemikiran tentang belajar telah dikemukakan oleh para pemikir dan ahli pembelajaran dari masa lalu sampai hari ini, kesemuanya mencari jalan bagai mana pembelajaran itu lebih bermakna. Ada beberapa konsep pembelajaran yang sudah sangat dikenal oleh pendidik dan pakar pendidikan seperti :

  1. Teori Belajar Jerome Bruner.

Teori belajar J. Bruner dikenal dengan teori belajar penemuan. Belajar penemuan merupakan usaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, sehingga mendapatkan pengetahuan yang benar-benar bermakna bagi dirinya. ( Psikologi Pendidikan Wasty Soemanto : 123 ).

  1. Teori Belajar Ausubel

Belajar menurut Ausubel adalah belajar bermakna. Belajar bermakna adalah proses pengaitan informasi baru dengan konsep-konsep relevan yang telah dimiliki peserta didik yang tersimpan dalam memori mereka.

  1. Teori Belajar Piaget.

Menurut Piaget ada tiga bentuk pengetahuan pada seseorang, yaitu pengetahuan fisik, logika-matematika, dan pengetahuan social. Pengetahuan social dapat ditransfer dari pendidik ke peserta didik, sedangkan pengetahuan fisik dan logika-matematik harus dibangun sendiri oleh peserta didik tersebut. ( Psikologi Pendidikan, Wasty Soemanto : 123 ).

Kesimpulan yang dapat ditarik dari tiga konsep pembelajaran di atas bahwa pendekatan Contextual Teaching and Learning ( CTL ), bukanlah konsep baru melainkan merupakan Re-invention ( modifikasi ) dari berbagai teori belajar yang sudah ada. Teori belajar ini dapat diterapkan berdasarkan penemuan yang bermakna baik dari transfer orang lain atau yang dibangun oleh peserta didik sendiri.

Pendekatan Contextual Teaching and Learning mendasarkan diri pada kecendrungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut :

1). Proses Belajar .

  • Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Peserta didik harus mengkonstruk pengetahuannya sendiri.
  • Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, bukan diberi begitu saja oleh guru.
  • Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang suatu persoalan.
  • Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisah menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
  • Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
  • Peserta didik perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
  • Proses belajar dapat merubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang.

2). Transfer Belajar.

  • Peserta didik belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain.
  • Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dalam kontek yang terbatas (sedikit demi sedikit).
  • Penting bagi peserta didik tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu.

3). Peserta Didik Sebagai Pebelajar.

  • Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru.
  • Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting.
  • Peran orang dewasa ( pendidik ) membantu menghubungkan yang baru dengan yang sudah diketahui.
  • Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan dan menerapkan strategi mereka sendiri.

4). Pentingnya Lingkungan Belajar.

  • Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada peserta didik. Pendidik memfasilitasi dan mengarahkan peserta didik bekerja dan menemukan.
  • Pembelajaran diarahkan pada bagaimana cara peserta didik menggunakan pengetahuan yang telah ada untuk menemukan pengetahuan baru. Stategi pembelajaran ini memberikan penilaian yang sama tentang proses penemuan pengetahuan baru dangan hasil temuan itu sendiri.
  • Umpan balik amat penting bagi peserta didik, dari proses penilaian yang benar dan menyeluruh.
  • Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.

C. HAKEKAT PEMBELAJARAN KONTEKTUAL

Menurut Branford ( 1999 :127 ) pembelajaran kontektual adalah: pembelajaran yang terjadi dalam hubungan erat dengan pengalaman yang sesungguhnya. Pembelajaran kontektual menekankan berfikir pada tingkat yang lebih tinggi, tranfer pengetahuan lintas disiplin, serta mengumpulkan, menganalisis, dan pensistesissan informasi dari berbagai sumber dan sudut pandang.

Pembelajaran kontektual adalah sebuah konsep pembelajaran yang mengaitkan atau menselaraskan antara content ( materi ajar ) dengan situasi dunia nyata peserta didik ( pengalaman awal, kehidupan sehari-hari, harapan dan cita-cita ) dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dengan penerapan dalam hidup keseharian.

Departemen Pendidikan Nasional ( Pendekatan kontektual : 5 ) menjelaskan konsep pembelajaran seperti ini hanya dapat direalisasikan dengan melibatkan 7 komponen utama pembelajaran efektif yakni :

  1. Constructivism ( konstruktivisme ).
  2. Quetioning ( bertanya )
  3. Inquery ( menemukan ).
  4. Learning Community ( masyarakat belajar ).
  5. Modelling ( pemodelan ).
  6. Reflection ( refleksi ).
  7. Autentics Asessments ( penilaian sebenarnya ).

Constructivism ( konstruktivisme ).

Konstruktivisme merupakan landasan berfikir ( filosofi ) pendekatan Contextual Teaching and Learning. Pengetahuan dibangun oleh peserta didik sedikit demi sedikit, lalu hasilnya diperluas melalui kontek yang terbatas. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep ataupun kaedah yang siap untuk diambil dan ditrasfer. Peserta didik harus mengkonstruk sendiri pengetahuannya dan dimaknai melalui pengalaman nyata.

Pandangan Behavioristic dan objektivistic penekananya lebih pada hasil belajar, sedangkan constructivistic memandang proses dan strategi memperoleh pengetahuan dan keteampilan lebih diutamankan dari banyaknya peserta didik mengingat dan memperoleh pengetahuan jadi. Oleh karena itu peran pendidik lebih diutamakan untuk memfasilitasi dan memberikan kesempatan kepada peserta didik guna menemukan dan mengkonstruk pengetahuan dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

Questioning ( bertanya ).

Bertanya merupakan strategi utama dari pembelajaran yang berbasiskan CTL. Bertanya dalam proses pembelajaran dipandang sebagai kegiatan pendidik untuk mendorong, membimbing, mengarahkan dan menilai kemampuan berfikir peserta didik. Bagi peserta didik bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan proses pembelajaran disaat mengekplorasi dan meeloborasi materi ajar yang sedang dibahas.

Demikian juga dengan pembelajaran yang berbasis inquery bertanya memegang peran yang sangat penting dalam menggali informasi, mengkonfirmasi apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek-aspek yang belum diketahui.

Inquery ( menemukan )

Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontektual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik bukan merupakan hasil mengingat seperangkat konsep dan fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri konsep dan fakta tersebut. Pendidik harus merancang kegiatan pembelajaran yang merujuk pada kegiatan menemukan dan mengkonstruk pengetahuan baru.

Temuan itu mereka peroleh dari pengalaman belajar yang dirancang pendidik dengan menggunakan siklus inquery, yakni :

  1. Observation ( observasi ).
  2. Questioning ( bertanya ).
  3. Hipotesis ( mengajukan dugaan ).
  4. Data Gethering ( mengumpulkan data ).
  5. Conclussion ( penyimpulan ).

Learning Community ( masyarakat belajar ).

Dalam konsep Learning Commonity, hasil belajar akan lebih bermakna apabila diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharring dengan teman, antara kelompok, dan antra yang tahu dengan yang belum tahu, baik diruang kelas maupun diluar kelas.

Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada komunikasi dua arah. Dalam masyarakat belajar antara dua orang atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran, saling belajar. Seseorang yang terlibat dalam masyarakat belajar memberikan informasi yang dibutuhkan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang ia perlukan dari teman belajarnya.

Modelling ( pemodelan ).

Konsep pemodelan dalam pembelajaran adalah adanya model yang bisa ditiru dalam memahami pengetahuan dan keterampilan tertentu. Model dibutuhkan dalam mengoperasikan sesuatu, dalam mengerjakan sesuatu, dalam melafazkan ucapan atau bacaan tertentu. Guru bukanlah satu-satunya model, siswa atau tenaga dari luar dapat dijadikan model dalam proses pembelajaran.

Jika menggunakan model dari laur perlu menjadikan perhatian kemahiran, populeritas dan aspek-aspek lainnya yang menjadi perhatian peserta didik, karena model tersebut akan dijadikan standar kompetensi yang harus dikuasai peserta didik .

Reflection ( refleksi )

Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. Peserta didik mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru ( skemata baru ) yang merupakan pengayaan atau revisi atau menganti sama sekali pengetahuan sebelumnya.

Refleksi merupan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang diterima. Misalnya : ketika proses pembelajaran berakhir Amir salah seorang peserta didik merenung, kalau begitu cara bapak saya mengeluarkan zakat selama ini kurang tepat, mestinya apa bila bapak saya mengeluarkan zakat dengan cara yang baru saya diskusikan dalam proses pembelajaran ini, tentu jumlah fkir-miskin di kampung saya sudah jauh berkurang”.

Pengetahuan yang bermakna diperoleh melalui proses pembelajaran apa bila peserta didik mengalami lansung kejadian yang sebenarnya, atau situasi yang disimulasi oleh pendidik seperti keadaan yang sesungguhnya. Pengetahuan itu yang dimiliki akan diperluas oleh peserta didik sedikit-demi sedikit sesuai dengan kontek. Guru membantu peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan begitu peserta didik merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya dari apa yang baru ia pelajari.

Authentics Assesment ( penilai yang sebenarnya )

Assesment adalah proses pengumpulan data dan informasi yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar peserta didik. Data dan informasi yang dikumpulkan tersebut diperoleh dari kegiatan nyata yang dilkukan peserta didik dalam proses pembelajaran baik di dalam ataupun diluar kelas. Inilah yang disebut data authentics.

Pendekatan kontektual penekanan penilaiannya ada pada proses bukan banyaknya hasil yang diperoleh akhir kegiatan pembelajaran. Pendekatan kontektual penekanan penilaiannya pada proses bukan banyaknya hasil yang diperoleh pada akhir priode pembelajaran. Pendekatan kontektual adalah upaya membantu peserta didik agar mampu mempelajari ( learning how to learn), dan juga bukan dimaknai bahwa hasil belajar tidak perlu, tetapi proses memperoleh hasil, berbanding sejajar dengan hasil yang diperoleh.

D. MENYUSUN RENCANA PEMBELAJAR AN BERBASIS KONTEKTUAL.

Rancangan program pembelajaran berbasis kontektual, adalah merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang pendidik , yang berisikan skenaryo tahap demi tahapan tetang apa yang akan dialami peserta didik dalam proses pembelajaran tema/topic yang akan dipelajari. Dalam program tercermin, identitas, standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai, indicator ketercapaian, tujuan pembelajaran, materi esensial, pendekatan, metoda dan teknik yang digunakan, langkah-langkah kegiatan, sumber belajar, media dan alat bantu belajar, dan system penilaian proses dan hasil belajar.

Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format, antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontektual. Sekali lagi yang berbeda hanya penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai ( jelas dan operasional ), sedangkan program pembelajaran yang berbasis kontektual lebih menekankan pada skenaryo pembelajaran.

Langkah-langkah kerja pendidik dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP ) berbasis kontektual adalah sebagai berikut : 

  1. Menganalisis standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD).
  2. Merumuskan indicator pencapaian kompetensi.
  3. Menetapkan tujuan pembelajaran.
  4. Memilih materi esensial yang menjembatani pencapaian kompetensi.
  5. Menetapkan pendekatan, metoda dan teknik pembelajaran yang akan digunakan.
  6. Menetapkan sumber belajar, media dan alat bantu belajar yang akan digunakan.
  7. Menentukan langkah-langkah kegiatan dalam proses pembelajaran.
  8. Merancang sistem penilaian proses dan hasil belajar.
  9. Merumuskan instumen penilaian yang akan digunakan.

E. PENUTUP.

Persoalan yang paling serius yang dihadapi oleh dunia pendidikan kita dewasa ini adalah persoalan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Belum standarnya kompetensi guru, rendahnya tingkat profesionalitas, rendahnya motivasi kerja, ketidak mampuan guru mengabgret dirinya, dan belum bangganya seorang guru memiliki profesi guru. Banyak hal yang telah dilakukan pemerintah, seperti: sertifikasi guru, pendidikan dan pelatihan dan melahirkan UU guru dan dosen, tetapi semuanya hilang bak ditelan malam.

Dilain pihak guru adalah orang yang berada dilini terdepan dalam proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Sebagus apapun kurikulum, selengkap apapun fasilitas, jika berada ditangan guru yang tidak profesional tidak akan bermakna apa-apa.

Stephen.R.Covey (2005) mengatakan, antara rangsangan dan tanggapan terdapat sebuah ruang. Diruang itu terdapat kebebasan dan kemampuan kita untuk memilih tanggapan. Dalam pilihan-pilihan kita terdapat perkembangan dan kebahagian kita. Apabila kita mendasari pilihan dengan warisan kebiasaan dan keberhasilan masa lalu, maka ia akan mempersempit ruang yang ada, karena kondisi kekinian bergerak jauh lebih cepat dari apa yang kita pikirkan.

Apabila hari ini kita ditentukan oleh masa lalu, apakah masa depan kita masih akan ditentukan oleh masa lalu ?. Wilayah cakupan apa yang kita pikirkan dan kita kerjakan dibatasi oleh apa yang tidak kita ketahui. Dan karena itu tidak berhasil mengetahui apa-apa yang tidak berhasil kita ketahui, hanya sedikit hal yang dapat kita lakukan terhadap perubahan; sampai kita mengetahui bagaimana kegagalan untuk mengetahui itu membentuk pikiran dan perbuatan kita.

Peningkatan mutu pendidikan harus kita mulai hari ini dan dari diri kita sendiri, kalau tidak kita akan digilas oleh pikiran dan angan-angan kita sendiri, dan ia akan makin jauh meninggalkan kita, tampa mungkin kita kejar hanya dengan merenung dan berangan-angan. Mari kita berbuat dan berbuat sebagai warisan untuk anak-cucu kita kelak dikemudian hari

Posted by: taufiksabirin | May 14, 2009

PENGHITUNGAN BEBAN KERJA GURU

MEMAKNAI BERBAGAI ATURAN TENTANG

PENGHITUNGAN BEBAN KERJA GURU

Oleh : Drs. Taufik Sabirin, M.Pd.

Guru SMA. N. 1 Batang Anai Kab. Padang Pariaman.

Sumatera Barat.

PENDAHULUAN

Guru professional dan bermatabat akan melahirkan anak-anak bangsa yang beriman, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreaktif, mandiri, sehat lahir dan batin, serta menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Guru merupakan orang yang berada pada lini terdepan dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran disekolah. Oleh karenanya selengkap apapun fasilitas dan sebagaus apapun kurikulum tidak akan bermakna apa-apa apabila berada ditangan guru yang tidak profesional.

Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen secara inplisit telah menggambarkan tentang beban kerja guru dengan mempertimbangkan beberapa tugas guru di sekolah selain tugas utamanya sebagai pengajar dan pendidik. Hal yang masih bersifat umum pada Undang-undang nomor 14 tahun 2005 dirinci oleh Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru pada Bab IV dan V sebanyak 6 pasal dari pasal 52 sampai dengan pasal 57.

Untuk pengaplikasiannya dilapangan Menteri Pendidikan Nasional mengeluarkan beberapa peraturan Menteri diantaranya Permen Diknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses dan Permen Diknas Nomor 20 tahun 2007 tetang Standar Penilaian Pendidikan. Kemudian Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan ( PMPTK ) pada tahun 2008 mengeluarkan Panduan Penghitungan beban Kerja Guru.

Walaupun sedah sedemikian banyak dasar yuridis sebagai panduan untuk menetapkan beban kerja guru, realitasnya dilapangan mereka yang berkewenanangan mengambil kebijakan tetap gamang untuk menetapkan beban kerja guru sebagai tenaga profesional yang secara ekplisit dijelaskan oleh Undang-undang nomor 14 tahun 2005. Kepala Sekolah, Pengawas Pendidikan dan Kepala Dinas Kabupaten/Kota sebagai pejabat yang memiliki kewenangan untuk mengambil kebijakan belum mampu berbuat banyak, sehingga beban kerja guru yang telah disempurnakan dalam rangka upaya peningkatan mutu pendidikan secara nasional di era reformasi ini berjalan terseok-seok.

Kalaulah semua guru dibebani mengajar minimal 24 jam perminggu pada mata pelajaran yang diampunya dikelas, maka guru akan kehilangannya fungsinya sebagai pembimbing dan pendidik . Kepala sekolah tidak dapat memaksa guru untuk mengerjakan tugas lain seperti : wali kelas, pembimbing Osis, piket PBM, pembimbing ekskul dan lain sebagainya, karena guru telah melaksanakan tugas minimal 24 jam perminggu sebagai persyaratan guru profesional. Jika hal ini benar-benar terjadi maka upaya peningkatan mutu pendidikan hanya tinggal mimpi.

PENETAPAN BEBAN KERJA GURU

  1. Jam kerja guru.

Sebagai Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) jam kerja guru sama dengan pegawai lainnya yakni 37,5 (tiga puluh tujuh setengah) jam perminggu dengan durasi satu jam 60 menit. Sebagai tenaga profesional jam kerja guru ditetapkan 24 ( dua puluh empat ) jam tatap muka perminggu dengan durasi berbeda untuk setiap satuan pendidikan. Untuk pendidik di Sekolah Dasar ( SD ) durasinya 35 menit perjam tatap muka, Untuk Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) durasinya 40 menit perjam tatap muka, untuk Sekolah Menengah Atas ( SMA ) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) durasinya 45 menit perjam tatap muka.

24 jam tatap muka jam kerja guru profesional ini dinilai setara dengan 37,5 jam kerja pegawai negeri sipil lainnya. Hal ini disebabkan banyaknya kerja guru sebagai tenaga profesional yang harus dikerjakan guru diluar 24 jam tatap muka tersebut, yang durasinya tidak dapat diperhitungkan dan akan berbeda untuk setiap guru. Diantara tugas guru yang harus dikerjakan guru profesional diluar jam kerja 24 jam tatap muka tersebut antara lain adalah :

a. Mempersiapkan perangkat pembelajaran seperti: menganalisis SKL, SK dan KD, menganalisa waktu efektif, mengembangkan silabus, membuat RPP, merancang sistem evaluasi, mempersiapkan instrumen penilaian dan sebagainya.

b. Mempersiapkan kegiatan awal sebelum tatap muka di kelas dilaksanakan, seperti : mempersiapkan fisik kelas, menyiapkan alat bantu pembelajaran, menyiapkan media pembelajaran, menyiapkan sumber belajar dan menyiapkan bahan ajar.

c. Membuat resume proses pembelajaran sebagai masukan untuk revisi program pembelajaran berikutnya.

d. Memeriksa hasil ulangan dan tugas-tugas dalam proses, tugas terstruktur dan tidak terstruktur.

e. Merancang program remedial dan enrichment.

f. Melaksanakan program remedial dan enrichment.

g. Memeriksa dan menilai hasil remedial dan enrichment.

h. Melaksanakan penilaian sikap.

i. Memeriksa hasil karya (khusus untuk mata pelajaran produktif di SMK)

Implikasi dari tugas-tugas ini apa bila tidak dilaksanakan guru berarti guru tersebut belum memenuhi tugasnya sebagai pegawai negeri sipil. Kepala sekolah sebagai atasan lansung harus memberikan pengawasan, memberikan teguran dan atau memberikan hukuman bagi guru yang tidak melaksanakannya.

  1. Pengertian istilah Tatap Muka.

Tatap Muka disini bukan dimaksudkan untuk melambangkan kegiatan guru mengajar dikelas. Istilah tatap muka digunakan untuk melambangkan satuan penghitungan beban kerja guru tertang pelaksanaan pembelajaran. (lihat penjelasan pasal 52 huruf ayat 2 PP 74 tahun 2008 tetang guru).

  1. Beban kerja guru 24 jam tatap muka.

Beban kerja guru minimal 24 jam tatap muka maksimal 40 jam tatap muka dalam satu minggu pada satu satuan pendidikan atau lebih. Cakupan beban kerja tersebut adalah:

    1. Merencanakan pembelajaran.
    2. Melaksanakan pembelajaran.
    3. Menilai proses dan hasil belajar( a,b,dan c unsur pokok kegiatan guru dalam mengampu mata pelajarannya).
    4. Melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan kerja pokok guru.
    5. Membimbing dan melatih peserta didik. ( PP 74 tahun 2008 Bab IV pasal 52 ayat 1)

  1. Tugas Tambahan.

Tugas tambahan adalah semua bentuk tugas dan kegiatan yang menunjang dan melekat dengan kerja pokok pendidik yakni: mengajar, membimbing, melatih dan mendidik peserta didik . Dalam penjelasan PP 74 pasal 52 ayat 1 huruf e dicontohkan seperti: menjadi Pembina pramuka, membimbing kegiatan ilmiah remaja dan guru piket harian sekolah.

Dalam Pedoman Penghitungan Beban Kerja guru yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenjeral Peningatan Mutu Pendidik dan tanaga Kependidikan ( PMPTK ) dijelaskan sebagai berikut :

Kategori

Jenis Tugas

Tambahan

Wajib

Mengajar*

Ekuivalensi

Jabatan

Struktural

1. Kepala Sekolah

2. Wakasek

3. Kep. Pustaka

4. Kep. Labor

5. Ketua Jurusan

Prog. Keahlian

6. Kep. Bengkel.

7. Dll **

6

12

12

12

12

12

18

18

12

12

12

12

12

6

Khusus

1. Pem. Praktek

Kerja Industri

2. Kep. Unit Prodks

12

12

12

12

1. * nilai minimal

2. ** Tergantung Jenis sekolah.

Dalam penjelasan PMPTK di atas penekanan diberikan kepada wajib mengajar minimal bukan ekuivalensi jabatan, dengan dimikian dapat dimaknai bahwa ekuivalensi jabatan kepala sekolah tersebut tidak harus 18 jam tatap muka. Ekuilvalensi jabatan kepala sekolah sangat tergantung dengan jobdis dan volume beban tugasnya. Contoh : satuan pendidikan baru yang hanya ada kelas 1 sebanyak 3 rombel tidak mungkin sama volume tugas dan tanggung jawabnya dengan sekolah lama yang berstadar internasional ( SBI ) yang memiliki 24 rombel.

Berdasarkan gambaran di atas tentu untuk bidang tugas tambahan yang lainnya seperti wakasek, kep. Labor, pembina osis, piket PBM juga akan berlaku hal yang sama. Jenis job yang dibutuhkan oleh satu satuan pendidikan dengan satuan pendidikan yang lainnya juga akan berbeda sesuai dengan kebutuhan. Maka untuk memecahkan masalah tersebut setiap satuan pendidikan harus merumuskan Sturktur Organisasi Tata Kerja ( SOTK ) sekolah mereka masing-masing. Setiap job yang ada dalam SOTK sekolah tersebut dirumuskan jobdisnya.

Setelah jobdis masing-masing bidang tugas tambahan tersebut dirumuskan, barulah dapat ditetapkan ekuivalensi jabatan dengan jam tatap muka. Sebagai pedoman untuk menetapkan ekuivalensi masing-masing bidang tugas tambahan tersebut diperbandingkan dengan jobdis wakasek yang merupakan beban tugas terbanyak dan komplit yang telah ada angka pasti ekuivalensi jabatannya diatur dalam PP 74 tahun 2008 Bab IV pasal 52 sampai dengan 54.

  1. Membimbing dan Melatih Peserta didik.

Disamping mengajar ada tiga tugas pokok guru lainnya, yakni: membimbing, melatih dan mendidik peserta didik. Dalam kurikulum KTSP ketiga tugas pokok itu diwadahi oleh salah satu dimensi yang termuat dalam kurikulum yang dinamakan pengembangan diri. Sasaran dari kegiatan pengembangan diri ini adalah pembentukan sikap dan kepribadian peserta didik, mengembangkan life skill dan melatih keterampilan serta mengembangkan kopetensi tertentu, seperti membimbing kelompok olimpiade, membimbing kegiatan kelompok karya ilmiah remaja, membimbing kegiatan olahraga berprestasi, kesenian berprestasi dan lain sebagainya.

Kegiatan ini baru bernilai sama dengan kegiatan pembelajaran di kelas apabila memenuhi beberapa unsur tertentu antara lain :

a. Ada perencanaan yang jelas mulai dari kompetensi yang harus dikuasai peserta bimbingan, program pelaksanaanya dalam satu semester , jumlah kali pertemuannya.

b. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan bimbingannya.

c. Sistem penilaiannya.

d. Kelompok pesertanya setara dengan jumlah peserta didik dalam satu rombel ( 32 orang ). Hal ini dapat dilihat dalam Panduan Penghitungan Beban Kerja Guru yang dikeluarkan oleh PMPTK pada halaman 9.

  1. Apabila di satu satuan pendidikan ada guru yang tidak dapat memenuhi kewajiban beban kerja minimalnya disebabkan karena: jumlah rombel yang kecil, sedikitnya jumlah jam pelajaran yang ditentukan kerikulum, jumlah guru yang melebihi kebutuhan, atau memang satuan pendidikan itu berada didaerah terpencil dan sekolah khusus. Hal ini dapat ditanggulangi dengan beberapa cara antara lain :

    1. Mengajar disekolah lain baik negeri atuapun swasta yang telah memiliki izin dari pemerintah.
    2. Menjadi pamong di sekolah terbuka.
    3. Menjadi tutor pada program kelompok belajar paker A, paket B atau paket C.
    4. Melaksanakan Konsep Pengajaran Team Teaching.
    5. Melaksanakan Pengayaan dan Remedial Khusus.

PENUTUP

Untuk dapat memahami amanat yang terkandung pada sebuah aturan tidak dapat aturan tersebut dilihat sebagai aturan yang berdiri sendiri, ia memiliki keterkaitan dengan aturan sebelumnya dan aturan lain yang setara dengannya. Kemampuan mengelaborasi semua aturan yang terkait dengan aturan tersebut merupakan keahlian tersendiri dan kemampuan ini harus dimiliki oleh setiap orang yang memiliki kewenangan untuk mengambil kebijakan.

Terkait dengan penetapan beban kerja guru yang telah dirancang sedemikian rupa oleh pembuat aturan, apabila orang-orang yang memiliki kewenangan mengambil kebijakan ditataran operasional terlambat mengaplikasikannya maka peningkatan mutu pendidikan yang didengungkan oleh semua pihak tinggal akan menjadi angan semata.

Kiranya oret-oretan ini dapat menjadi masukan untuk semua pihak yang berkepentingan.

Padang, Mei 2009.

Drs. Taufik Sabirin, M.Pd.

Posted by: taufiksabirin | April 5, 2009

RPP TEAM TEACHING

RPP TEAM TEACHING

rpp team teaching ini  berbeda dengan rpp biasa terutama dalam kegiatan pembelajarannya.  Setiap anggota tim  harus  memiliki peran yang jelas dalam kegiatan. Antara anggot tim merupakan mitra setara.

selengkapnya klik disini

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.